oleh

Pesan Tuhan untuk Siantar Simalungun

Oleh: Tigor Munthe –

Batal mencoblos pada Rabu, 9 Desember 2015 lalu, membuat ratusan ribu warga Kota Pematang Siantar serasa kehilangan momentum untuk meramaikan perhelatan Pilkada Serentak 2015 di seluruh Tanah Air.

Tak cuma di kota kelahiran Adam Malik Batubara ini, ratusan ribu warga Kabupaten Simalungun (tetangga historis dan geografis Kota Pematang Siantar),  juga urung berduyun-duyun ke tempat pemungutan suara (TPS) guna menyalurkan aspirasi transisi kekuasaan lima tahunan.

Salah seorang tokoh adat Batak Toba di Kota Pematang Siantar, Sintua M Tamba mengatakan, jika pun nanti pemungutan suara digelar kembali tahun ini, setelah ada putusan akhir persidangan di lembaga peradilan tata usaha negara di Medan, warga diperkirakan akan malas menuju TPS.

Menurut Tamba, warga merasa tidak diberitahu secara cepat dan tepat tentang penundaan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan jajarannya, karena disampaikan ‘last minute’ yakni 8 Desember 2015 sekitar pukul 23.30 WIB.

Padahal, efouria dan antuasiasme warga sudah menyala jauh hari hingga menjelang Rabu, 9 Desember 2015 pagi. warga sudah siap-siap membawa formulir C6, undangan untuk ikut memilih ke TPS.

Namun semua kandas dan terhempas, manakala KPU mengumumkan penundaan pemungutan suara, di tengah seluruh perangkat lunak dan perangkat keras pilkada atau hari pencoblosan sudah siap bergegas.

Di tengah penghempasan momentum itu, satu keluarga di Kelurahan Bane, Kecamatan Siantar Utara, Pematang Siantar, dirundung duka mendalam. Seorang ibu dari anak-anak yang masih kecil, meninggal dunia Rabu 9 Desember 2015 sekitar pukul 06.00 WIB, karena sesuatu penyakit pasca melahirkan seorang putri dua minggu sebelumnya.

Sang ibu tentu tidak pernah punya niatan untuk meninggalkan dua putranya yang masih duduk di kursi SMP, SD, dan bayi perempuannya yang belum berusia sebulan.

Sehebat apa pun derita penyakit yang diderita sang ibu, dia pasti berjuang habis-habisan agar nafas hidupnya tetap berdenyut, demi anak-anak tercintanya yang masih sangat membutuhkan cinta dan kasih sayang seorang ibu.

Tetapi Tuhan berkehendak lain. Karena Dia lah penguasa atas hidup dan kehidupan umat manusia, termasuk sang ibu yang dipastikan tetap berjuang melawan sakitnya, hingga kemudian perjuangan itu terhenti atas kehendakNya jua.

Keesokan harinya, sang ibu dimakamkan ke Pulau Samosir, ke tanah leluhur keluarga suaminya, tentu setelah melintasi Danau Toba.

Suasana duka sangat terasa, manakala kapal motor yang membawa sang ibu bersama keluarga ke tanah dan bumi Samosir, digelayuti cuaca mendung dan hujan rintik.

Peristiwa ini seakan menghempas harapan dan impian suami dan anak-anak sang ibu. Tapi Tuhan sedang berbicara, kematian tidaklah selalu buruk, karena sang ibu sedang menuju kebahagiaan kekal, melalui sebuah kematian. Kelak dia akan bersama suami dan anak-anak tercintanya, di alam sana.

Tuhan juga sesungguhnya sedang bekerja atas Kota Pematang Siantar dan Kabupaten Simalungun, atas penundaan pemungutan suara yang seharusnya dilakukan 9 Desember lalu.

Dua daerah yang memiliki adat istiadat yang santun dan mumpuni, dihuni banyak kantor pusat gereja dan juga agama lainnya ini, sedang berjuang untuk mengembalikan dan menegakkan nilai religius ‘Sapangambei Manoktok Hitei’ maupun ‘Habonaron do Bona’ yang telah lama menjadi residu zaman, bahkan nyaris ditanam dan dikubur dalam-dalam manakala para pemangku ‘harajaon’ di dua daerah ini tak lagi menjalankan ajaran para leluhur yang luhur itu.

Perilaku korup, serakah, egositik, materialstik, hedon, pongah, dan lain sebagainya, yang jauh dari nilai dan falsafah yang diajarkan para leluhur di dua daerah ini, yang berpuncak pada pengabaian hidup rakyat.

Momentum transisi kepemimpinan yang sedang kita helat saat ini, merupakan titik mula membongkar sifat dan karakter para pemimpin yang mengkhianati ajaran leluhur yang luhur itu.

Perjuangan itu tidak serta merta mudah, bahkan harus melewati fase dan tahap yang melelahkan, demi masa depan anak cucu Kota Pematang Siantar dan Kabupaten Simalungun.

Tuhan pun sedang menyampaikan pesan kepada seluruh warga di dua daerah, ‘kematian’ sesaat pada 9 Desember 2015, merupakan bentuk peringatan agar lebih waspada dalam mendudukkan penguasa di ‘harajaon’ yang kelak memegang amanat falsafah ‘Habonaron do Bona’ dan ‘Sapangambei Manoktok Hitei’.

Itu sebabnya, nasib warga kedua daerah ini diantarkan ke sebuah persidangan yang bersifat sementara, seakan digelayuti mendung dan rintik hujan, kedukaan yang nantinya berujung keriangan akan lahirnya pemimpin yang betul-betul mengemban tradisi leluhur yang luhur dan religius. Semoga.

Tigor Munthe, wartawan, anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan

News Feed