OTT Saber Pungli: Tersangka Hanya Sampai di Sekretaris Dinkes Simalungun?

OTT Saber Pungli: Tersangka Hanya Sampai di Sekretaris Dinkes Simalungun?

1205
Ilustrasi

Simalungun, BatakToday-

Dalam tahap penyidikan atas kasus dugaan pungutan liar (pungli) di lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun sebagai tindak lanjut dari hasil Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Tim Saber Pungli Polda Sumatera Utara telah ditetapkan 2 orang tersangka, yaitu Flora Sandora Purba dan Lukman Damanik.

Flora adalah pegawai di Koperasi Harapan yang merupakan koperasi beranggotakan pegawai di lingkungan Dinkes Simalungun dan Lukman adalah Sekretaris Dinkes Simalungun. Diperoleh informasi bahwa Flora adalah saudara perempuan dari Kepala Dinkes Simalungun, dr Jan Maurisdo Purba.

Sumber Bataktoday di Kepolisian RI menyebutkan bahwa dalam penanganan kasus ini tidak tertutup kemungkinan ditetapkannya tersangka baru, ketika dalam proses penyidikan yang sedang berlangsung ditemukan bukti-bukti atas keterlibatan orang selain dari 2 tersangka yang telah ditetapkan.

“Tim dari Unit III Tipikor Polres Simalungun sedang mendalami kasus ini. Harap bersabar, setelah ditemukan bukti-bukti tentang itu, baru dapat ditetapkan tersangka lainnya. Sekali lagi, meskipun terindikasi adanya keterlibatan seseorang lainnya dalam kasus ini, kepolisian tentu harus tetap dengan asas praduga tak bersalah, sabar ya!” ujar sumber BatakToday ketika dihubungi via telepon selular, Kamis malam (06/07/2017).

Saat BatakToday mencoba mengorek lebih jauh kemungkinan keterlibatan kepala daerah, sumber ini menyebutkan hanya jika ditemukan cukup bukti yang sah secara hukum barulah seseorang dapat ditetapkan sebagai tersangka.

“Kesulitan dan tantangan untuk melakukan pengembangan kasus dalam penyidikan sejenis atau pungli, maupun tindak pidana korupsi, umumnya selalu mengenai ditemukan atau tidak sesuatu yang dapat dijadikan alat bukti yang sah secara hukum. Tentu perintah melakukan pungutan liar dalam birokrasi tidak pernah dengan menggunakan instruksi resmi atau tertulis. Di sini kesulitan sekaligus tantangan buat kita dalam penyidikan bang, harus ada strategi dan trik dari penyidik untuk mendapatkan alat bukti itu. Kalau sampai ke kepala daerah, saya pikir sulit, bang! Tak akan ada kepala daerah yang mengeluarkan instruksi tertulis untuk pungutan liar, tidak akan mungkin segila itu bang, ha ha ha…,” ujarnya tertawa di ujung telepon.

Ketika kemudian BatakToday mencoba mengarahkan pertanyaan kepada keterlibatan Kepala Dinas Kesehatan Simalungun, mengingat salah satu tersangka adalah saudara perempuannya, dan tersangka lain adalah bawahannya, kembali diperoleh jawaban diplomatis.

“Ke tingkat kepala dinas juga sama, logika publik bisa-bisa saja mengatakan adanya keterlibatan pihak tertentu sebagai pihak yang memerintahkan. Barangkali abang menghubungkannya dengan tersangka yang ada, 2 orang yang sudah ditetapkan. Yang satu saudara Kadis yang bukan pegawai Dinas (Dinkes Simalungun,-red.), yang satu lagi sekretarisnya, begitu kan? Semua kemungkinan bisa saja, nanti tim kita akan melihat dan menyimpulkannya dalam proses penyidikan, tunggu saja bang. Sekali lagi, kepolisian tetap dengan asas praduga tak bersalah, ok bang? Sabar ya!” ujarnya.

Disebutkan ada kabar bahwa tersangka Lukman Damanik mengajukan penangguhan penahanan, dia menyebutkan permintaan penangguhan diatur dalam KUHAP, dan penyidik memutuskan berdasarkan KUHAP.

“Pengajuan penangguhan penahanan diatur dalam KUHAP, tersangka berhak mengajukannya. Tetapi penyidik juga tentu berpegang kepada KUHAP, mereka akan mempertimbangkannya secara obyektif maupun subyektif. Tentu penyidik akan mempertimbangkan, misalnya, apakah tersangka memiliki peluang untuk menghilangkan barang bukti jika ditangguhkan penahanannya, atau pertimbangan lainnya sesuai KUHAP. POLRI tentu akan bersikap profesional, itu sudah menjadi keharusan, apalagi di Saber Pungli ini,” pungkasnya dari ujung telepon. (ajvg)