oleh

Pilkada Siantar, Final dan Mengikat Tanpa Doping?

Skandal doping sprinter Kanada Ben Johnson, “peraih” medali emas Olimpiade Seoul 1988, menjadi kasus doping terbesar di dunia olahraga.

Tiga hari kemudian, medali emasnya dibatalkan. Ben Johnson terbukti menggunakan doping dari hasil pemeriksaan sampel urine, yang diambil beberapa saat setelah menyelesaikan babak final nomor lari 100 meter.

Dengan terbongkarnya kasus doping itu, karir lari Ben Johnson pun “finish”. Hari ini tidak terdengar lagi entah di lintasan mana Ben Johnson masih “berlari”.

Hampir dua bulan terakhir, Kota Pematang Siantar dalam menyongsong Pilkada 2015, disibukkan oleh kata-kata final dan mengikat produk Panwaslih Pematang Siantar.

Bahkan kedua kata ini sempat dibawa ‘berjalan-jalan’ ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI di Jakarta.

Hasilnya, kata final dan mengikat, “finish” di KPU Pematang Siantar dengan putusan yang membatalkan pasangan calon No.5 dari keikutsertaannya pada partai final Pilkada 9 Desember yang akan datang.

Pada hari Minggu 29/11, Surfenov-Parlin dengan ribuan massanya, mengampanyekan salam-lima-jari di panggung yang batal digunakan untuk kampanye pilkada yang sebenarnya. “Paslon No. 5” ini masih akan menempuh jalur hukum sebagai upaya untuk mengembalikan kata final dan mengikat, yang sebelumnya sempat meloloskan mereka menjadi paslon peserta pilkada.

Patut dihargai upaya-upaya yang dilakukan, sejauh itu di dalam koridor hukum dan kepantasan. Sekaligus ini menjadi soal ujian bagi pembelajaran hukum, di alam demokrasi yang sedang kita pelihara bersama.

Kita tidak sedang memasuki materi “kasus” final dan mengikat. Namun sebagai perbandingan, di dunia olahraga, dimana etika lebih dari aturan maupun peraturan, hasil pertandingan yang tadinya dimenangkan, bisa dibatalkan. Bukan sekali dua kali, kemenangan atau gelar juara yang ‘sempat’ diraih, akhirnya dibatalkan. Mereka-mereka, para petarung yang teranulir, toh akhirnya harus (bisa) menerima.

Lantas, apakah tidak lebih elok dipandang, jika para petarung di dunia politik menjadi lebih ‘hebat’ dari mereka yang sekedar petarung di dunia olahraga? Termasuk para penonton dan pendukung, akan naik kelas kehebatannya, ketika mereka tetap menyemangati petarungnya yang teranulir, tanpa harus membuang energi meneriaki panitia pelaksana pertandingan.

Sampai di sini, terputus dulu perhatian kepada kata-kata final dan mengikat. Mari sejenak kembali kepada kasus doping, penyebab medali emas Ben Johnson yang sudah terkalung, tetapi akhirnya melayang.

Doping adalah sesuatu yang diharamkan dalam dunia olahraga. Doping itu penggunaan obat obatan untuk meningkatkan kemampuan demi mengejar prestasi.. Kalah atau menang, jika ketahuan menggunakan doping, akan tetap dikenakan sanksi. ,Doping dikategorikan kecurangan

Sudah menjadi rahasia umum, dunia politik di kota ini sedang kerasukan “setan doping”. Politik uang itu ibarat doping, politik doping.

Adakah diantara kita yang berani membantah bahwa politik uang masih terjadi dalam persiapan pilkada kali ini?

Sangat ironis, di kota ‘sekecil’ ini, akan ditertawai, bahkan dikatai lagi mabuk, jika ada yang berani mengatakan tidak sedang terjadi permainan politik uang dalam perjalanan pilkada ini.

Apabila pasangan calon ingin diakui dan bermartabat, maka harus menggunakan cara-cara yang halal, bukan dengan cara yang sekedar dihalalkan. Politik uang, haram secara hukum dan etika.

Maka dari sekarang, malulah wahai pengguna politik uang, kecuali tak punya kemaluan lagi. Politik uang akan menejerumuskan dan merusak pasangan calon, dan merusak kota ini juga.

Politik uang sama halnya dengan doping dalam dunia olahraga. Bila ketahuan, maka akan menanggung malu dan berpotensi teranulir secara hukum. Ben Johnson dan pelatihnya Charlie Francis, akhirnya mengakui bahwa Johnson mengonsumsinya untuk meningkatkan kemampuan lari, demi memenangkan lomba.

Kemenangan Johnson dalam final lomba yang tercemar doping, akhirnya dibatalkan. Medali emas yang mengikat di leher pun, harus dilepas.

Akankah Pilkada Siantar berakhir final dan mengikat tanpa “kasus doping”? Wallahu a’lam… (***)

News Feed