oleh

Pancasila Benteng Bersama, Aksi Spontan Warga untuk Petisi Indonesia Damai

Jakarta, BatakToday

Meski sempat diwarnai suasana ‘asing’ ketika sekelompok pendukung Gubernur/Wakil Gubernur DKI terpilih, Paslon Nomor 3 Anis-Sandiaga, mendekat dengan teriakan “Ayo bersatu, NKRI Harga Mati! Bersatu Kita Teguh, tapi Terkotak-kotak Kita Runtuh…!”, namun tidak mengurangi keinginan para aktivis Batak Muda Dunia (Badania)  bersama warga untuk menunjukkan semangat perdamaian sambil berjalan mengelilingi Bundaran HI, dalam aksi “Petisi Indonesia Damai”, bersamaan dengan Car Free Day, Jakarta, Minggu pagi (07/05/2017).

Sejumlah polisi yang sedang bertugas di sekitar Bundaran HI akhirnya menghampiri kerumunan kedua kelompok ini untuk memastikan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Pilkada DKI telah usai dan pemenang pun telah diketahui oleh seluruh masyarakat melalui hasil Quick Count maupun Real Count yang dapat diakses umum. Namun disayangkan nuansa kompetisi yang selama ini berjalan kurang sehat masih terasa tersisa di tengah-tengah masyarakat. Pilkada yang berlangsung dengan cara-cara yang kurang sehat dengan diwarnai munculnya isu SARA, kali ini menghasilkan ketakutan dan kecemasan. Pada gilirannya, juga menimbulkan rasa saling curiga serta potensi perpecahan bangsa.

Warga menandatangani Petisi Indonesia Damai (doc. Charles Siahaan)
Warga menandatangani Petisi Indonesia Damai (doc. Charles Siahaan)

Keprihatinan akan hal di atas melatarbelakangi para aktivis Batak Muda Dunia (Badania) yang dideklarasikan 22 Agustus 2016 di Balige, Sumatera Utara, untuk menyelenggarakan aksi “Petisi Indonesia Damai” di sekitar Bundaran HI, Jakarta, di tempat Badania sebelumnya kerap melakukan aksi independen   “Tolak Politik Uang”.

Beberapa aktivis Badania, diantaranya Charles H.M. Siahaan, SH, Imanta Ginting, Syaiful Amin Lubis serta Eka Anindya, SH, bertekad mengajak warga, terutama warga Jakarta, untuk menghilangkan perasaan buruk akibat isu SARA yang berpotensi menimbulkan perpecahan bangsa tersebut melalui aksi yang dilaksanakan Minggu pagi (07/05/2017), di sekitar Bundaran HI.

Aktivis, warga dan anggota Kepolisian berpose bersama (doc. Charles Siahaan)
Aktivis, warga dan anggota Kepolisian berpose bersama (doc. Charles Siahaan)

Charles Siahaan menyampaikan agar masyarakat untuk tidak diam menghadapi isu SARA, maupun radikalisme yang disebarkan pihak yang menginginkan perpecahan Bangsa ini.

“Sebagaimana mengutip pernyataan Kapolri Jendral Tito Karnavian beberapa waktu sebelumnya, yang bersifat ajakan kepada masyarakat, untuk tidak “Diam” menghadapi isu SARA, sikap intoleran maupun gerakan Radikal, maka kami mencoba bergabung dengan komponen komunitas maupun kelompok warga yang sepemikiran, untuk melakukan aksi turun ke jalan, mengajak warga untuk berani menyatakan sikap perlawanan terhadap isu SARA, Radikalisme maupun Intoleran tersebut. Beberapa waktu sebelumnya sejumlah kelompok warga mendatangi kami untuk bertukar pikiran serta saling evaluasi kondisi masyarakat yang cukup memprihatinkan ini. Juga meminta kepada kami, untuk ikut membantu dan bekerja sama mengadakan aksi turun ke jalan. Singkatnya kamipun bersepakat untuk mengadakan aksi “Petisi Indonesia Damai” dalam gerak Aliansi Komunitas Anak Bangsa yang menyuarakan “Saatnya Perkuat diri dengan Gerakan Budaya” sebagaimana sebelumnya juga sering diteriakkan oleh inisiator Gerakan Batak Muda Dunia, yaitu Sabar Mangadu Tambunan, bahwa kita bersama-sama dapat menangkal semua itu melalui “Gerakan Kebangkitan Suku-Suku di Indonesia Melawan Radikalisme dan Politik Uang”. Sekaligus kami bersepakat untuk menyuarakan “Pancasila sebagai Benteng Indonesia & NKRI Harga Mati”. Ini aksi damai dan independen,” papar Charles kepada Bataktoday.

Kain berisi tandatangan Petisi Indonesia Damai dibawa menuju Bundaran HI (doc. Imanta Ginting)
Kain berisi tandatangan Petisi Indonesia Damai dibawa menuju Bundaran HI (doc. Imanta Ginting)

Sebagai gerakan awal komunitas ini, dengan diinisiasi Badania yang selama ini bergerak independen untuk Pilkada Jakarta Bersih, bersepakat untuk turun melakukan aksi “Petisi Indonesia Damai” pada kegiatan Car Free Day (CFD) hari Minggu kemarin, di sekitar Bundaran HI.

Petisi ini berisikan tuntutan sbb: 1) Kembali Ke Jati Diri Bangsa, 2) Selamatkan Bhineka Tunggal Ika, 3) Pertahankan Pancasila Sebagai Benteng Indonesia, dan 4) Tolak Radikalisme & Intoleransi.

Dimulai sekitar pukul 06.00 Wib, dengan tersebar di beberapa titik sekitar Bundaran HI, dengan segala keterbatasan logistik berupa banner, spanduk, makanan/minuman, serta sumber daya lain, secara spontan mengajak warga untuk mau menandatangani Petisi di atas kain putih sumbangan warga yang peduli terhadap aksi ini.

Charles Siahaan (pakai peci) saat menyampaikan orasi (doc. Charles Siahaan)
Charles Siahaan (pakai peci) saat menyampaikan orasi (doc. Charles Siahaan)

Kain yang terisi tandatangan oleh para koordinator aksi kemudian dikumpulkan di depan halte busway Sudirman (depan Panin Bank). Para koordinator aksi yang diwakili kaum perempuan melakukan ajakan kepada warga yang sedang mengikuti Car Free Day pagi itu untuk bergembira bersama, berjoget bersama dengan tarian “Poco-Poco”, “Maumere” dan lain-lain.

Aksi ini menarik simpatik banyak warga dan kemudian turut mencantumkan tandatangannya untuk Petisi Indonesia Damai. Sekitar 50 meter kain terisi penuh tandatangan warga dalam waktu yang tidak terlalu lama.

“Sayang kami tidak memiliki kain petisi dalam jumlah lebih banyak,” ujar Eka Anindya, salah satu anggota luar biasa Badania yang turut hadir pagi itu.

Setelah kain terisi penuh dengan tandatangan, panitia aksi bersama seluruh warga yang bersimpatik, mengikuti pembacaan Doa Kebangsaan Pancasila Benteng Indonesia, yang dipimpin oleh aktivis muda Badania, Syaiful Amin Lubis.

Setelah doa diaminkan, para peserta spontan mengarak kain petisi tersebut menuju Bundaran HI, bersama dengan spanduk Badania yang selama ini cukup dikenal warga dengan aksi “Tolak Politik Uang”. Ratusan warga bersama para aktivis berjalan menuju Bundaran HI, dan mengelilingkan kain petisi dan spanduk-spanduk lainnya di tempat itu.

“Gerakan ini diterima oleh kebanyakan warga, dan bahkan beberapa anggota Kepolisian yang ada saat itupun ikut tersenyum dan minta kesempatan foto bersama (selfi) dengan kami,” sebut Imanta Ginting menunjukkan kegembiraannya atas dukungan yang diperoleh untuk aksi pagi itu.

Kain berisikan tandatangan untuk Petisi Indonesia Damai dibawa mengelilingi Bundaran HI (doc. Charles Siahaan)
Kain berisikan tandatangan Petisi Indonesia Damai dibawa mengelilingi Bundaran HI (doc. Charles Siahaan)

Charles Siahaan menyebutkan, suasana dan sambutan warga pagi itu menjadi motivasi buat mereka. Bersama komunitas pendukung, mereka sepakat untuk melanjutkan Petisi Indonesia Damai, bahkan ke daerah-daerah di luar Jakarta.

“Tadi ada sedikit, katakanlah itu semangat dengan ‘rasa asing’ dari teman-teman kita, pendukung Anis-Sandiaga, ketika kita dengan semangat Indonesia Damai mengelilingi Bundaran Hl. Itu juga menjadi dorongan buat kita semua, bahwa butuh semangat lebih untuk Indonesia Damai. Terimakasih buat teman-teman semua, termasuk pendukung Anis-Sandiaga, yang tadi turut menyemangati kita. Komunitas ini bersepakat untuk mengadakan aksi–aksi yang sama di daerah-daerah lain. Di daerah mana saja, itu semua tergantung warga serta sumber daya. Kami bertekad mengumpulkan jutaan tandatangan Rakyat Indonesia dalam “Petisi Indonesia Damai”, untuk disampaikan kepada Pemerintah, Polri, TNI atau lembaga lain sesuai kesepakatan bersama dengan teman-teman semua. Semuanya ini mungkin, iya kan?” tantangan sekaligus harapan dari Charles Siahaan. (ajvg)

News Feed