oleh

Pertama Kali, Banjir Bandang Hantam Desa Holbung

Holbung, BatakToday

Banjir bandang mengagetkan warga Desa Holbung, Kecamatan Sitio-tio, Kabupaten Samosir, pada Minggu malam (8/12/2019), sekitar pukul 23.00 Wib. Desa ini dalam sejarahnya belum pernah mengalami, namun pada Minggu malam yang lalu, Binanga Sigok (Sungai Sigok), membawa bencana banjir bandang ke Desa Holbung.

Dari pengalaman selama ini, hujan deras terutama pada malam hari, kerap menimbulkan luapan air banjir pada Binanga Napultak,  salah satu dari tiga sungai di Desa Holbung; sungai lainnya Binanga Sigok dan Binanga Simpiran. Binanga Simpiran tidak sebesar Binanga Napultak. Binanga Sigok lebih kecil, tergolong kering, air sungainya mengalir hanya jika hujan deras.

Berbeda dengan kejadian pada malam itu, justru Binanga Sigok yang mengalami banjir. Dan bukan hanya airnya yang meluap, pun bercampur material keras berupa bebatuan hingga batang-batang pohon.
Akibatnya, sebuah rumah persis di sisi sungai, milik Patar Siringoringo nyaris hanyut terseret. Rumah yang berada di dekat dermaga itu, halamannya hanyut tergerus hingga 3 meter dari bibir pantai. Halaman rumah Patar yang sekaligus menjadi fasilitas pelabuhan, hancur diterjang banjir bandang berikut dua dermaga kecil ditempat itu.
Menurut Patar, sebelum dia beristirahat malam itu, sebagaimana keluarganya yang telah lebih dulu berangkat tidur, sekonyong-konyong ia mendengar suara bergemuruh selain suara hujan, yang makin lama makin mendekat. Di tengah hujan deras malam itu, suara gemuruh tersebut baginya mencurigakan.
Patar lantas membangunkan anak dan istrinya untuk segera meninggalkan rumah.
“Suaranya sudah seperti suara kapal terbang. Begitu derasnya hujan, tapi suaranya lebih menggemuruh, sungai mengamuk,” tuturnya.
Saat itu juga mereka langsung bergerak untuk mengungsi. Awalnya Patar ingin mengajak mereka ke Lumban Silintong pemukiman agak ke hulu, namun saat mencoba melintas dari dua jalur yang biasa dilalui, ternyata keduanya sudah ikut meluap. Akhirnya ia memutuskan membawa keluarga ke Upadatu, ke rumah ompung (kakek)-nya, di sudut bukit sejajar dengan tepi Danau Toba. Dan hingga hari ini, mereka masih mengungsi di rumah tersebut, di Upadatu.
Banjir bandang pada Minggu malam juga merusak areal perladangan dan sawah warga. Lahan di sepanjang Binanga Sigok dalam kondisi rusak. Sawah-sawah tertimpa bebatuan longsoran, dan jalan kampung terputus.
Kebun kopi seluas sekitar 1 Ha, yang menjadi sumber pencaharian utama bagi keluarga Patar, yang terletak di hulu paling dekat dengan lokasi longsoran bukit, ‘habis’ diterjang material longsor.
Lebih dari kehilangan itu, sementara ini tondi (jiwa) mereka Patar dan keluarganya masih belum tenang, belum normal. Mereka masih trauma dengan ancaman marabahaya seperti pada malam kelam itu.
“Saya berharap pemerintah bisa bantu membronjong pinggiran sungai yang menempel ke binanga ini,” katanya penuh harap.
Hingga berita ini diturunkan, Patar dan keluarganya belum kembali beraktivitas secara normal, sementara hujan setiap harinya ‘masih’ mengancam.

Perladangan warga Desa Holbung yang rusak tertutup lumpur dan bebatuan akibat banjir bandang pada Minggu malam 8/12/2019 (foto: js/bataktoday)

Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, sebelum kejadian pada Minggu malam (8/12) di Desa Holbung, tercatat 3 kali bencana banjir bandang di wilayah Kabupaten Samosir pada ‘sisi Pulau Sumatera’nya.
Banjir bandang menimpa Desa Sabulan dan Dusun Rassang Bosi Desa Buntu Mauli, Kecamatan Sitiotio, pada 29 April 2010, dan menelan 1 orang korban jiwa.
Di Desa Bonan Dolok, Kecamatan Sianjur Mula Mula, pada 7 Maret 2018. Tidak ada korban jiwa.
Dan yang ketiga, ‘kembali’ di Desa Buntu Mauli, Kecamatan Sitiotio, pada 3 Mei 2019 lalu, yang juga menelan 1 orang korban jiwa. (js/ajvg)

News Feed