oleh

Oxygen Community Gagasi “Green Camping Ground” di Silalahi

Silahisabungan, BatakToday

Di sela-sela berlangsungnya kegiatan perkemahan, Camping Ground, dalam perhelatan seni budaya Silahisabungan Arts Festival (SAFE), di Desa Silalahi, Kecamatan Silahisabungan, Dairi-Sumatera Utara, sekelompok anak muda asal Kabanjahe-Tanah Karo dan sekitarnya, yang menamakan diri sebagai Oxygen Community, menyampaikan tekadnya untuk tidak sekedar melakukan penanaman pohon sebagai salah satu kegiatan dalam festival yang sedang berlangsung. Tetapi komunitas ini akan mengupayakan pembukaan areal perkemahan ‘tetap di daerah wisata ini, dengan konsep dan tema “Green Camping Ground”.

Filemon Sitepu, biasa dipanggil Emon, salah satu koordinator Oxygen Community, menyebutkan hal tersebut kepada BatakToday, dalam perbincangan Sabtu dini hari (3/12) di lokasi Camping Ground, yang mengambil tempat di sekitar lokasi panggung utama SAFE.

“Kita tidak mau hanya menanam pohon, kemudian membiarkannya, tanpa memastikan pohon itu hidup dan terurus dengan baik. Untuk itu kita sedang mengupayakan lahan masyarakat di Silalahi ini, yang memang menjadi tapak yang seluruhnya kita tanami pohon, beraneka ragam, dan terutama pohon yang menghasilkan buah, memiliki nilai ekonomis selain aspek penghijauan,” papar pria muda enerjik, yang sepanjang malam hingga pagi, “tahan” berdiskusi tentang berbagai isu,  lingkungan, pariwisata, sosial budaya dan ekonomi.

Lokasi Camping Ground pada Silahisabungan Arts Festival, dengan latar belakang perbukitan (doc. lisa novita sari)
Lokasi Camping Ground, Silahisabungan Arts Festival, dengan latar belakang perbukitan (doc. lisa novita sari)

Disebutkannya juga, mereka akan bekerjasama dengan siapa saja yang bersedia untuk secara rutin maupun berkala, bersama-sama untuk merawat dan mengembangkan areal perkemahan yang akan dibuka ini. Emon menyebutkan, tantangan pertama adalah pengadaan lahan yang akan dihijaukan sebagai Green Camping Ground. Dia menyebutkan, penekanannya bukan tentang skala luasan areal.

“Yang kita cari dan butuhkan, areal yang luas bukan satu keharusan. Yang kita mau tunjukkan, dan sebenarnya di tempat-tempat lain juga sudah banyak dilakukan, yaitu totalitas dan keberlanjutan dari program atau kegiatan. Untuk mengejar luasan, tentunya membutuhkan keterlibatan semakin banyak pihak. Kita mau tunjukkan, bahwa berbagi peran dapat menghasilkan suatu kebaikan untuk Kawasan Danau Toba. Jangan pandang skala dulu, pertama kita harus mau dan dengan motivasi kuat. Kami percaya, dengan melakukan gerakan yang positip, tentu masyarakat kawasan dan stakeholder Kawasan Danau Toba yang akan menilai. Kita optimis, jika yang dilakukan sesuatu yang baik, tanpa kepentingan tersembunyi dari kami anak-anak muda yang mencintai Alam Danau Toba, tentu akan mendapat respon positip. Dan dengan harapan, begitu gagasan kita ini menunjukkan gejala akan sungguh, dapat terealisasi, akan semakin banyak juga yang mau tergerak dan bergerak untuk Danau Toba yang katanya dicintai oleh sangat banyak orang pribadi maupun kelompok,” ujarnya bersemangat, meski dini hari itu dibarengi rinai hujan membasahi lokasi perkemahan SAFE.

Ketika Emon menerangkan bahwa lahan akan dijadikan “Bumi Perkemahan Hijau”tetap menjadi properti pihak yang menguasai lahan atau pemiliknya, Bataktoday coba menawarkan solusi, dengan mengatakan akan menghubungi salah satu keluarga asal Silalahi yang sebelumnya pernah berdiskusi tentang hal yang sejenis, dan menguasai sebidang lahan di lokasi yang “diimpikan” Oxygen Community, dia sontak mengekspresikan sukacitanya.

“Wah, memang alam sedang berpihak, saya tidak menyangka secepat ini akan menemukan solusi tentang lahan. Ini bukan suatu kebetulan, festival ini ada untuk mempertemukan orang-orang yang cinta dan peduli Danau Toba. Ternyata belum berdoa, sudah terlihat pertolongan akan datang,” ujarnya sembari bersyukur.

Kemungkinan lokasi, untuk dijadikan areal Green Camping Ground, Silalahi, Dairi (bataktoday/ajvg)
Kemungkinan lokasi, untuk dijadikan areal Green Camping Ground, Silalahi, Dairi (bataktoday/ajvg)

BatakToday mencoba menggambarkan letak dan luasan lahan yang dimaksud, dan sekali lagi Emon menyebutkan bahwa pekerjaan itu bukan mengenai skala.

“Berapa jengkal pun akan kami garap, bang. Yang terpenting, kita memulai untuk mengerjakannya. Sekali lagi, kita optimis, gerakan ini akan semakin berkembang saat dia telah dimulai dengan benar,” Emon meyakinkannya sekali lagi.

Hujan akhirnya berhenti jatuh di lokasi Camping Ground Silahisabungan Arts Festival. Setelah berbagi nomor kontak, BatakToday berjanji akan segera mengabari lagi.

Pagi itu BatakToday berpisah dalam sukacita penuh harapan dengan Emon dari Oxygen Community, anak muda yang mencintai Alam Danau Toba.

Juma Simalas, tak jauh dari lokasi perkemahan yang malam dan pagi itu dihuni anak-anak muda pecinta ‘serius’ Danau Toba, seperti berbisik…, “Alam akan berpihak kepada orang-orang yang mencintainya!” (ajvg)

News Feed