oleh

Pementasan The Story of Buku Ende: Hymns from The Batakland (In Choral Drama)

Medan International Convention Center (MICC), 29 Oktober 2016

Medan, BatakToday

SVARA SACRA CHOIRS akan mementaskan pertunjukan “The Story of Buku Ende: Hymns from The Batakland (In Choral Drama)” di Medan International Convention Center (MICC), Medan, pada tanggal 29 Oktober 2016 mendatang.

Pertunjukan ini merupakan lanjutan dari sukses pada tiga pementasan Svara Sacra Choirs sebelumnya, yaitu pementasan perdana di Tiara Convention Hall Medan pada September 2013, dilanjutkan pementasan kedua di Sasana Budaya Ghanesa (SABUGA) Bandung pada September 2014, dan yang ketiga di Plenary Hall Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta pada September 2015.

Karya choral drama ini, yang merupakan karya Rithaony Hutajulu dan Irwansyah Harahap, mengambil tema cerita dari naskah lagu-lagu pujian “BUKU ENDE” Batak Kristen.

story-of-buku-ende-1

Pementasan ini melibatkan sekitar 120 orang pemeran, yang terdiri dari paduan suara, para penyanyi solis profesional, pelakon drama dan para musisi tradisional (uninguningan dan gondang sabangunan), serta kelompok orchestra Barat.

Perencanaan dan persiapan pentas “The Story of Buku Ende: Hymns from The Batakland” mendatang ini, telah dikerjakan sejak awal tahun 2016, atas prakarsa manajemen SVARA SACRA Medan.

Sejarah terbentuknya Svara Sacra diawali dari keinginan untuk mengembangkan kreativitas, rohani, sosial dan budaya.  Berdiri pada Maret 2013, dengan dimotori Ir. Donald Tobing dan Dr. Victor Lumbanraja MSP, MAP., yang melibatkan para individu Batak dari berbagai bidang karya, keahlian dan kalangan, khususnya mereka yang berdomisili di Medan.

Cikal bakal dan spirit kebersamaan kelompok ini dimulai sejak 2005 saat  menampilkan produksi pertunjukan musik “Tribute to GORGA (Drs. Bonar Gultom)” pada April 2005 di Medan. Pertunjukan tersebut meraih sukses dan perhatian cukup besar dari berbagai kalangan. Dari momentum tersebutlah kemudian kelompok Svara Sacra  terbentuk.

story-of-buku-ende-3

Kelompok ini bertujuan memberi kontribusi di dalam mewarnai kehidupan peradaban kemasyarakatan, khususnya melalui pendekatan kreatif dalam berkesenian, dengan berbasis ke-Kristen-an, yang dipadukan dengan ke-Batak-an.

Dalam perjalanannya, Svara Sacra Choir mengemban misi melalui kegiatan pembinaan paduan suara,  konser, pergelaran, penampilan di berbagai acara; untuk pembinaan bagi generasi  muda gereja.

Dari sisi artistik, pementasan yang dimotori oleh Rithaony Hutajulu (director) ini, dengan dibantu oleh Irwansyah Harahap yang bertindak sebagai co-director dan music director.

Keduanya adalah dosen Fakultas Ilmu Budaya USU, sekaligus juga sebagai pendiri kelompok Suarasama, yang album musiknya telah diterbitkan Smithsonian Institute USA dan Drag City, Chicago USA.

story-of-buku-ende-11

Bertindak sebagai multimedia designer MJA Nashir, seorang penulis asal Pekalongan dan juga pembuat film tentang ulos “Rangsa Ni Tonun”, bekerjasama dengan antropolog Belanda Sandra Niessen.

Persiapan pementasan kali ini dikerjakan sejak bulan Februari 2016, waktu yang relatif panjang untuk sebuah pementasan, demi mematangkan berbagai materi pementasan di MICC Medan nanti. Persiapan-persiapan yang dilakukan termasuk di dalamnya rehearshal paduan suara secara intensif, penataan ulang scenes cerita dan lakon choral drama, serta eksplorasi terhadap tata ruang pentas dengan pendekatan multimedia.

Rithaony Hutajulu sebagai director dalam pementasan ini, mengatakan tentang persiapan matang demi mempersembahkan sesuatu yang lebih mengesankan dari pementasan sebelumnya.

“Dalam pementasan ‘The Story of Buku Ende’ kali keempat ini, kita kerjakan lebih solid dan lebih matang lagi. Meski tema dan pesan pementasan tetap sama. Dengan memperkaya scenes pada alur cerita dan ilustrasi visual dengan orkestrasi musik akustis Barat, kita menginginkan para penonton pertunjukan kali ini mendapatkan pesan yang lebih dari pementasan-pementasan sebelumnya,” paparnya.

story-of-buku-ende-2

Ditambahkannya lagi, pementasan kali ini akan melibatkan banyak anak-anak muda.

“Dalam pementasan ini, kami melibatkan anak-anak muda potensial di dunia orkestrasi musik paduan suara. Ada Ken Steven (music conductor) lulusan The Asian Institute for Liturgy and Music Philippines, dengan segudang prestasi, diantaranya meraih Most Promising Young Conductor pada festival paduan suara internasional “A Voyage of Songs” tahun 2015 di Penang, dan “Orientale Concentus IX tahun 2016 di Singapura. Kemudian ada Horas Simangunsong, sebagai choral choach, selama ini aktif sebagai pelatih paduan suara di kota Medan, yang berhasil membawa paduan suara Clara Belle Choir mendapat gold medal pada kompetisi paduan suara di ITB Bandung, dan festival paduan suara AVOS di Penang Malaysia.

Selain kedua seniman muda di atas, disebutkannya juga nama Tanaka Manalu, sebagai composer/arranger lulusan Institut Seni Jogjakarta.  Dan yang berperan sebagai solis utama pementasan ini, dua solis ternama di kota Medan, Diana Tobing (soprano solist) dan Ernest Simatupang (tenor solist). Keduanya aktif mengikuti berbagai perlombaan paduan suara tingkat nasional dan internasional, dan juga adalah pelatih sejumlah kelompok paduan suara.

story-of-buku-ende-5

Rithaony masih melanjutkan dengan menyebut nama bintang muda berbakat lainnya, diantaranya Gok Parasian Malau, pemenang Bintang Radio tingkat Provinsi Sumatera Utara 2013 dan peserta The Voice 2016. Dan, Niesya Harahap vokalis dan penari muda anggota kelompok Suarasama dan Mataniari yang pernah ikut pentas di New Zealand dan Jerman.

Disamping para seniman muda di atas, Rithaony menyebut sebuah nama yang tidak asing di kancah musik tradisional Batak.

“Selain anak-anak muda, dalam pementasan ini tidak ketinggalan musisi tradisi legendaris Batak Toba, Marsius Sitohang Si Raja Seruling. Musisi yang mendapat gelar maestro dari Kemendikbud RI tahun 2013, dan punya pengalaman pertunjukan di Eropah, Amerika dan beberapa negara Asia, dan permainan musiknya telah direkam dan diterbitkan di Eropa dan Amerika,” sebutnya.

story-of-buku-ende-4

Dia mengharapkan pementasan pada tanggal 29 Oktober ini mendapat perhatian dan sukses yang besar sebagaimana pentas pertunjukan sebelumnya.

Diharapkan juga pentas pertunjukan ini dapat menjadi sebuah inspirasi baru dalam menghadirkan tema-tema sosial-spiritual, khususnya kehidupan masyarakat Batak di tengah masyarakat luas lainnya.

Di akhir rilis yang diterima BatakToday, Rithaony menyampaikan pesan agar tidak ketinggalan untuk menyaksikan pementasan ini.

“Jangan sampai ketinggalan, mungkin saja harus menunggu setahun lagi untuk bisa menyaksikannya kembali!” tutup Rithaony Hutajulu.(rel/ajvg)

News Feed