oleh

Pilkada Damai Siantar: “Dicari Pemimpin yang Mewujudkan Impian Kaum Muda”

Oleh: Arif JV Girsang

“Kita besar di kota Siantar, kita hidup di kota Siantar, mari dukung Pilkada yang damai….”

Demikian syair pembuka dari lagu yang dibawakan anak-anak muda Siantar, yang berjudul “Pilkada Damai Siantar”.dirilis tahun 2015 lalu. Lagu ciptaan Andie Lala, dengan aransemen musik yang digarap Richard Kyoto, berpesan bagaimana seharusnya kaum muda harus tetap bersatu, tidak boleh terpecah, apalagi ‘hanya’ oleh Pilkada Siantar yang tahun lalu akhirnya tertunda.

Lagu dengan vocal yang diisi Samsoel, Ewin, Chrisyine Tobing, Hendra Ginting dan Wilmar, serta diiringi permainan pemusik muda yang sangat potensial, yaitu Kyoto, Lewi, Yan, Hendra, David dan Toetar. Diabadikan dengan bidikan kamera oleh Kristovel Sitanggang dan Adie Damanik. Dokumentasi oleh Ridawan Batubara, editing Kristovel Sitanggang, serta atas dukungan dari Sanggar Kreatif Naposo Nauli (SKNN).

Hari ini, setahun lebih setelah lagu ini dirilis. Namun sangat pantas untuk didengar dan disimak kembali, bahwa mereka ‘representasi’ dari kaum muda yang menginginkan (calon) pemimpin yang dapat mewujudkan ‘mimpi-mimpi’ dari kaum muda Siantar.

Mimpi kaum muda lah benih yang seharusnya kita jadikan salah satu acuan mencapai kemajuan kota ini. Mimpi ‘orang tua’ toh juga bukan untuk siapa-siapa, untuk kaum muda juga, kan?

Kaum muda tidak minta yang luar biasa, apalagi yang aneh-aneh. Salah satu yang diminta, selain yang ‘cuma’ biasa-biasa,  mereka minta wadah untuk berekspresi.

Dari sisi lagu ini, perlu dan harus diingat, kota Siantar sangat terbatas dengan fasilitas untuk kaum muda, baik untuk berekspresi di bidang seni budaya, maupun untuk aktif dalam olah raga.

Kota Siantar, misalnya, tidak memiliki gedung publik yang pantas dijadikan tempat berkesenian. Yang ada di kota Siantar, ‘hanya’ aula milik FKIP Universitas HKBP Nommensen, sekali lagi itu bukan gedung milik publik.

Gedung Olah Raga (GOR) Siantar yang di awal sejarahnya sering digunakan sebagai tempat menyelenggarakan event olah raga dan seni budaya, berapa tahun terakhir entah sudah jadi gedung apa. Bahkan sudah lebih sering dijadikan ‘pajak’ (baca: pasar,-red.) dengan mengatasnamakan bazaar. Terbetik berita, gedung ini ‘hampir’ diserahkan pengelolaannya kepada pihak swasta, dengan salah satu alasan, untuk menambah PAD.

Apakah pemerintah kota tidak mengerti, fasilitas publik bukan bertujuan untuk mendapatkan pemasukan berupa PAD? Dalam hal ini GOR adalah gedung untuk kegiatan olah raga dan fungsi lain untuk kepentingan publik, tanpa membuatnya menjadi ‘dalih’ untuk meningkatkan PAD.

Belum lagi berbicara tentang Dewan Kesenian yang hingga hari ini belum terbentuk di kota Siantar. Ditambah dengan bidang keolahragaan yang tidak menjadi perhatian pemerintah kota bertahun-tahun terakhir ini.

Lengkaplah ‘derita’ kaum muda yang tidak punya fasilitator dan katalisator untuk meningkatkan kreativitas, sekaligus tidak memiliki wadah dan media yang layak untuk berekspresi.

Lantas, apakah pemerintah kota akan sekedar membiarkan kaum mudanya berkreasi dan berekspresi ibarat anak ayam kehilangan induk? Berikan mereka perhatian, wadah, dan anggaran yang memadai. Bukankah setiap orang tua menginginkan generasinya tumbuh kembang dalam alam yang baik. Demikian juga sebuah kota harus berharap dan berbuat untuk perkembangan yang baik dari kaum mudanya.

Kembali kepada pesan dalam lagu yang ‘dilantunkan’ di atas. Kaum muda butuh pemimpin yang bisa mewujudkan mimpi-mimpinya…

Lagu ini mewakili keinginan puluhan ribu kaum muda, yang ingin punya peran untuk kotanya, dan mereka memilih untuk mengikuti dan mendukung Pilkada Damai Siantar. Namun mereka menanti pemimpin kota yang bisa mewujudkan mimpi-mimpinya. Sebab, mereka besar di kota ini, mereka hidup di kota Siantar, dan punya mimpi-mimpi untuk kemajuan kotanya.

Dan jangan lupa, kaum muda akan mendukung calon pemimpin yang membuat mereka dapat mengharumkan kota Siantar…!!! ***

News Feed