oleh

NOS Band, Ucok Hutabarat tentang “Panggung Akhir Bulan Kemerdekaan dan Rumah Baca Parapat”

Parapat, BatakToday

Konser musik NOS Band untuk hajatan ‘dadakan’ dengan tema “Akhir Bulan Kemerdekaan”, di Lapangan Pagoda Parapat, Rabu (31/8) malam berakhir sukses.

Hajatan sederhana dengan segala keterbatasan ini ternyata tidak mengurangi nilai dan ‘energi’ yang dicurahkan grup band ‘anak Batak’ yang berpangkalan di kota Yogyakarta ini.

Ucok Hutabarat, anak Tarutung-Tapanuli, yang bernama lengkap Kaprikorn Dungkon Hamonangan Hutabarat ini, mengatakannya kepada BatakToday dalam wawancara singkat seusai tampil malam itu.

“Intinya, kita dari NOS, mau panggung kecil mau, panggung besar, tetap kita memberikan energi yang sangat amat besar, buat siapa pun yang mendengarkannya,” sebutnya, juga dengan ‘energi’ yang besar.

Ucok mengatakan, jumlah penonton tidak mengurangi ‘hasrat’ mereka untuk bermain di panggung.

“Jadi, nggak ada perbedaan orangnya 10, orangnya 200, apa orangnya 1000, tidak ada perbedaan, kita tetap total untuk bermain,” imbuhnya yakin.

Diminta untuk menitipkan pesan ‘tambahan’ selain di panggung sebelumnya, Ucok berpesan untuk secara khusus untuk Parapat, dan juga untuk Danau Toba.

“Kupikir, yang sudah indah, yang sudah bagus di sekitar kota Parapat ini harus dipertahankan. Yang masih harus dibenahi, diurusi. Gunungnya yang paling penting, minimal ditanami pohon biar lebat, hijau. Supaya turut menolong Danau Toba untuk bisa tetap jernih, dan tetap indah, dan bisa menjadi pariwisata andalan Indonesia,” demikian pesan Ucok.

Penggagas dan pendiri “Rumah Baca Parapat” Frans Nababan (ist)
Penggagas dan pendiri “Rumah Baca Parapat” Frans Nababan (ist)

Dia juga menambahkan, apresiasinya kepada panitia dan pemuda Parapat, sehubungan berlangsungnya kegiatan olahraga dan acara acara malam itu.

“Ini kan dadakan, panitianya menghubungi kita tadi malam. Tadi malam baru kontak, ketika tahu kita ada di Ajibata, bersama dengan teman kita Eko Sirait anak Ajibata,” terangnya.

“Pemuda-pemuda Parapat, bagus! Aku pikir ini hal yang positip. Mengumpulkan banyak anak dan pemuda, untuk melakukan kegiatan olahraga, seperti yang mereka selenggarakan ini. Dan tentunya termasuk acara kita mala mini,” puji Ucok si rambut gimbal ini.

Sebelum konser malam itu, BatakToday bertemu dengan Frans Nababan, pria muda Parapat yang sedang mempersiapkan taman bacaan bernama “Rumah Baca Parapat”. Ketika disinggung tentang hal ini, mengingat NOS getol menyampaikan pesan-pesan sosial-moral-lingkungan, Ucok menyambutnya dengan ekspresi senang walau sedikit ‘terkejut’.

Ketika diminta untuk memberi dukungan untuk ‘gerakan’ yang dimotori Frans Nababan untuk Rumah Baca Parapat, dia meresponnya dengan sangat positip.

“Baru dengar, sangat bagus! Kupikir bisa dimanfaatkan oleh anak-anak yang ada di Parapat, bisa dimanfaatkan pemuda-pemuda menjadi pusat atau center informasi. Makin banyak membaca akan semakin banyak tahu,” pujiannya lagi untuk yang dilakukan Frans.

Ucok kemudian menyampaikan dukungan atas nama NOS untuk Rumah Baca Parapat. Dan menyebutkan mereka pernah melakukakan hal yang sejenis, dan tentunya juga mendukung untuk yang ada di Parapat.

“Ya, kita dukung semampu kita. Misalnya melalui penggalangan buku. Kita pernah melakukannya untuk sebuah yayasan. Kalau toh kita akan dilibatkan, kita akan mendukung taman baca yang didirikan di Parapat ini. Untuk teman-teman di Parapat, mari kita kerja bareng, termasuk sharing informasi untuk hal-hal positip lainnya yang bisa dilakukan bersama,” demikian dukungan dan harapan disampaikannya.

Frans Nababan dan dua orang anak sedang membaca di Rumah Baca Parapat (ist)
Frans Nababan dan dua orang anak sedang membaca di Rumah Baca Parapat (ist)

Kemudian Ucok menceritakan, NOS pernah membuat karya musik dengan tema anak-anak.

“Kemarin sempat kita bikin karya tentang anak-anak, meskipin belum terealisasi tuntas. Tapi seandainya karya itu mau dipakai, silahkan saja. Kita ada punya satu lagu khusus untuk membaca, pesan moral untuk orang atau anak-anak atau pemuda untuk lebih giat lagi membaca,” pesannya mengakhiri.

BatakToday sebelumnya mendapatkan informasi tentang profil Frans Nababan, yang sedang mempersiapkan berdirinya taman bacaan untuk anak, yang diberi nama “Rumah Baca Parapat”.

Frans, anak bungsu dari 3 bersaudara ini, baru dapat berjalan pada usia 5 tahun lebih. Di kemudian hari ia memilih untuk melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Agama Kristen di Tarutung.

Menurut pandangannya, sebagai pribadi sosial setiap orang memiliki tanggungjawab sosial yang melekat di dalamnya, Frans sendiri memilih untuk berbagi dengan makhluk sosial lainnya, melalui “Rumah Baca Parapat” yang sedang dipersiapkannya.

Tidak banyak berbicara, dia sedikit ‘curhat’ tentang niatnya sehubungan Rumah Baca Parapat.

“Itulah yang bisa kubagi. Cita-citaku, melalui rumah baca ini dapat merangkul dan menjaga generasi, menjaga anak-anak Parapat untuk mendapat kesempatan yang lebih baik ke depan,” ujarnya, seraya mohon doa dan dukungan untuk “Rumah Baca Parapat”. (ajvg)

Foto:

NOS Band, dengan album perdananya Nos Elanvital, dari kiri ke kanan: Kapricorn Dungkon Hamonanganhutabarat, Andre Elyedes Tarigan, Erwin Sianturi, Markus B. T. Sirait, Loyra Nova Tarigan (Manager), Van Echo Sirait,  Yosef Aris, dan Jacky Raju Sembiring, di Lapangan Pagoda, Parapat, seusai konser untuk Akhir Bulan Kemerdekaan, Rabu 31/8/2016 (bataktoday/ajvg)

News Feed