oleh

Pemugaran Balai Kota Siantar, Sekaligus dengan Penghuninya

Oleh: Arif JV Girsang

Tadi pagi penulis bertemu dengan seorang teman lama di salah satu warung kopi yang terletak sepanjang stasiun angkutan kota Pasar Horas Pematang Siantar. Dalam obrolan antara teman lama, sampai kepada sekolah dan pendidikan anak-anaknya.

Dia mencemaskan prospek si sulung yang kuliah di Jurusan Sejarah Universitas Sumatera Utara.

Saya katakan, jangan pandang enteng dengan sejarawan. Justru salah satu kekurangan Indonesia dalam perkembangannya adalah karena mengabaikan sejarah, tidak melibatkan para sejarawan untuk pembangunan di segala bidang.

Untuk menegaskan betapa sejarah tak dapat diabaikan begitu saja, saya mengingatkannya akan jargon Jas Merah-nya Bung Karno: jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

Mendengar perkataan ini, dari perobahan rona wajahnya, saya melihat harapannya pulih kembali terhadap si sulung yang disiapkan menjadi batu kilometer untuk adik-adiknya, untuk generasi penerusnya.

Dalam pemberitaan BatakToday Jumat 11/12, dengan judul Balai Kota Siantar Segera Dipugar Sesuai Aslinya, disebutkan Balai Kota sebagai warisan budaya sekaligus warisan sejarah Kota Siantar. Balai Kota Siantar akan dipugar pada tahun 2016 yang akan datang, untuk dikembalikan ke bentuk semula.

Sering kita dengar istilah pengulangan sejarah. Maka di sinilah sejarah masa lalu Kota Siantar, melalui Balai Kota Siantar yang akan “diulang” kembali. Pemugaran warisan budaya, yang juga warisan sejarah Kota Siantar, pantas untuk diulangi kembali.

Warga Siantar patut berbangga hati, sebab tidak semua kota atau daerah memiliki warisan sejarah yang setara dengan Kota Siantar.

Menarik untuk membayangkan bagaimana Balai Kota Siantar saat dikembalikan kepada bentuk semula. Juga tak kalah menariknya membayangkan siapa yang akan menempatinya untuk pertama kali, sebagai pemimpin Kota Siantar, setelah dipugar nantinya.

Namun warga Siantar boleh berharap, siapa pun pemimpin yang akan duduk di Balai Kota, kiranya mereka  pemimpin yang kelak juga akan meninggalkan sejarah yang baik untuk kota ini.

Limabelas tahun terakhir, sejarah kota ini ternoda justru oleh mereka-mereka yang memimpin kota ini. Mulai dari masalah gonta-ganti wali kota akibat saling menjatuhkan; mantan wali kota yang berakhir di bui akibat sebelumnya salah dalam mengelola kekuasaan; skandal “voucher politik”; wali kota dan wakil wali kota “saling cakar” di kebun binatang; dan berbagai noda lainnya yang bersumber dari pimpinan yang bersinggasana di Balai Kota.

Sejarah yang menghasilkan kebaikan pantas untuk diulangi, sebaliknya sejarah yang tidak menghasilkan kebaikan seharusnya tidak diulang kembali.

Pertanyaannya, apakah kita sebagai warga Kota Siantar mau mendesain sedemikian rupa, sehingga pemimpin yang kita antar ke singgasana di Balai Kota Siantar, tidak berpotensi besar untuk kembali menodai sejarah kota ini?

Dengan sumber daya yang dimiliki, dan niat dan dukungan warga kota, kita akan mengulang salah satu dari sejarah yang baik kota ini, melalui rencana pemugaran Balai Kota Siantar.

Sejarah Pemerintahan Kota Siantar limabelas tahun terakhir adalah sejarah yang ternoda. Setidaknya, jangan ternoda lagi sejarah yang sedang kita bangun untuk lima tahun ke depan.

Tiada niat penulis bahkan untukmembayangkan betapa akan menjadi sebuah bencana bagi kota ini, apabila pemimpin yang sampai di Balai Kota semata-mata dengan jurus money politic.

Juga tidak ingin mengatakan akan lebih parah lagi, jika yang sampai di sana adalah pemimpin yang tidak memenuhi syarat, atau pun dengan cara-cara lain yang melanggar hukum, apalagi dengan cara yang tidak bermartabat.

Yang kita inginkan bersama tentu pimpinan yang dihasilkan dengan cara-cara yang demokratis, mematuhi hukum, bermartabat, dan mencerminkan peradaban yang egaliter, serta mampu memimpin warganya dengan bijaksana, untuk menorehkan sejarah Kota Pematang Siantar yang baik.

Penjabat Wali Kota, Jumsadi Damanik , dan tentunya kita warga Siantar, berharap pemugaran dilakukan secara hati-hati dengan mempedomani gambar aslinya. Dengan demikian, bangunan ini nantinya dapat menggugah memori kolektif kita, bahwa Kota Pematang Siantar ini sudah modern dan beradab di zaman Hindia Belanda.

Demikian halnya dalam memilih pemimpin Kota Siantar untuk lima tahun ke depan. Dengan kesadaran, hikmat kebijaksanaan, kejernihan hati dan pikiran, kita memilih pemimpin kota ini. Dengan demikian, kita juga turut membangun pondasi sejarah Kota Siantar yang baik.

Pondasi sejarah kota ini dibangun oleh warganya sendiri. Sejarah apa yang kita bangun, itu yang akan diwariskan kepada anak cucu.

Untuk mengembalikan sejarah yang baik tentang kota ini, tidak cukup dengan memugar Balai Kota Siantar saja, tetapi harus disertai dengan memilih pemimpin yang baik, agar dapat mewariskan sejarah yang baik tentang Kota Siantar yang kita cintai. (***)

Penulis adalah pemimpin redaksi BatakToday; tulisan merupakan pendapat pribadi penulis.

 

Foto: Balai Kota Pematang Siantar tempo doeloe. (bataktoday/jas)

News Feed