oleh

Menteri Basuki Resmikan Perpustakaan Apung Pertama di Indonesia

Semarang, BatakToday –

Setelah menjalani proses konstruksi kurang dari satu tahun, akhirnya balai warga sekaligus bangunan perpustakaan apung pertama di Indonesia yang berlokasi di Tambaklorok, Semarang, Jawa Tengah diresmikan oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Jumat (25/11/2016).

Menteri Basuki mengatakan bahwa pembangunan balai pertemuan warga dan perpustakaan terapung Tambaklorok ini merupakan langkah yang tepat untuk meningkatkan inovasi di bidang pembangunan infrastruktur yang memanfaatkan segala keunggulan yang dimiliki.

Basuki berharap, perpustakaan terapung Tambaklorok akan menjadi etalase atau percontohan untuk bangunan-bangunan apung lainnya di Indonesia.

“Apalagi kami mengetahui bahwa lokasi Tambaklorok rentan dengan penurunan tanah atau land subsidance yang cukup tinggi 10-13 cm per tahun sehingga inovasi ini diharapkan dapat meminimalisasi problematika tersebut” tutur Basuki.

Menteri Basuki menjelaskan, teknologi apung sebetulnya sudah banyak digunakan sejak lama untuk pembangunan dermaga-dermaga di Kalimantan, tetapi belum terpikirkan menerapkannya untuk tempat hunian.

“Karena rumah bebannya berat, tetapi ternyata tadi 1 meter persegi bisa menahan beban sampai 800 kilogram. Jadi, dengan teknologi ini bisa dibuat dua lantai,” katanya.

Ia memastikan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat akan terus mendorong penerapan budaya inovatif dalam aktivitas perkantoran sehari-hari. Adanya inovasi akan memunculkan ide-ide baru serta memberikan penyegaran bagi Kementerian dalam memberikan pelayanan infrastuktur. Inovasi juga akan dapat menjadi solusi untuk berbagai permasalahan di bidang infrastruktur.

Inovasi hunian apung yang dikembangkan oleh Balitbang PUPR ini memiliki konsep bangunan ramah lingkungan, mandiri dalam kebutuhan energi, dan tidak mencemari lingkungan. Dari aspek fungsi, rumah baca dan balai pertemuan warga terapung Tambaklorok ini dirancang dengan konsep menyatukan kebutuhan pertemuan warga, perpustakaan hingga penyampaian informasi pemerintahan di kawasan tersebut.

Balai pertemuan warga dan perpustakaan terapung Tambaklorok dibangun di atas ponton (wahana apung) berukuran 10mx14m dengan bahan stereofoam dan beton. Bangunan ini juga dilengkapi self energy dengan menggunakan solar panel. Selain itu. untuk memenuhi kebutuhan air bersih dalam bangunan ini juga dipasang destilator yang dapat mengubah air laut menjadi air bersih. Sedangkan untuk pembuangan menggunakan Biofil yang merupakan teknologi Balitbang.

Melalui inovasi di bidang teknologi hunian apung ini, kondisi di kawasan seperti Tambaklorok yang mengalami penurunan permukaan tanah (land subsidence) dan menjadi langganan banjir rob, diharapkan jadi model penataan hunian di kawasan untuk mengatasi masalah tersebut.

Dari segi fungsi, lantai 1 bangunan apung ini akan digunakan untuk balai warga, yaitu seluas 128 m² dan kamar mandi seluas 6 m². Sedangkan lantai 2 digunakan untuk perpustakaan dengan luas 72 m². Perpustakaan apung ini sudah dilengkapi 300 buku untuk anak-anak dan remaja.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (kanan) saat meninjau bangunan perpustakaan apung Tambaklorok, Jumat (25/11/2016). (foto: beritajateng.net)
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (kanan) saat meninjau bangunan perpustakaan apung Tambaklorok, Jumat (25/11/2016). (foto: beritajateng.net)

Kepala Badan Litbang PUPR Danis H Sumadilaga mengungkapkan bahwa pihaknya memiliki cita-cita besar untuk mengoptimalkan perairan menjadi bagian dari infrastruktur, yaitu dengan cara memanfaatkan gaya apung air. Balai warga dan perpustakaan terapung yang terletak di Tambaklorok, Semarang, Jawa Tengah merupakan hasil riset dan sinergi bersama di Balitbang dengan melibatkan peneliti-peneliti di bidang sumber daya air, jalan dan jembatan, perumahan dan permukiman, serta kebijakan dan penerapan.

Lebih lanjut dijelaskan, balai warga dan perpustakaan terapung Tambaklorok dibangun berdasarkan kebutuhan masyarakat (user need) dan sebagai langkah awal untuk mewujudkan kampung bahari atau kampung maritim di pesisir utara Semarang yang selama ini mengalami deformasi tanah yang cukup signifikan.

Danis menegaskan, inovasi di bidang teknologi infrastruktur harus dapat menjadi solusi dari permasalahan yang ada. Dengan dibangunnya balai pertemuan warga dan perpustakaan terapung Tambaklorok, diharapkan dapat menjadi wadah pengenalan untuk masyarakat pada hunian terapung. Kedepannya, inovasi hunian apung ini juga bisa diterapkan dan ditata juga sebagai permukiman terapung warga sebagai solusi penurunan muka tanah dan banjir rob di kawasan ini.

Menurut Danis, Indonesia memiliki wilayah yang 2/3 bagiannya merupakan perairan. Kondisi tersebut dapat menjadi peluang pengembangan teknologi yang memanfaatkan ruang perairan.

Teknologi apung yang dikembangkan oleh Balitbang Kementerian PUPR disebut dengan Sistem Modular Wahana Apung (Simowa). Selain pada balai pertemuan warga dan perpustakaan terapung Tambaklorok, teknologi Simowa juga telah diterapkan pada pembangunan pemecah gelombang apung di Candidasa Bali dan jembatan apung Cilacap yang akan diresmikan dalam waktu dekat. (marc/rel)

News Feed