oleh

Menuju Siantar-1 Mulai Berdenyut, Alpeda Sinaga Bersiap Diri

Pematangsiantar, BatakToday
Meskipun Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Pematangsiantar yang akan datang belum pasti jadwal penyelenggaraannya, namun dalam acara Ngobrol Santai Soal Siantar, terungkap niat Alpeda Sinaga, salah satu ‘anak rantau’ asal Siantar, untuk memulai langkah menuju Siantar-1, atau Walikota Pematangsiantar pada periode yang akan datang, Grand Palm Hotel, Jalan Kapten MH Sitorus No. 15, Sabtu pagi (9/2/2019).
Alpeda Sinaga, kelahiran Sidamanik tahun 1969, menyebutkan telah mengenal Kota Siantar sejak tahun 1975, ketika keluarganya berjualan nenas di Pasar Dwikora. Kemudian tinggal dan menyelesaikan pendidikan menengah di SMP Negeri 3 dan SMA Negeri 1 Pematangsiantar, dan saat ini berdomisili di Kota Tangerang.
Dalam acara yang diorganisir oleh CakapCakap Siantar ini, Alpeda menyebutkan, sedang dalam tahap mempersiapkan diri untuk merealisasikan niatnya, maju dalam Pilkada Siantar yang akan datang.
“Sampai hari ini saya tetap menyimpan kecintaan akan Kota Siantar. Niat dan keinginan saya, Kota Siantar harus lebih baik dari yang sekarang ini. Magnet Siantar sesungguhnya luar biasa, bahkan di luar negeri sudah dikenal. Untuk itu, dalam pertemuan ini saya berkeinginan untuk mendapatkan dan merangkum informasi dan masukan terbaik tentang Kota Siantar. Dan tentunya itu untuk menjadikan Siantar yang lebih baik. Kita semua harus aktif untuk Siantar lebih baik. Saya sendiri ke depannya, berencana akan ikut aktif melalui Pemilihan Walikota Pematangsiantar!” ungkap Alpeda yang menyelesaikan studinya di PTKI Medan, dan S1 dari Universitas Jayabaya, Jakarta.
Acara Ngobrol Santai Soal Siantar ini, lebih kepada bentuk diskusi, yang berlangsung santai sesuai dengan judulnya, dan kerap diselingi tawa oleh tanggapan atau celetukan yang datang dari para hadirin. Namun demikian, suasana santai dan kehangatan dalam acara ini memunculkan banyak hal-hal menarik dan mendasar tentang Kota Siantar, termasuk tentang warganya.
Sebelumnya, Dr. Robert Siregar PhD, akademisi dari Universitas Simalungun, ‘sedikit’ filosofis menyebutkan, ada tiga kata kunci sebelum berbicara tentang Kota Siantar, yaitu niat, peduli, dan paham.
“Sebenarnya berbicara tentang kota Siantar ini harus dimulai dengan niat, peduli, dan paham. Kalau niatnya tidak ada, pasti dia tidak tertarik tentang Siantar. Kalau dia tidak peduli, pasti dia tidak tertarik. Demikian halnya jika dia tidak paham, pasti tidak tertarik tentang Kota Siantar!” demikian Robert mengawali, saat diberi giliran pada awal diskusi, yang dilanjutkan dengan sepintas sejarah dan deskripsi gambaran Kota Siantar, dan tantangan ke depannya.
Menjadi catatan penting, ketika Zainul Siregar ‘mewakili’ Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kota Siantar menggarisbawahi pentingnya merubah masyarakat psikologi politik terlebih dahulu, untuk dapat memperbaiki pemerintahan.
“Merubah pemerintahan, dirubah dulu psikologi politik masyarakatnya. Jika tidak, bulls**t! Saya jadi mafia, duit saya banyak, jadi! Tidak mengerti pemerintahan, jadi! Tidak usah cerita!” sebutnya seolah menyinggung jejak praktik politik uang di Kota Siantar.
Zainul juga menegaskan pentingnya perhatian pemerintah terhadap pembangunan bidang kepemudaan, dengan alasan pemuda sangat berpotensi sebagai agen perubahan dalam pembangunan.

Grup musik Mata Publik, tampil dalam Acara Ngobrol Santai Tentang Siantar, Grand Palm Hotel, Jalan Kapten MH Sitorus No. 15, Pematangsiantar, Sabtu 9/2/2019 (bataktoday/ajvg)

Ketua Bawaslu Kota Pematangsiantar, Sepriandi Saragih, yang mengaku hadir bukan mewakili institusinya, secara pribadi menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan acara yang menurutnya adalah bagian dari pendidikan politik, untuk kebaikan Kota Siantar di masa yang akan datang.
“Terimakasih, pada hari ini ada kawan-kawan yang menginisiasi kegiatan seperti ini, sebagai bagian dari pendidikan berpolitik yang baik dan benar,” sebut Sepriandi.
Goklif Manurung, aktivis kota yang juga pedagang kakilima, menyampaikan harapannya, agar organisasi kemasyarakatan (ormas) yang ada di kota ini benar-benar kritis untuk mengawal pembangunan.
“Di Badan Kesbangpol Kota Pematangsiantar terdaftar sekitar 200-an organisasi kemasyarakatan. Namun melihat pembangunan yang jalan di tempat, stagnan, kita benar-benar butuh organisasi kemasyarakatan yang benar-benar kritis,” tegasnya.
Dengan gayanya yang kocak, namun serius, Piliaman Simarmata, pengusaha dan juga mantan Anggota DPRD Simalungun, menyebutkan, diskusi yang sedang berlangsung sebenarnya lebih menjadi tugas partai politik, serta juga menyinggung pentingnya penolakan terhadap praktik politik uang.
“Tugas partai politik anda (maksudnya: Alpeda Sinaga,-red.) ambil alih. Ini sebetulnya tugas parpol. Jadi pendidikan politik dan dinamikanya, ternyata Alpeda mau. Mudah-mudahan niat baik akan terlaksana. Dan kita yang ada di sini, siapkah nanti tidak pakai amplop, pulang? Kalau memang mau Siantar baik! Bagaimana seorang walikota bisa memerintah baik jika sebelumnya kita sudah melakukan pemerasan?” tantang Piliaman, dengan harapan praktik politik uang tidak lagi terjadi dalam setiap pesta demokrasi pada masa yang akan datang.
Acara Ngobrol Santai Tentang Siantar ini dipandu Rindu Marpaung sebagai moderator, dan dihadiri oleh berbagai tokoh kota dengan berbagai latar belakang, baik tokoh agama, budayawan, organisasi kemahasiswaan, organisasi kepemudaan, pengamat politik dan pemerintahan, beberapa calon legislator maupun anggota DPRD aktif, akademisi, pengurus KONI, Alumni SMAN1, dan sejumlah warga kota, serta insan pers. Di sela acara, saat rehat kopi, dan juga di akhir acara, tampil grup musik Mata Publik, yang membawakan beberapa lagu berisikan kritik sosial.
Alpeda juga mengingatkan, bahwa dinamika pembangunan kawasan, diantaranya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangke dan Pengembangan Kawasan Wisata Danau Toba, harus direspon dengan program pembangunan kota yang baik, sehingga Siantar tidak ketinggalan, tetapi berkembang baik menjadi kota metropolitan di Sumatera Utara, setelah Medan.
“Kota Siantar 5 sampai 10 tahun ke depan, jangan sampai kota yang terlupakan di Sumatera Utara ini,” demikian Alpeda mengingatkan.
CakapCakap Siantar, melalui Amri Simanjuntak dan Tigor Munte, menyampaikan, bahwa masih akan menyelenggarakan acara sejenis secara berkelanjutan, untuk menampung ide, kritik dan solusi terkait pembangunan Kota Siantar, masa kini dan ke depannya. (rel/ajvg)

News Feed