oleh

Pastor Rantinus Manalu, “Sabda TUHAN Menjadi Petunjuk Jalan”

Pematangsiantar, BatakToday

Pastor Rantinus Manalu Pr. resmi mendeklarasikan diri sebagai bakal calon bupati Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Kamis (30/6) lalu, di Pandan, ibu kota Kabupaten Tapanuli Tengah.

Pastor yang bertugas sebagai imam di Keuskupan Sibolga ini berpasangan dengan Ustad Solidikin Lubis sebagai calon wakil bupati, melalui jalur independen atau perseorangan.

Sebelumnya, pada Minggu (26/6) BatakToday bertemu dengan Pastor Rantinus dalam acara Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Parsadaan Toga Manalu Boru Bere (PTMBB) Sumatera Utara, yang diselenggarakan di Hotel Sapadia, Pematangsiantar.

Berikut ini petikan wawancara BatakToday dengan Pastor Rantinus, sehubungan dengan rencana pencalonannya sebagai bupati Tapanuli Tengah dalam Pilkada 2017 yang akan datang.

BatakToday (BT):

Amang (Bapak) Pastor didukung Keluarga Besar Manalu, dan sekaligus adalah imam di Gereja Katolik. Sejauh apa dukungan atau restu dari Gereja Katolik untuk Pastor terjun ke dalam politik praktis? Karena (fenomena) ini baru yang pertama di Indonesia.

Pastor Rantinus (PR):

Jadi, soal terjun ke politik praktis, itu sebenarnya dilatarbelakangi oleh keberpihakan gereja kepada persoalan–persoalan Hak Azasi Manusia, yang selama ini banyak terjadi pelanggarannya di daerah kami, Tapanuli Tengah.

Lalu, berangkat dari fakta, bahwa memang figur yang berpihak pada rakyat itu tidak banyak ditemukan, maka masyarakat mengusulkan supaya pimpinan daerah ke depan, itu yang benar-benar berpihak pada rakyat.

Oleh pihak Gereja, saya sebagai Pastor, boleh dikatakan agak sulit memberikan izin. Tapi secara hukum, bisa diatasi dengan cara aktivitas sebagai pimpinan gereja itu, misalnya, ditarik dulu selama menduduki jabatan publik nantinya.

Kalau sudah selesai jabatan publik, fungsi dan penugasan untuk pelayanan gereja itu diaktifkan kembali.

Jadi, bukan berarti bahwa kalau duduk dalam posisi jabatan publik, harus keluar dari imam, tidak. Tapi sebagai pastor memang fungsinya sebagai pelayan gereja tidak diaktifkan, supaya fokus pada tugas-tugas pelayanan publik dalam pemerintahan.

Jadi, PTMBB dalam hal ini, rupanya juga menanggapi positip, sebagai bagian dari upaya mereka dalam keterlibatan untuk kesejahteraan umum.

Posisi Gereja dan Keluarga Besar Marga Manalu, ada dalam posisi mendukung upaya penyejahteraan masyarakat umum.

Pastor Rantinus dikenal publik melalui upaya-upaya pendampingan masyarakat, terkait dengan penegakan Hak Azasi Manusia (HAM). Pada tahun 2009, Romo Rantinus aktif menggelar aksi dan berjuang  bersama masyarakat yang lahannya diambil untuk menjadi lokasi perkebunan sawit. Kala itu, Romo Rantinus juga ditetapkan sebagai tersangka. Upaya Pastor Rantinus tidak surut oleh tekanan pihak penguasa dan pengusaha, walaupun harus berkali-kali berurusan dengan aparat ‘penegak’ hukum.

BT:

Selama ini Pastor sendiri sudah banyak bekerja untuk mendampingi masyarakat Tapanuli Tengah. Apakah belum cukup?

PR:

Sebenarnya penilaian cukup atau belum, bukan dari saya. Itu dari mereka, atau masyarakat yang selama ini terdampingi.

Banyak persoalan memang, masalah itu dalam posisi eksekutif, atau pejabat daerah. Kalau seandainya pejabat daerah bekerja sesuai dengan aturan, masalah-masalah yang merugikan rakyat ini pasti tidak banyak terjadi.

Maka sekarang dibutuhkan figur yang betul-betul menghargai peraturan, melaksanakan perundang-undangan, sehingga yang dilindungi terutama  hak-hak mereka yang dari pinggiran, atau orang lemah.

BT:

Secara pribadi, apakah itu menjadi kerisauan atau kegelisahan buat Pastor selama ini?

PR:

Sejak tahun 2007 saya aktif untuk pendampingan masyarakat di bidang pelanggaran HAM. Itu justru karena keprihatinan. Jadi tidak mungkin seseorang, contohnya saya, sampai bersedia disangkakan sebagai perambah hutan, dan juga dikatakan pencemaran nama baik, diadukan oleh dua orang bupati, kalau seandainya tidak ada keprihatinan atas ketidakadilan yang terjadi di tengah masyarakat.

Jadi ini murni memang awalnya demi masyarakat. Lalu masyarakat melihat ini sekarang, yang seperti inilah figur. Itu barangkali yang saya baca, dari fenomena ini.

BT:

Memang Gereja Katolik diketahui menjunjung tinggi nilai-nilai universalisme. Lantas, untuk komposisi masyarakat Tapanuli Tengah sendiri, yang cukup beragam, apakah yakin akan dukungan dari masyarakat yang beragama lain?

PR:

Baik, jadi saya melihat dari yang muncul. Jelas kita bedakan, apakah saya diusulkan oleh marga Manalu supaya ‘maju’? Ternyata tidak. Apakah saya diusulkan oleh Gereja Katolik? Malah ‘orang ini’ mengatakan jangan. Karena pastor itu jangan-jangan nanti tidak pastor lagi. Artinya, karena kasih, mereka tidak mau saya menjadi tidak pastor.

De facto, bahwa masyarakatlah yang mengusulkan saya menjadi bupati, dan mereka berusaha untuk mendapatkan syarat dukungan untuk itu.

Maka, sekarang masyarakat, katakanlah itu yang pluralis, itulah yang lebih dulu mendukung. Kalau hanya Katolik yang mendukung saya, pasti tidak akan dihargai orang. Tapi justru karena dari berbagai latarbelakang budaya dan agamalah yang menonjolkan diri ke depan untuk mengusulkan saya, maka ini menjadi dampaknya sangat luas.

Jadi saya yakin, perhitungan yang dilihat itu sektarian untuk pencalonan seseorang, di Tapteng dalam fenomena sekarang, itu tidak terlalu populer. Artinya, memang mereka melihat figur, bukan dari masalah sekte, atau kelompok agama.

BT:

Gambaran nantinya, kabupaten itu sendiri tidak terlepas dari hirarki pemerintahan, baik ke propinsi maupun ke pemerintah pusat. Apakah Pastor Rantinus yakin, dapat eksis atau tetap dengan etika atau idealismenya sebagai pemimpin di daerah?

PR:

Jadi saya melihat politik sebagai seni dalam tata negara dan kekuasaan, menuju kepada kesejahteraan umum. Jadi di sinilah kita, dalam seni ini, memang berperan sebagai orang penting yang juga di samping orang lain yang penting. Maka jangan dilihat ini sebagai eksistensi seorang figur yang bernama Pastor Rantinus, yang kebetulan jadi bupati. Pemerintahan selalu terkait dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah, semua punya kewenangan tersendiri. Maka dalam hal ini saya melihat, yaitu kerjasama.

Memang benar bahwa akan sangat tertantang. Pertama masyarakat melihat figur ini karena moralitas yang tinggi. Akankah mendapat relevansi prinsip moralitas yang kupegang, dalam mentalitas pemerintahan, oknum pemerintahan yang sekarang?

Tapi kita harus sadar mulai sekarang, justru masyarakat menonjolkan tokoh agama yang dua orang ini, saya dan Ustad Sodikin Lubis sebagai pimpinan agama Islam, justru karena moralitas. Kalau memang ingin eksis, maka bertahanlah pada moralitas. Supaya berpihak kepada rakyat.

Selalu ada grafik terbalik, ketika kita memihak kepada rakyat, ada kesulitan kepada pihak elit. Itu dalam politik biasa sekali. Ketika kita berpihak kepada elit, ikut arus mereka, rakyat akan mengkritik, bahwa ini bukan pemerintahan yang baik.

Nah, maka kita harus lihat rakyat sebagai kekuatan, yang menjadikan kita duduk. Tetapi sebenarnya Undang-Undang harus menjadi yang mengatur semua kekuatan, semua  elemen kekuatan. Sehingga memang tidak ada yang terlalu dominan. Masyarakat juga jangan terlalu tinggi sekalilah obsesinya, kita juga manusia, kan gitu?

Juga pemerintah, oknum-oknumnya, sadarlah, sekarang perlu reformasi. Revolusi mental yang dikatakan oleh Jokowi, itu bukan omong kosong. Di berbagai segi sekarang sudah nampak, kan?

Dan itu kita mau mulai dari Tapteng. Bersedia nggak para elit politik dan juga birokrasi yang selama ini sudah terjun begitu “jauh”; untuk sedikit pelan-pelan berubah ke arah yang lebih baik. Jadi pemerintahan yang bermartabat dan berintegritas, ini yang kita mau coba.

BT:

Apakah ada tokoh dalam Alkitab, atau dalam sejarah Gereja Katolik atau Sejarah Agama Kristen yang menjadi inspirasi buat Pastor untuk melangkah lebih lagi?

PR:

Hanya satu, Sabda TUHAN cukup bagi saya untuk menjadi petunjuk jalan.

Dari segi pastoral, idola saya Paulus. Yang pergi ke mana-mana tanpa membebani umat, melakukan banyak hal, meskipun harus berkorban. Nilai yang diperjuangkan adalah Sabda YESUS. Jadilah pelayan bagi semua orang untuk menjadi yang terbesar dalam Kerajaan ALLAH. Itu saja.

BT:

Kemudian pasangan Pastor sendiri adalah seorang Ustad. Apakah ada tokoh tokoh Muslim yang menjadi inspirasi buat Pastor?

PR:

Dari segi pluralisme dan keberpihakan kepada orang kecil, saya melihat dalam gaya hidup dan juga opini-opininya, saya sangat senang dengan Gus Dur. Kalau untuk Indonesia, ya Gus Dur.

BT:

Kemudian, apakah Pastor melalui jalur perseorangan atau juga mengharapkan dukungan dari partai politik?

PR:

Masyarakat yang mengusulkan saya menjadi bupati menentukan supaya kami lewat jalur independen atau perseorangan.

BT:

Apabila ada partai politik yang secara eksplisit juga memberi dukungan?

PR:

Saya tidak mau mengecewakan hati rakyat yang memang sangat menggebu-gebu untuk menunjukkan bahwa mereka punya sikap politik yang baik, tetapi juga akomodatif terhadap partai yang mau mendukung, misalnya seperti di DKI, beberapa partai mendukung meskipun jalur independen.

BT:

Apakah Pastor sendiri tidak melihat akan ada potensi resistensi dari partai politik di parlemen daerah?

PR:

Jadi sebenarnya ini sekarang begini, dari segi partai politik, ada semacam kejenuhan orang dengan sulitnya pendekatan, itu dilihat rakyat. Maka mulai dari kekuatan rakyat. Jadi saya sendiri melihat, partai politik harus ada. Melalui partai politiklah ditempa kader mereka untuk jadi pemimpin.

Tapi fenomena sekarang, partai politik itu memang hampir boleh dikatakan tidak ada yang bisa diandalkan untuk cita-cita rakyat, menjadi pintu masuk, atau katakanlah itu semacam lembaga politik, yang mengantar kepada kesejahteraan. Jadi, kader mereka tidak seperti ini (dalam menentukan sikap), baru beberapa tokoh saja, memang memutuskan harus jalur independen. Untuk membuktikan dirinya memang betul-betul pro rakyat.

Di sini kita lihat resistensi terhadap partai politik itu ada dalam perkembangan sejarah, yang sampai sekarang kita lihat, belum menjadi pilihan rakyat. Tapi kita harus memulai untuk mendidik rakyat, untuk menghargai partai politik, karena memang negara ini punya pemimpin harus lewat pengasahan dari kaderisasi yang dilakukan oleh partai politik.

Kebetulan sekarang ini tidak berjalan dalam partai-partai politik, sehingga mereka memang kesulitan sekali untuk mencari figur yang memang bagus menjadi pemimpin. Itu kesulitannya.

BT:

Pastor lahir dan dibesarkan di mana?

PR:

Saya dilahirkan dalam keluarga seorang petani, boleh dikatakan petani miskin (kedua mata Pastor Rantinus terlihat berkaca-kaca, dengan suara bergetar, sedikit terbawa emosi ). Tetapi bapak dan mamak saya selalu berpegang, supaya tidak membawa ke rumah makanan atau hasil pekerjaan dari perbuatan, katakanlah kita mencuri atau apa.

Jadi, bahasanya begini, “Unang diboan tu son sipanganon na marrogon”, artinya (jangan bawa ke rumah) hasil dari yang tidak halal. Nah, ini prinsip yang membentuk kami pada umumnya untuk menghargai pekerjaan dan menghargai kejujuran. Itu, latar belakang itu.

BT:

Apakah Pastor dulu sewaktu masih anak-anak bercita-cita menjadi pastor?

PR:

Ya, bercita-cita jadi pastor, tapi tidak bercita-cita jadi bupati,…ha ha ha ha…

Pastor Rantinus tertawa terbahak, menunjukkan dia berhasil menebak rencana pertanyaan selanjutnya, atau pertanyaan terakhir dari BatakToday. (ajvg) 

Foto:

Pastor Rantinus Manalu Pr., bakal calon bupati Tapanuli Tengah dari jalur independen, berpasangan dengan Ustad Solidikin Lubis sebagai bakal calon wakil bupati untuk Pilkada 2017, foto diambil di Hotel Sapadia Pematangsiantar, Minggu 26/6/2016 (bataktoday/ajvg)

https://youtu.be/FMQjjQUA6os

News Feed