oleh

Pelajaran Toleransi dari Pedalaman Tapanuli Utara

Taput, BatakToday –

Toleransi dengan mudah dipahami ketika natal tiba di Muara Tolang, desa terpencil di Kecamatan Simangumban Kabupaten Tapanuli Utara. Dari Tarutung, Muara Tolang harus ditempuh dengan naik mobil selama 4 jam melewati jalan di perbukitan yang baru diperkeras dengan batu kali. Di desa dengan penduduk tidak lebih dari 100 kepala keluarga itu ada pemeluk Islam dan Kristen. Sebuah masjid berdiri tegak di sisi kiri jalan utama yang membelah desa, sedangkan gereja HKBP ada di ujung jalan.

Perayaan natal tahun ini diselenggarakan di dalam gereja yang dihadiri oleh seluruh jemaat kristen dan tetua warga muslim. Di akhir acara liturgi, ustad maju ke mimbar untuk mengucapkan selamat natal. Acara masih dilanjutkan dengan panggung musik dengan organ tunggal di halaman gereja. Penyanyi utamanya tenor bersuara emas yang melengking tinggi dengan baju berpayet gemerlap.

Lagunya mulai dari lagu natal sampai lagu Batak yang selalu disambut dengan nyanyian massal penonton yang hadir. Penyanyi itu juga menyelingi nyanyiannya dengan lelucon yang membuat semua orang tergelak. Di akhir acara semua orang berjoget diiringi lagu melayu Selayang Pandang, Jamilah dan tentu saja Maumere Gemu Fa Mi Re.

Di pesta bersama seperti ini hidangan utamanya adalah daging kambing yang dimasak bersama di dapur umum yang dibangun di samping gereja. Tidak ada daging babi meski itu adalah pesta natal.

Pada pesta pernikahan demikian juga. Masyarakat yang dewasa selalu mampu untuk membuat kesepakatan kultural untuk menyikapi perbedaan. Mereka berjoget sampai dinihari tanpa merasa kuatir sebagai muslim kelak akan dihukum di api neraka karena datang di pesta natal, mendengarkan lagu malam kudus dan menyalami warga kristen yang sedang merayakan hari raya.

Mungkin karena tidak ada fesbuk di Moara Tolang karena sinyal tak tertangkap dengan mudah, dan tidak ada orang yang mulutnya gemar menyemburkan api permusuhan. (Jay Wijayanto/Wonderful Danau Toba)

News Feed