oleh

Nota Pembelaan Dirman Rajagukguk

Nota Pembelaan/Pleidoi 

Atas nama Terdakwa :

Dirman Rajagukguk

 

Perkara Pidana Reg. No. 15/Pid.B/2017/PN.Blg

Pengadilan Negeri Balige

 

  1. Pendahuluan

Majelis Hakim Yang Mulia, Jaksa Penuntut Umum Yang Terhormat, Sidang Pengadilan yang kami muliakan,

Setelah mendengar pembacaan Surat Tuntutan Jaksa Penuntut Umum pada persidangan yang lalu, sekarang tibalah saatnya bagi kami Penasihat Hukum Terdakwa Dirman Rajagukguk untuk menyampaikan Nota Pembelaan (Pleidoi).

Sesuai dengan etika dan sopan santun dalam persidangan, maka perkenankanlah kami untuk terlebih dahulu menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan kami kepada Yang Mulia Majelis Hakim yang telah mempimpin jalannya proses persidangan ini dengan arif dan bijaksana sehingga seluruh proses persidangan dapat berjalan dengan baik dan lancar.

Penghargaan yang sama kiranya juga kami sampaikan kepada Saudara Jaksa Penuntut Umum yang dengan penuh dedikasi telah melaksanakan tugas dan kewajibannya melakukan penuntutan atas perkara ini, meskipun kami selaku Penasihat Hukum Terdakwa mempunyai pendapat yang berbeda dengan saudara Jaksa Penuntut Umum.

Dalam suatu proses peradilan yang baik, perbedaan pendapat bukanlah sesuatu yang luar biasa, melainkan hal yang lumrah dan biasa saja, apalagi perbedaan itu semata-mata dilandasi oleh semangat dan ikhtiar yang sama, yaitu untuk mencari kebenaran materil sebagaimana menjadi tujuan proses pemeriksaan perkara pidana.

Majelis Hakim yang mulia, Jaksa Penuntut Umum yang terhormat, dan sidang Pengadilan yang kami muliakan,

“Masyarakat yang hidup secara turun temurun di dalam hutan yang membutuhkan sandang, pangan dan papan untuk kebutuhan sehari-hari dengan menebang pohon dan dapat dibuktikan tidak disalahgunakan untuk kepentingan pihak lain (komersial) tidak dapat dijatuhi sanksi pidana terhadapnya”.

Demikian salah satu bagian dari pertimbangan hukum Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 95/PUU-XII/2014 dalam perkara pengujian UU Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan dan Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. Alasan pertimbangan hukum Mahkamah Konstitusi tersebut adalah disebabkan akan terjadinya paradoks apabila di satu pihak mengakui masyarakat yang hidup secara turun temurun di dalam hutan dan membutuhkan hasil hutan namun di lain pihak masyarakat tersebut diancam dengan hukuman. Sebaliknya, negara justru harus hadir memberikan perlindungan terhadap masyarakat demikian.

Pendapat Mahkamah Konstitusi ini kiranya cukup beralasan karena menggambarkan kondisi riil masyarakat terutama komunitas-komunitas masyarakat adat di nusantara yang wilayah adatnya sebagian besar justru berada di dalam kawasan hutan yang kerap kali menjadi sasaran kriminalisasi seperti yang dialami oleh Dirman Rajagukguk, warga komunitas masyarakat adat Tungko Ni Solu, di Desa Parsoburan Barat, Kecamatan Habinsaran, Kabupaten Toba Samosir.

Dirman Rajagukguk adalah salah satu anggota komunitas masyarakat adat keturunan marga Rajagukguk yang secara turun temurun sejak 200 tahun yang silam tinggal dan hidup di wilayah adat Tungko Ni Solu. Marga Rajagukguk yang pertama datang dan membuka kampung Tungko Ni Solu berasal dari Narumonda, Porsea dan menikah dengan Boru Manurung. Pada awalnya pekerjaan utama mereka adalah membuat solu (perahu) karena di hutan sekitar kampung Tungko Ni Solu masih banyak kayu alam dengan ukuran besar yang tumbuh subur. Tungkul kayu (tungko)  bekas tebangan yang kayunya kemudian dijadikan solu (perahu) ini yang kemudian menjadikan kampung tersebut terkenal dengan nama Tungko Ni Solu.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Keturunan marga Rajagukguk semakin banyak ditambah lagi dengan marga-marga yang datang kemudian dan menetap di Tungko Ni Solu, seperti marga Tambunan, Simangunsong, Panjaitan, Samosir, Gultom dan marga-marga lainnya sehingga membentuk suatu komunitas masyarakat adat tersendiri dengan aturan adatnya sendiri.

Meskipun sejak dahulu hidup rukun dan damai berdasarkan aturan adat mereka, kedamaian tersebut pada akhir mulai terusik dengan masuknya PT. Inti Indorayon Utama (sekarang PT. Toba Pulp Lestari atau PT. TPL) ke wilayah adat mereka pada tahun 1986. Permintaan marga Rajagukguk agar pihak PT. TPL menghentikan kegiatan penanaman eucaliptus di wilayah tanah adat diabaikan begitu saja oleh pihak PT. TPL, konflikpun terjadi dan telah berlangsung bertahun-tahun hingga sekarang. Segala upaya warga masyarakat adat yang berusaha untuk memperjuangkan hak mereka atau menghentikan kegiatan PT. TPL berakhir sia-sia, bahkan tak jarang justru berbuah kriminalisasi sebagaimana yang dialami oleh Dirman Rajagukguk seorang tokoh (Ketua Komunitas masyarakat Adat tungko Ni Solu).

Maksud hanya sekedar untuk mendapat upah uang rokok dari pemilik kayu olahan yang diangkatnya, telah berbuah ancaman hukum 10 bulan penjara karena dituduh melakukan pencurian. Padahal kayu olahan yang berasal dari pohon pinus yang diangkat Terdakwa tersebut, baik tungkul pohonnya maupun tempat di mana Terdakwa menumpuknya masih berada di wilayah adat masyarakat Tungko Ni Solu dan sejak lama merupakan wilayah yang di-enclave. Sejak dahulu hingga sekarang, sebagaimana fakta yang terungkap di persidangan, di wilayah adat Tungko Ni Solu banyak terdapat kayu pinus yang tumbuh secara alami dan dimanfaatkan oleh warga komunitas masyarakat adat.

  1. Dakwaan Dan Tuntutan Jaksa Penuntut Umum

Majelis Hakim yang mulia, Sidang pengadilan yang kami muliakan, Dirman Rajagukguk didudukkan sebagai Terdakwa dalam perkara ini dengan dakwaan alternatif sebagaimana Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Balige No.: PDM-71/TPUL/BLG/12/2016, yaitu :

Kesatu

Bahwa terdakwa Dirman Rajagukguk pada hari Jumat tanggal 11 Maret 2016 sekitar pukul 14.30 Wib atau setidak tidaknya pada waktu lain dalam bulan Maret 2016 bertempat di Kawasan Hutan Produksi MILIK Konsesi PT.Toba Pulp Lestari, Tbk yang berada di Dusun Tungko Nisolu, Desa Parsoburan Barat Kecamatan Habinsaran Kabupaten Toba Samosir atau setidak-tidaknya pada suatu tempat lain yang masih termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Balige, tanpa izin memuat, membongkar, mengeluarkan, mengangkut, menguasai, dan/atau memiliki hasil penebangan di kawasan hutan, perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 83 ayat (1) huruf a UU No.18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

Atau, Kedua

Bahwa terdakwa Dirman Rajagukguk pada hari jumat tanggal 11 Maret 2016 sekitar pukul 14.30 Wib atau setidak tidaknya pada waktu lain dalam bulan Maret 2016 bertempat di Kawasan Hutan Produksi Milik Konsesi PT.Toba Pulp Lestari, Tbk yang berada di Dusun Tungko Nisolu, Desa Parsoburan Barat, Kecamatan Habinsaran Kabupaten Toba Samosir atau setidak-tidaknya pada suatu tempat lain yang masih termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Balige, mengambil barang sesuatu berupa papan dan broti, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, yaitu PT.Toba Pulp Lestari,Tbk dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 362 KUHP.

Bahwa terkait Dakwaannya tersebut, Jaksa Penuntut Umum setelah melalui serangkaian pemeriksaan saksi-saksi dan alat-alat bukti lainnya kemudian telah menyimpulkan dalam Tuntutannya bahwa Terdakwa telah terbukti bersalah melakukan tindak pidana pencurian sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 362 KUH Pidana sebagaimana disebutkan dalam Dakwaan Alternatif Kedua dan oleh karenanya menuntut agar Majelis hakim menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa Dirman Rajagukguk berupa pidana penjara selama 10 (sepuluh) bulan.

  • Fakta-Fakta Yang Terungkap Di Persidangan

Majelis Hakim yang mulia, Sidang pengadilan yang kami muliakan,

Kami Penasihat Hukum Terdakwa tidak sependapat dengan kesimpulan Jaksa Penuntut Umum sebagaimana tertuang dalam Surat Tuntutannya tersebut, karena menurut pendapat kami -s.o.r-, kesimpulan yang dibuat oleh Jaksa Penuntut Umum dalam Surat Tuntutannya terutama terkait analisis pembuktian unsur-unsur delik apabila dibaca secara cermat ternyata tidak mengambarkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan melainkan hanya kutipan ulang semata dari uraian yang sebelumnya terdapat dalam Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum.

Oleh karena itu, maka kami akan menyampaikan analisis kami terkait pembuktian unsur-unsur delik Pasal 362 KUH Pidana a quo, namun demikian, sebelum kami Penasihat Hukum sampai pada analisis kami tersebut, kami akan terlebih dahulu memaparkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan melalui keterangan saksi-saksi dan bukti-bukti lainnya, sebagai berikut :

  1. Reza Adrian

Telah berjanji sesuai agama Islam, pada intinya memberikan keterangan sebagai berikut :

  • Saksi sudah bekerja sejak tahun 2013 sebagai Humas PT.TPL.
  • Saksi melaporkan pencurian kayu tanggal 11 Maret 2016.
  • Saksi menerangkan bahwa awalnya pada hari Jumat tanggal 11 Maret 2016 sekitar pukul 15.30 WIB mendapatkan informasi dari Hendra Napitupulu bahwa telah terjadi pencurian kayu milik PT.TPL di Dusun Tuko Nisolu Desa Parsoburan Barat Kec.Habinsaran Kab.Tobasa, Sektor Habinsaran. Setelah mendapat informasi tersebut kemudian saksi pergi ke lokasi penebangan pohon dan lokasi kayu dikumpulkan.
  • Saksi menerangkan bahwa lokasi penebangan pohon dan tempat kayu olahan dikumpulkan adalah berada dalam kawasan hutan produksi, hal tersebut diketahui saksi dengan menggunakan GPS.
  • Saksi menerangkan bahwa pelaku penebangan menggunakan mesin chainsaw, kemudian pohon tersebut diolah dalam bentuk papan dan broti.
  • Saksi mengatakan tidak menemukan ada chainsaw di lokasi penebangan.
  • Saksi mengatakan benar bahwa barang bukti yang ditunjukan di persidangan adalah kayu yang dimaksud.
  • Saksi menerangkan bahwa jenis pohon yang ditebang dan diolah adalah jenis pohon pinus berjumlah sekitar 7 (tujuh) pohon, dan selain itu ada juga pohon eucalyptus yang ditebang namun tidak diolah dan ditingalkan begitu saja di lokasi penebangan.
  • Saksi menerangkan bahwa saksi tidak melihat Terdakwa Sudirman Rajaguguk yang menebang dan mengangkut kayu, saksi hanya mendengar informasi dari Herman Hutagaol dan Rianto Manurung bahwa Terdakwa Dirman Rajagukguk mengaku sebagai pemilik kayu.
  • Saksi tidak mengetahui siapa orang yang menebang kayu.
  • Saksi mengatakan tidak ada melihat tanaman kopi, sawah, dan kuburan di sekitar lokasi penebangan pohon.
  • Saksi mengatakan bahwa lokasi tempat kayu dikumpulkan jaraknya dekat dengan perumahan warga.
  • Saksi menerangkan bahwa saksi bertugas di daerah Porsea sehingga tidak mengetahui dengan baik kondisi wilayah Tukko Nisolu.
  • Saksi mengatakan sudah mendapat ijin terlebih dahulu dari atasannya sebelum membuat laporan pengaduan ke polisi.
  • Saksi menerangkan bahwa lokasi penebangan pohon ada di tanah jurang.
  • Saksi mengatakan bahwa PT. TPL tidak menanam pohon di lokasi tanah jurang.
  • Saksi menerangkan bahwa saksi mengetahui kalau daerah Tukko Nisolu adalah wilayah yang dienclave namun saksi tidak tahu dimana batas-batas enclave tersebut.
  1. Jakup Sembiring

Telah berjanji sesuai agama Kristen, pada intinya memberikan keterangan sebagai berikut :

  • Saksi saat ini bekerja di PT. TPL sebagai Humas.
  • Saksi mengaku mengenal Terdakwa Dirman Rajagukguk dan sering bertemu dengan Terdakwa
  • Saksi menerangkan bahwa pada malam hari tanggal 11 Maret 2016 saksi datang ke Tukko Nisolu untuk menjemput 2 (dua) orang security PT. TPL yang disandera oleh warga.
  • Saksi menerangkan bahwa saksi meminta tolong kepada Terdakwa Dirman Rajagukguk untuk melepaskan kedua security yang disandera tersebut.
  • Saksi menerangkan bahwa saksi dan Terdakwa Dirman Rajagukguk beserta warga lainnya berkumpul di kantor kepala desa dan pada saat itu Terdakwa Dirman Rajagukguk mengakui di depan umum bahwa kayu itu miliknya.
  • Saksi menerangkan bahwa saksi tidak pernah melihat Terdakwa Dirman Rajagukuk menebang dan mengangkut kayu.
  • Saksi mendengar informasi dari Herman Hutagaol dan Rianto Manurung bahwa Terdakwa mengaku sebagai pemilik kayu tersebut.
  • Saksi menerangkan bahwa saksi hanya mendengar informasi bahwa kayu yang ditebang adalah kayu pinus dan diolah dalam bentuk papan dan broti, kemudian diangkut dan dikumpulkan di tepi jalan.
  • Saksi tidak pernah melihat lokasi penebangan, dan tidak tahu berapa banyak kayu pinus yang ditebang dan sudah dijadikan bahan.
  • Saksi mengatakan bahwa yang menebang pohon eucaliptus memang orang PT. TPL tetapi yang menebang pohon pinus bukan orang PT. TPL.
  • Saksi mengatakan tidak ada melihat kuburan di lokasi kayu dikumpulkan.
  • Saksi mengatakan bahwa di lokasi kayu dikumpulkan ada tanaman warga seperti ubi.
  • Saksi mengatakan tidak tahu mengenai enclave.
  • Saksi mengatakan tidak tahu apakah PT. TPL ada menanam pohon pinus.
  • Saksi mengatakan tidak tahu apakah PT. TPL menanam eucalyptus di tanah jurang.

Terhadap keterangan saksi ini Terdakwa keberatan karena tidak benar bahwa Terdakwa ada mengakui sebagai pemilik kayu di depan umum.

Catatan :

Keterangan saksi Jakup Sembiring yang mengatakan bahwa Herman Hutagaol dan Jusman Manurung disandera oleh warga berbeda dengan keterangan saksi Herman Hutagaol dan saksi Jusman Manurung yang mengatakan bahwa mereka tidak ada disandera oleh warga pada malam tanggal 11 Maret 2016.

  1. Saut Ronal Rajagukguk

Telah berjanji sesuai agama Kristen, pada intinya memberikan keterangan sebagai berikut :

  • Saksi menerangkan bahwa saksi bersama rekannya Henra Napitupulu melakukan kegiatan patroli pada tanggal 11 Maret 2016 sekitar pukul 14.30 wib di Tungko Nisolu dan menemukan tumpukan kayu olahan di pinggir jalan dan saksi tidak menemukan ada orang di lokasi tersebut.
  • Saksi dan rekannya Henra Napitupulu kemudian memeriksa lokasi di sekitar tumpukan kayu dan menemukan tempat kayu ditebang berjarak kurang lebih 30 m dari lokasi tumpukan kayu.
  • Saksi menerangkan bahwa lokasi tempat tunggul kayu tersebut berada di areal pinggir jurang
  • Saksi mengatakan bahwa saksi tidak tahu siapa yang menebang pohon tersebut.
  • Saksi menerangkan bahwa saksi hanya mendengar informasi dari 2 (dua) orang security yang melakukan jaga malam bahwa Terdakwa Dirman Rajagukguk mengaku sebagai pemilik kayu.
  • Saksi menerangkan bahwa jenis pohon yang ditebang adalah pohon pinus sebanyak 6 (enam) batang dan pohon eucaliptus sebanyak 3 (tiga) batang.
  • Saksi menerangkan bahwa hanya pohon pinus yang diolah menjadi papan dan broti, sedangkan pohon eucalyptus dibiarkan oleh pelaku.
  • Saksi mengatakan tidak tahu mengenai enclave
  • Saksi mengatakan tidak tahu apakah PT. TPL ada menanam pohon pinus.
  • Saksi mengatakan tidak tahu apakah PT. TPL menanam eucalyptus di tanah jurang.
  1. Herman Hutagaol
  • Saksi menerangkan bahwa saksi sudah 10 (sepuluh) tahun bekerja di PT TPL sebagai security
  • Saksi menerangkan bahwa pada tanggal 11 Maret 2016 sekitar pukul 21.30 WIB saksi bersama dengan Rianto Jusman Manurung sedang bertugas dinas malam di Tungko Nisolu dengan maksud menjaga kayu yang sudah diolah.
  • Kemudian Terdakwa Dirman Rajagukguk datang bersama temannya menjumpai saksi dan bertanya “ngapain kalian disini?” dan dijawab oleh Rianto Jusman Manurung “kami mau jaga malam tulang”
  • Kemudian saksi mengatakan bahwa Terdakwa Dirma Rajagukguk kembali bertanya “apa yang kalian jaga, jangan-jangan kalian mau mencuri kayu?” lalu dijawab kembali oleh Jusman Manurung, “memangnya ini kayu siapa?”
  • Saksi mengatakan bahwa Terdakwa menjawab “itu kayu saya.”
  • Kemudian saksi menerangkan setelah terjadi percekcokan Terdakwa pergi dan mengancam memanggil massa.
  • Saksi menerangkan beberapa saat setelah Terdakwa pergi saksi melihat ada 10 (sepuluh) unit sepeda motor yang datang dari arah kampung menuju lokasi mereka.
  • Karena merasa takut saksi dan rekannya Jusman Manurung bersembunyi masuk ke dalam hutan dan menghubungi rekannya untuk menjemput mereka.
  • Saksi menyatakan tidak ada disandera oleh masyarakat
  • Saksi mengatakan bahwa saksi tidak mengetahui siapa yang menebang pohon tersebut.
  • Saksi menerangkan bahwa jenis kayu yang ditebang pelaku adalah jenis pohon pinus, pohon pinus tersebut ditebang dengan menggunakan mesin chainsaw dan diolah menjadi papan dan broti.
  • Saksi menyatakan bahwa jadwal mereka patroli sudah terjadwal dan dikoordinasi langsung oleh kordinator lapangan.
  • Saksi mengatakan menurut perkiraannya kayu tersebut sudah ditebang dan diolah sejak 3-4 hari sebelum ditemukan, namun saksi tidak melihat bahwa Terdakwa Dirman Rajagukguk yang melakukan Penebangan pohon tersebut.
  • Saksi mengatakan tidak tahu mengenai enclave
  • Saksi mengatakan tidak tahu apakah PT.TPL ada menanam pohon pinus.
  • Saksi mengatakan tidak tahu apakah PT.TPL menanam eucalyptus di tanah jurang.
  1. Rianto Jusman Manurung
  • Saksi menerangkan bahwa pada tanggal 11 Maret 2016 sekitar pukul 21.30 WIB saksi bersama dengan Herman Hutagaol sedang bertugas dinas malam di Tungko Nisolu dengan maksud menjaga kayu yang sudah diolah.
  • Kemudian Terdakwa Dirman Rajagukguk datang bersama temannya menjumpai saksi dan bertanya “ngapain kalian disini?” dan dijawab oleh saksi “kami mau jaga malam tulang”
  • Kemudian saksi mengatakan bahwa Terdakwa Dirman Rajagukguk kembali bertanya “apa yang kalian jaga, jangan-jangan kalian mau mencuri kayu?” lalu dijawab kembali oleh Jusman Manurung, “memangnya ini kayu siapa?”
  • Saksi mengatakan bahwa Terdakwa menjawab “itu kayu saya.”
  • Kemudian saksi menerangkan setelah terjadi percekcokan Terdakwa pergi dan mengancam memanggil massa.
  • Saksi menerangkan beberapa saat setelah Terdakwa pergi saksi melihat ada 10 (sepuluh) unit sepeda motor yang datang mengejar mereka dari arah kampung.
  • Karena merasa takut saksi dan rekannya Herman Hutagaol bersembunyi masuk ke dalam hutan dan menghubungi rekannya untuk menjemput mereka.
  • Saksi menerangkan bahwa setelah bantuan datang dan menjemput mereka, saksi melihat bahwa keempat ban mobil sudah dikempesi dan talang air dirusak oleh warga sehingga mobil mereka tidak bisa dibawa.
  • Saksi mengatakan bahwa tidak ada saksi dan rekannya Herman Hutagaol tidak ada disandera oleh warga akan tetapi mereka lari ke hutan karena merasa takut.
  • Saksi menerangkan bahwa jenis kayu yang ditebang adalah jenis pohon pinus, pohon pinus tersebut ditebang dengan menggunakan mesin chainsaw dan diolah menjadi papan dan broti.
  • Saksi mengatakan bahwa Terdakwa Dirman Rajagukguk adalah orang yang mengambil kayu olahan bukan penebang pohon.
  • Saksi mengatakan bahwa saksi tidak mengetahui siapa yang menebang pohon tersebut.
  • Saksi mengatakan tidak tahu mengenai enclave
  • Saksi mengatakan tidak tahu apakah PT. TPL ada menanam pohon pinus.
  • Saksi mengatakan tidak tahu apakah PT. TPL menanam eucalyptus di tanah jurang.

Terhadap keterangan saksi ini terdakwa keberatan karena warga tidak ada mengejar mereka dan tidak ada mengempesi ban mobil dan merusak talang air.

  1. Henra Napitupulu
  • Saksi menerangkan bahwa saksi bersama rekannya Saut Ronal Rajagukguk melakukan kegiatan patroli pada tanggal 11 Maret 2016 sekitar pukul 14.30 wib di Tungko Nisolu dan menemukan tumpukan kayu olahan di pinggir jalan dan saksi tidak menemukan ada orang di lokasi tersebut.
  • Saksi dan rekanya Saut Ronal Rajagukguk kemudian memeriksa lokasi di sekitar tumpukan kayu dan menemukan tempat kayu ditebang berjarak kurang lebih 30m dari loksai tumpukan kayu.
  • Setelah itu kemudian saksi menghubungi saksi M. Reza untuk memberitahukan hasil penemuan dilapangan.
  • Saksi mengatakan bahwa sampel kayu yang ditunjukkan di persidangan sebagai barang bukti adalah benar merupakan kayu yang mereka temukan tanggal 11 Maret 2016.
  • Saksi menerangkan bahwa lokasi tempat tunggul kayu tersebut berada di areal pinggir jurang.
  • Saksi mengatakan bahwa saksi tidak tahu siapa yang menebang pohon tersebut.
  • Saksi menerangkan bahwa saksi hanya mendengar informasi dari 2 (dua) orang security yang melakukan jaga malam bahwa Terdakwa Dirman Rajagukguk mengaku sebagai pemilik kayu.
  • Saksi menerangkan bahwa jenis pohon yang ditebang adalah pohon pinus sebanyak 6 (enam) batang dan pohon eucaliptus sebanyak 3 (tiga) batang.
  • Saksi menerangkan bahwa hanya pohon pinus yang diolah menjadi papan dan broti, sedangkan pohon eucalyptus dibiarkan oleh pelaku.
  • Saksi mengatakan bahwa saksi pernah mendengar bahwa daerah Tukko Nisolu adalah daerah yang di-enclave
  • Saksi mengatakan bahwa batas enclave itu ditandai dengan patok-patok yang terbuat dari kayu, tidak permanen sehingga mudah dipindah-pindahkan.
  • Saksi mengatakan tidak ada melihat patok enclave di lokasi penebangan dan lokasi tempat kayu dikumpulkan.
  • Saksi mengatakan sering datang ke lokasi tersebut namun tidak pernah melihat ada kuburan, tanaman kopi dan sawah warga disekitar lokasi.
  1. Ahli : Ir. Henry Parluhutan Sihaloho
  • Saksi ahli merupakan kepala UPT Pengendalian Peredaran Hasil Hutan Wilayah II Pematang Siantar di Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara.
  • Saksi menerangkan bahwa saksi dihadirkan dalam sidang pemeriksaan perkara ini dikhususkan untuk mengitung kerugian negara yang timbul akibat penebangan pohon yang dilakukan oleh Terdakwa Dirman di lahan konsesi TPL.
  • Saksi menerangkan bahwa kerugian negara yang timbul akibat penebangan pohon tidak dapat dibebankan kepada Terdakwa.
  • Saksi tidak dapat menunjukkan sertifikat keahlian dan mengatakan belum pernah melakukan atau membuat sebuah karya ilmiah berhubungan dengan keahliannya.
  • Saksi mengatakan tidak tahu mengenai lokasi penebangan dan lokasi kayu dikumpulkan dikarenakan saksi belum pernah datang ke lokasi tersebut.
  • Saksi menerangkan bahwa mengenai lokasi tersebut apakah masih masuk kedalam wilayah konsesi PT.TPL atau tidak adalah bukan kompetensi ahli.
  • Saksi menerangkan bahwa masyarakat adat tidak perlu memiliki ijin untuk memanfaatkan hasil hutan di wilayah hutan adat.
  • Saksi mengatakan bahwa benar jenis kayu yang ditunjukan kepada ahli adalah jenis kayu pinus.

Saksi A De Charge (Meringankan)

  1. Bangun Rajaguguk
  • Saksi merupakan penatua adat di Tukko Nisolu
  • Saksi sudah tinggal di Tukko Nisolu sejak tahun 2002
  • Saksi menerangkan bahwa lokasi penebangan kayu dan tempat kayu olahan dikumpulkan masih merupakan wilayah tanah adat Rajagukguk.
  • Saksi menerangkan bahwa saksi mengetahui lokasi tersebut masih masuk ke dalam wilayah tanah adat Rajagukguk adalah berdasarkan cerita nenek moyang mereka. Selain itu ada tanda-tanda fisik seperti kuburan, tanaman bambu, sawah dan parit di lokasi tersebut.
  • Sasi mengatakan kuburan tersebut sudah berumur sekitar 120 tahun lamanya.
  • Saksi mengatakan lokasi penebangan dan tempat ayu dikumpulkan masih di dalam areal enclave Tukko Nisolu.
  • Saksi mengatakan bahwa enclave maksudnya adalah tanah masyarakat di dalam kawasan hutan.
  • Saksi mengatakan bahwa batas enclave berupa monggu.
  • Saksi mengatakan tidak tahu bagaimana PT. TPL bisa menguasai lahan milik warga.

Atas keterangan saksi ini Terdakwa membenarkan.

  1. Mangapul Samosir
  • Saksi merupakan penatua adat di Tukko Nisolu
  • Saksi sudah tinggal di Tukko Nisolu sejak tahun 1986
  • Saksi menerangkan bahwa lokasi penebangan kayu dan tempat kayu olahan dikumpulkan masih merupakan wilayah tanah adat Rajagukguk.
  • Saksi menerangkan bahwa saksi mengetahui lokasi tersebut masih masuk ke dalam wilayah tanah adat Rajagukguk adalah berdasarkan cerita nenek moyang mereka. Selain itu ada tanda-tanda fisik seperti kuburan, tanaman bambu, sawah dan parit di lokasi tersebut.
  • Saksi mengatakan lokasi penebangan dan tempat kayu dikumpulkan masih di dalam areal enclave Tukko Nisolu.
  • Saksi mengatakan bahwa enclave maksudnya adalah tanah masyarakat di dalam kawasan hutan.
  • Saksi mengatakan bahwa batas enclave berupa monggu.
  • Saksi mengatakan di wilayah Tuko Nisolu banyak kayu pinus yang tumbuh sendiri dan dapat dimanfaatkan warga karena masih di dalam wilayah enclave.
  • Saksi menerangkan bahwa ada terdapat gubuk-gubuk berjarak sekitar 100m dari lokasi tunggul kayu, ada kuburan berjarak sekitar 500m dari tunggl kayu, dan ada tanaman kopi milik warga berjarak sekitar 200m dari tunggul kayu.
  • Saksi mengatakan umur kuburan tersebut diperkirakan sudah mencapai 120 tahun.
  • Saksi menerangkan bahwa tanah di sekitar tunggul tidak dikelola oleh warga karena tanah tersebut adalah tanah rawa.
  • Saksi mengatakan sebagian tanah sudah ada surat-suratnya berupa SK Camat.

Atas keterangan saksi ini Terdakwa membenarkan.

Keterangan Terdakwa

  • Terdakwa menerangkan bahwa awalnya sekitar sebulan sebelum bertemu dengan kedua security PT. TPL ia diupah menjaga alat escavator milik kontraktor PT. TPL. Saat bertugas menjaga escavator tersebut Terdakwa bertemu dengan seorang pemburu yang tidak dikenalnya, pemburu tersebut memberitahukan kepada Terdakwa bahwa ada kayu olahan di jurang yang tidak jauh dari tempat Terdakwa menjaga escavator, lalu terdakwa pergi melihat kejurang yang dimaksud dan menemukan ada kayu olahan berupa papan dan broti namun tidak ada menemukan orang disana.
  • Keesokan harinya terdakwa pergi lagi melihat kayu olahan tersebut dan memeriksa apakah ada orang disana, namun terdakwa tidak menemukan ada orang lain disana meskipun Terdakwa sudah memanggil-manggil.
  • Dengan maksud untuk mendapatkan upah dari pemilik kayu olahan tersebut kemudian Terdakwa mengangkat kayu tersebut satu persatu dari bawah jurang dan dikumpulkan di pinggir jalan. Kayu tersebut berjumlah sekitar 69 batang dan diangkatnya ke pinggir jalan satu persatu selama tiga minggu sembari Terdakwa menjaga alat escavator.
  • Pada tanggal 11 Maret 2016 sekitar pukul 21.30 wib Terdakwa melihat ada lampu cahaya mobil di sekitar ladang warga, lalu Terdakwa dan temannya pergi ke lokasi mobil tersebut untuk memeriksa. Sesampainya disana Terdakwa berjumpa dengan 2 (dua) orang security PT. TPL sedang menghidupkan api, Terdakwa pun mencurigai mereka akan mencuri ayam milik warga.
  • Terdakwa menerangkan bahwa Terdakwa mengaku sebagai pemilik kayu olahan tersebut karena Terdakwa emosi setelah beradu mulut dengan kedua security PT. TPL.
  • Terdakwa mengatakan bahwa lokasi tunggul kayu tersebut masih masuk ke dalam wilayah tanah adat Rajagukguk dan ada tanda-tanda fisik seperti kuburan, tanaman bambu, sawah dan parit di lokasi tersebut yang menandakan bahwa tanah tersebut masih tanah adat.
  • Terdawa menerangkan bahwa daerah tersebut juga masih masuk dalam wilayah enclave yang dibuktikan dengan adanya monggu sebagai batas enclave.
  • Terdakwa mengatakan tidak mengetaui siapa yang menebang kayu tersebut.
  • Terdakwa mengatakan bahwa dirinya bukan pemilik kayu tersebut dan tidak tahu siapa pemiliknya.
  1. Analisis Pembuktian Unsur-Unsur Delik Pasal 362 KUH Pidana

Majelis Hakim yang mulia, Sidang pengadilan yang kami muliakan,

Pasal 183 KUHAP menyebutkan bahwa Hakim hanya dapat menjatuhkan pidana kepada seseorang apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.

Bahwa selanjutnya, seseorang baru dapat dinyatakan sebagai telah melakukan suatu tindak pidana (delik) hanya apabila perbuatan yang didakwakan dilakukan oleh orang tersebut telah terbukti memenuhi tiap-tiap unsur dari delik sebagaimana yang dirumuskan dalam undang-undang.

Oleh karena itu, dalam perkara Terdakwa Dirman Rajagukguk ini perlu kiranya dilakukan analisis apakah perbuatan Terdakwa Dirman Rajagukguk berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan sebagaimana diuraikan di atas terbukti memenuhi tiap-tiap unsur dari delik sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 362 KUH Pidana.

Bahwa adapun unsur-unsur Pasal 362 KUH Pidana adalah sebagai berikut :

  1. Barangsiapa
  2. Mengambil suatu barang
  3. Yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain
  4. Dengan maksud memiliki secara melawan hukum

Majelis Hakim yang mulia,

Sidang pengadilan yang kami muliakan,

Kami akan menguraikan satu demi satu analisis kami terkait pembuktian tiap-tiap unsur dari Pasal 362 KUH Pidana a quo.

Pembuktian Unsur “Barangsiapa”

Unsur “barang siapa” berkaitan dengan subyek hukum, yaitu pendukung hak dan kewajiban dalam hukum yang apabila melakukan suatu perbuatan pidana dapat dimintakan pertanggungjawabannya. Sesuai dengan Surat Dakwaan Jaksa yang dimaksud di sini adalah Terdakwa Dirman Rajagukguk.

Namun demikian, karena unsur “barang siapa” bukanlah elemen inti dari suatu delik (bestandeel delict), maka untuk membuktikan seseorang telah melakukan suatu perbuatan pidana atau tidak, haruslah terpenuhi terlebih dahulu seluruh unsur dari pasal yang didakwakan atau dengan kata lain, pembuktiannya masih tergantung pada terbukti tidaknya elemen inti deliknya.

Pembuktian Unsur “Mengambil Suatu Barang”

Perbuatan mengambil adalah bagian inti delik (bestandeel delict). Mengambil menurut R. Soesilo berarti mengambil untuk dikuasai, maksudnya waktu pencuri mengambil barang itu, barang tersebut belum ada dalam kekuasaannya. Pengambilan dapat dikatakan selesai apabila barang tersebut sudah pindah tempat.

Dalam perkara ini tidak seorang saksi pun yang melihat secara langsung bahwa Terdakwa melakukan perbuatan mengambil kayu. Terdakwa hanya pernah mengaku kepada 2 (dua) orang security PT. TPL yang menjadi saksi dalam perkara ini, yaitu Herman Hutagaol dan Rianto Jusman Manurung bahwa ia adalah pemilik kayu-kayu olahan tersebut dan pengakuan Terdakwa kepada 2 (dua) orang security PT. TPL tersebut menurut Terdakwa dibuatnya karena ia telah bertengkar terlebih dahulu dengan keduanya. Selanjutnya dalam keterangannya, Terdakwa mengatakan bahwa pada saat bertugas menjaga escavator Terdakwa bertemu dan diberitahu oleh seorang pemburu bahwa ada kayu olahan terletak di jurang tidak jauh dari tempat Terdakwa menjaga escavator. Terdakwa lalu melihat ke jurang yang dimaksud dan menemukan ada kayu olahan tersebut namun tidak ada orang di sana. Keesokan harinya Terdakwa kembali ke jurang tersebut, memanggil-manggil namun tetap tidak ada orang di sana. Dengan maksud untuk mendapatkan upah sekedar uang rokok dari pemilik kayu, Terdakwa mengangkat kayu tersebut satu persatu dari bawah jurang dan dikumpulkan di tepi jalan.

Bahwa kayu olahan yang diangkat oleh Terdakwa dari bawah jurang dan kemudian dikumpulkan di tepi jalan berdasarkan fakta persidangan adalah kayu olahan dari pohon pinus. Pohon pinus adalah pohon alam yang tumbuh sendiri di tempat lokasi kejadian perkara dan pohon jenis ini tidak pernah ditanam oleh PT. TPL karena sesuai dengan izin konsesi HPHnya, PT. TPL hanya menanam pohon eucaliptus.

Bahwa demikian juga dengan lokasi tempat ditemukannya tumpukan kayu olahan di pinggir jalan maupun tungkulnya yang ada di pinggir jurang, menurut beberapa saksi dari PT. TPL lokasi tersebut adalah areal konsesi PT. TPL, namun hal ini telah dibantah oleh keterangan saksi-saksi lainnya yang mengatakan bahwa baik lokasi pinggir jalan tempat ditemukannya tumpukan kayu maupun lokasi tempat ditemukan tungkul pohonnya adalah wilayah adat masyarakat adat Tungko Ni Solu dan merupakan wilayah yang sejak dahulu disebut wilayah “Enclave Tungko Ni Solu” yang untuk itu diperkuat dengan  bukti Peta Enclave Tungko Ni Solu (bukti P-1) yang turut diajukan Penasihat Hukum Terdakwa sebagai bukti dalam perkara ini.  Di sekitar lokasi kejadian terdapat tanda-tanda fisik berupa gubuk-gubuk warga yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi tungkul kayu, kuburan-kuburan tua yang telah berumur 120 tahun berjarak sekitar 500 meter dari tungkul kayu dan ladang-ladang milik warga yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi tungkul kayu.

Perbuatan “mengambil” yang terbukti dalam perkara ini (hanya berdasar pengakuan Terdakwa) adalah perbuatan mengangkat kayu tersebut satu persatu dari bawah jurang dan dikumpulkan di tepi jalan dengan maksud untuk mendapatkan upah sekedar uang rokok dari pemilik kayu.

Pembuktian Unsur “Yang Seluruhnya Atau Sebagian Kepunyaan Orang Lain”

Bahwa perbuatan “mengambil” barang (i.c. kayu olahan) saja belum merupakan perbuatan pidana pencurian, karena masih disyaratkan harus terbukti unsur yang merupakan bagian inti delik (bestandeel delict) yang lain, yaitu bahwa barang (i.c. kayu olahan) tersebut harus seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain.

Berdasarkan fakta-fakta persidangan sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa kayu olahan yang menurut pengakuan Terdakwa diangkatnya dari jurang ke pinggir jalan adalah kayu pohon pinus yang merupakan kayu alam yang tumbuh sendiri di tempat lokasi kejadian perkara dan pohon jenis ini tidak pernah ditanam oleh PT. TPL karena sesuai dengan izin konsesi HPHnya, PT. TPL hanya menanam pohon eucaliptus.

Selama proses pemeriksaan perkara di persidangan tidak terungkap siapa sebenarnya yang menebang pohon pinus yang dijadikan kayu olahan tersebut. Atau dengan kata lain, tidak diketahui siapa pemiliknya.

Demikian juga dengan lokasi tempat ditemukannya tumpukan kayu, yaitu di pinggir jalan maupun lokasi tempat ditemukan tungkul pohonnya di jurang adalah wilayah adat masyarakat adat Tungko Ni Solu dan merupakan wilayah yang sejak dahulu disebut wilayah “Enclave Tungko Ni Solu” yang untuk itu diperkuat dengan  bukti Peta Enclave Tungko Ni Solu (bukti P-1) yang turut diajukan Penasihat Hukum Terdakwa sebagai bukti dalam perkara ini.  Di sekitar lokasi kejadian terdapat tanda-tanda fisik berupa gubuk-gubuk warga yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi tungkul kayu, kuburan-kuburan tua yang telah berumur 120 tahun berjarak sekitar 500 meter dari tungkul kayu dan ladang-ladang milik warga yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi tungkul kayu.

Bahwa andapun PT. TPL mengklaim bahwa lokasi tempat kejadian perkara merupakan wilayah konsesi HPHnya -quod non-, hal tersebut tidaklah membuktikan bahwa barang (i.c. kayu olahan) yang menurut pengakuan Terdakwa diangkat olehnya merupakan milik dari PT. TPL karena kayu tersebut adalah kayu alam (pinus), bukan kayu eucaliptus yang ditanam oleh PT. TPL sesuai dengan izin konsesi HPHnya.

Bahwa izin konsesi PT. TPL adalah Izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan tanaman industri dalam hutan tanaman pada hutan produksi yang selanjutnya disingkat IUPHHK-HTI yang sebelumnya disebut Hak Pengusahaan Hutan Tanaman (HPHT) atau Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HPHTI) atau Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman Industri (IUPHHK-HTI), yaitu ijin usaha untuk membangun hutan tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh kelompok industri untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dalam rangka memenuhi kebutuhan bahan baku industri. Menurut SK.101/Menhut-II/2004 tanggal 24 Maret 2004 (perubahan dari SK Menhut No. 162/Kpts-II/2003, tanggal 21 Mei 2003) ditegaskan bahwa perusahaan HTI tidak boleh menebang (memanen) kayu hutan alam di areal konsesi HTI-nya. Berdasarkan ketentuan ini, maka jika kita menelaah status kayu hutan alam yang berada di areal konsesi Perusahaan HTI, ternyata tidak ada dasar hukumnya yang menyatakan bahwa kayu hutan alam yang berada di areal perusahaan HTI tersebut secara otomatis dimiliki oleh perusahaan HTI.

Dengan demikian unsur “Yang Seluruhnya Atau Sebagian Kepunyaan Orang Lain” tidak terbukti secara sah dan meyakinkan.

Pembuktian Unsur “Dengan Maksud Memiliki Secara Melawan Hukum”

Bahwa selain itu, perbuatan “mengambil” barang (i.c. kayu olahan) haruslah dilakukan oleh pelaku dengan maksud untuk memilikinya secara melawan hukum atau tanpa hak.

Berdasarkan fakta persidangan, kayu diangkat oleh Terdakwa dari jurang ke pinggir jalan adalah bukan dengan maksud untuk memiliki, melainkan untuk sekedar mendapat upah uang rokok dari pemiliknya karena Terdakwa sadar bahwa bukan dia yang menebang pohon pinus tersebut dan mengergajinya menjadi papan sehingga dengan demikian tentu ada orang lain yang melakukannya sebagaimana diterangkan saksi Mangapul Samosir bahwa di wilayah Tungko Ni Solu banyak kayu pinus yang tumbuh sendiri dan dimanfaatkan oleh warga karena masih di dalam wilayah enclave.

Berdasarkan hal tersebut, maka unsur “Dengan Maksud Memiliki Secara Melawan Hukum” tidak terpenuhi secara sah dan meyakinkan.

  1. Kesimpulan Dan Penutup

Majelis Hakim yang mulia, dan Sidang Pengadilan yang kami muliakan,

Berdasarkan analisis yuridis sebagaimana diuraikan di atas, maka menjadi jelas bahwa Terdakwa Dirman Rajagukguk tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana pencurian (Pasal 362 KUH Pidana) sebagaimana yang didakwakan oleh Sdr. Jaksa Penuntut Umum dalam Dakwaan alternatif kedua.

Oleh karena itu, maka cukup beralasan kiranya apabila kami Penasihat Hukum Terdakwa memohon kepada Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Balige yang memeriksa dan mengadili perkara ini agar berkenan kiranya membebaskan TerdakwaDirman Rajagukguk dari tuntutan hukum atau setidak-tidaknya melepaskan Terdakwa dari tuntutan hukum.

Demikian Pleidoi kami, semoga Tuhan memberikan kekuatan dan kebijaksaan bagi kita dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan. 

Medan, 2 Mei 2017

Hormat Penasihat Hukum Terdakwa

Manambus Pasaribu, S.H., M.H.

Sahat M. Hutagalung, S.H., M.Hum

Eva Krisnawati, SH

Jeffrianto Sihotang, S.H.

News Feed