oleh

“Pernikahan Hantu” dalam Pilkada Simalungun 2015

Oleh: Arif JV Girsang

–… boneka pengantin diperlakukan seolah-olah dia hidup dan ikut berpartisipasi dalam proses pernikahan…, setelah perayaan pernikahan, boneka itu dibakar…–

Tahun ini, hari Senin, tanggal 8 Februari 2016, menjadi puncak perayaan Tahun Baru Imlek 2567. Saudara sebangsa, warga Tionghoa yang merayakannya, akan menikmati hari baru hingga hari ke-15, Cap Go Meh, yang jatuh pada tanggal 22 Februari 2016.

Layaknya sebuah hari raya, penuh kegembiraan dan sukacita yang di dalamnya selalu terdapat harapan baru untuk sukses baru, kemakmuran dan kesejahteraan bagi setiap yang merayakannya. Dalam Konteks Kebangsaan, Hari Raya Imlek tentunya juga menjadi titik dimana bangsa Indonesia menaruh harapan baru untuk kemakmuran dan kesejahteraan bangsa dan negeri ini.

Kabupaten Simalungun, yang akhir-akhir ini menjadi sorotan di tingkat nasional, seperti juga “anak-kandung”nya, Kota Pematang Siantar, akibat kisah penundaan Pilkada 2015, sekali lagi dalam konteks kebangsaan, seluruh warganya juga turut merayakan Hari Raya Tahun Baru Imlek 2567.

Kabupaten Simalungun, atau Simalungun, menjalani dua perayaan “pesta besar” pada bulan Februari 2016 ini. Hari Raya Imlek, dan Pesta Demokrasi berupa Pemilihan Kepala Daerah, yaitu Pilkada 2015 (penamaan utama: tetap), yang direalisasikan tahun 2016, dengan “gelar tambahan” Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Simalungun Susulan.

Di Indonesia, Tahun Baru Imlek ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional dengan adanya Keputusan Presiden No 19 tahun 2002 oleh Presiden Megawati Sukarnoputri. Hal ini tidak terlepas dari andil sebelumnya, dan ketulusan hati, dari Presiden Gus Dur sebagai Bapak Persamaan Hak di negeri ini.

Di Simalungun, pelaksanaan pilkada pasca penundaan Pilkada 2015 pada 9 Desember tahun lalu, “akhirnya” ditetapkan untuk dilaksanakan hari ini, 10 Februari 2016. Ini setelah sebelumnya disengketakan salah satu pasangan calon yang sebelumnya dicoret KPU Simalungun, yaitu pasangan JR Saragih-Amran Sinaga. Dengan adanya Putusan MAHKAMAH AGUNG Nomor 9 K/TUN/PILKADA/2016 Tahun 2016, KPU Simalungun akhirnya memutuskan paslon JR-Amran menjadi peserta dalam Pilkada Susulan hari ini.

Keikutsertaan paslon JR-Amran dalam Pilkada Susulan dipastikan setelah melewati jalan panjang dengan berbagai tantangan dan rintangan yang dihadapi paslon ini.

Tahun Baru Imlek hingga akhirnya dirayakan secara nasional juga bukan tidak melalui jalan panjang untuk mendapat pengakuan Negara, yang didahului oleh pengakuan terhadap warga Tionghoa sebagai salah satu suku elemen bangsa, bangsa Indonesia.

Menarik sekali menikmati keberagaman dalam keterbukaan dan kesetaraan di negeri tercinta ini setelah suku Tionghoa mendapat pengakuan penuh dari Negara. Kita sesama elemen bangsa Indonesia mendapat bonus dalam hal keberagaman oleh keberadaan suku Tionghoa yang sangat kaya dengan tradisi dan budaya.

Jauh hari sebelum NKRI berdiri, berbagai tradisi dan budaya itu sudah “mendarat” di Nusantara Raya ini, bersamaan dengan kehadiran saudara-saudara kita dari suku Tionghoa. Sangat “disayangkan”, sebagian dari tradisi itu mungkin belum dapat ditemukan dalam keseharian, sehingga kita harus beranjangsana ke bonapasogit (kampung mula-mula, red.) suku Tionghoa, di Negeri China. Tentu butuh waktu dan energi yang lebih dibandingkan dengan jika dapat ditemukan dalam keseharian di sini.

Dari sekian banyak tradisi, mungkin rada aneh bagi suku lain, namun “menakjubkan”,  di Negeri China ada sebuah tradisi untuk menikahkan orang yang telah mati,  disebut tradisi “Pernikahan Hantu” ( mínghūn, yang artinya secara harafiah adalah Perkawinan Roh.

Tentu sulit mengerti apalagi menerangkan segala sesuatunya tentang tradisi yang satu ini tanpa mengerti filosofi-nya terlebih dahulu. (Wah, bisa-bisa penulis harus menuntut ilmunya sampai ke Negeri China.) Dari literatur yang ada tentang tradisi ini, disebutkan bahwa perkawinan dapat dilangsungkan dengan kondisi kedua calon mempelai, atau salah satu, sudah meninggal dunia.

Disini kehebatan tradisi perkawinan yang satu ini dibandingkan dengan berbagai tradisi perkawinan dari suku-suku lainnya di Indonesia.

Berbagai macam tata cara, tapi salah satunya dengan mengganti salah satu atau kedua mempelai dengan boneka kertas bambu. Dengan kata lain, pengantin diwakili oleh boneka pengantin.

Pengantin yang diwakili boneka pengantin diperlakukan seolah-olah dia masih hidup, dan ikut berpartisipasi dalam proses pernikahan, sejak awal hingga akhir  prosesi perayaan pernikahan. Namun setelah perayaan pernikahan, boneka itu dibakar.

Dalam rangka perayaan Tahun Baru Imlek di Simalungun, sepertinya mustahil untuk dapat menyaksikan prosesi tradisi “Pernikahan Hantu” ini. Tetapi tidak tertutup untuk menyaksikan terjadinya analogi “Pernikahan Hantu” pada “pesta besar” yang satu lagi, yaitu Pilkada Simalungun Susulan.

Apa yang menjadi alasan hukum KPU Simalungun untuk mencoret paslon JR-Amran pada hari H-3, Pilkada 9 Desember 2015 yang lalu, adalah putusan berkekuatan hukum tetap (incracht) Mahkamah Agung RI atas terpidana (yang sebelumnya terdakwa) atas nama Amran Sinaga, yang sekaligus sebagai Calon Wakil Bupati Simalungun, berpasangan dengan JR Saragih sebagai petahana (incumbent) dalam Pilkada Simalungun 2015.

Terang benderang, tak ada satu pasal pun dalam peraturan perundang-undangan sehubungan Pilkada 2015, yang menyatakan bahwa seseorang yang sudah dijatuhi hukuman pidana yang telah berkekuatan hukum tetap, seperti yang telah ditetapkan untuk Amran Sinaga, dapat menjadi calon kepala daerah atau wakil kepala daerah.

Dalam perjalanan proses hukumnya, Majelis Hakim Agung di Mahkamah Agung RI,  kemudian memutuskan paslon JR-Amran diperbolehkan melanjutkan perjalanan sebagai peserta yang sah, entah secara hukum yang mana, sehingga akhirnya tetap dapat mengikuti Pilkada Simalungun.

Kita kemudian akan menyaksikan, jika pun menang dalam pilkada, demi hukum pasangan JR-Amran tidak boleh “dilanggengkan” untuk hidup bersama sebagai pasangan Bupati dan Wakil Bupati. Sebab Amran Sinaga telah divonis sebagai terpidana, oleh putusan yang berkekuatan hukum tetap dari Mahkamah Agung RI.

Dalam analogi “Pernikahan Hantu”, tidak terlalu kejam bila disebut Amran Sinaga sebagai Calon Wakil Bupati Simalungun dalam Pilkada Susulan Simalungun, adalah sebagai boneka kertas yang akan “berakhir” setelah prosesi perayaan “pesta besar” pernikahan selesai.

Akhir cerita dari kedua “pesta besar” di Simalungun pada Februari 2016 ini adalah sebagai berikut di bawah ini:

“Tiada pesta yang tak berakhir, termasuk Pilkada Simalungun 2015…

News Feed