oleh

Bang Eddy Sofyian Mulai Bertugas: Nyanyikan Lagu Baru untuk Siantar

Pematangsiantar, BatakToday-

Penjabat (Pj) Wali Kota Pematang Siantar Eddy Sofyian mengawali tugasnya dengan memimpin apel pada Senin (19/10) pagi, di halaman Balai Kota Pematangsiantar. Dalam arahannya, Eddy Sofyian menekankan bahwa tugasnya memimpin pemerintahan kota pada masa transisi ini adalah untuk menjalankan rencana kerja yang telah disusun pada masa wali kota sebelumnya, memfasilitasi pelaksanaan pilkada, dan menjaga netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam menghadapi Pilkada 2015. Juga diingatkannya agar ASN tidak berupaya menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon peserta pilkada.

Tidak ada sinyal tertentu yang disampaikan melalui arahan tersebut, bahkan sepintas kedengarannya datar-datar saja. Pj Wali Kota sebagai “penguasa baru” pada masa jeda ini menyampaikan sesuatu yang tidak jauh dari hal-hal yang bersifat normatif. Arahan yang diberikan “sekedar” repetisi dari arahan-arahan sejenis yang sebelumnya diberikan oleh para penjabat bupati/walikota daerah lain di Sumatera Utara, yang juga dalam masa transisi dan akan menghadapi pilkada dalam waktu bersamaan.

Lantas apa yang pantas jadi perhatian pada “lagu-pembuka” yang dibawakan Eddy Syofian sebagai Pj Wali Kota di “panggung” kota ini pada apel pertamanya?

Sebenarnya seperti telah dikatakan sebelumnya, arahan pada apel itu “hanya” bersifat normatif. Cuma memang dalam beberapa bulan terakhir ini, hal-hal yang normatif menjadi sesuatu yang langka dalam apel yang dipimpin oleh wali kota sebelumnya. Pada beberapa kali apel, halaman depan Balai Kota sebagai salah satu panggung resmi kota ini menjadi saksi atas aksi-aksi narsisme yang dibawakan wali kota sebelumnya. Apel lebih dijadikan ajang puja-puji untuk diri sendiri.

Pada kesempatan lain, panggung kota banyak digunakan wali kota yang lalu untuk menunjukkan kekonyolan yang melenceng dari norma, melalui pernyataan-pernyataan yang kurang pantas diucapkan oleh seorang pemimpin.

Di sisi lain lagi, sudah menjadi kelaziman dalam acara-acara resmi selama lima tahun terakhir, wali kota yang lalu lebih menonjolkan kepenyanyian-nya yang inferior (pas-pasan) dibandingkan kewalikotaan-nya yang juga lebih inferior lagi (baca: sekedar wali kota).

Demikianlah, hal-hal normatif yang terlanjur langka di masa kekuasaan wali kota yang lalu, akhirnya menjadi sesuatu yang pantas mendapat perhatian saat Pj Wali Kota Eddy Sofyian memulai “aksi”-nya di panggung kota ini.

Namun “lagu baru” Eddy Sofyian menjadi sangat menarik bahkan mengejutkan, ketika pada tarikan “refrain” ia menyampaikan dua pesan penting untuk disimak tentang ke-Siantar-an inklusif, yang jujur telah lama kita lupakan dan abaikan.

Pertama, bahwa di masa Raja Sangnaualuh memimpin Siantar, ia telah menerapkan prinsip-prinsip good governance dalam mengelola pemerintahannya. Informasi yang sangat mengejutkan, karena Raja Siantar ternyata telah menerapkan prinsip itu, jauh sebelum dikenal dan diterapkan oleh pemerintahan mana pun.

Kedua, tentang Siantar Man. Menurut Eddy Sofyian, jangan kedepankan sisi “preman”-nya, tetapi tunjukkanlah bahwa sesungguhnya Siantar man itu adalah tentang keberadaban !!!

Kedua pesan di atas memberi harapan baru bagi masyarakat Siantar bahwa Eddy Sofyian datang bukan untuk “sekedar” mengisi beberapa bulan pemerintahan transisi. Sadar atau tidak, Eddy Sofyian sedang mengikatkan dirinya pada suatu komitmen untuk melakukan transformasi menuju pemerintahan yang baik dan bersih yang lebih mengedepankan prinsip partisipasi, transparansi dan akuntabilitas dengan mengadopsi nilai-nilai kearifan lokal dalam penyelenggaraan pemerintahan Kota Pematang Siantar.

Masyarakat Siantar sudah jenuh dan muak terhadap sesuatu yang sifatnya “sekedar”. Eddy Sofyian sepertinya telah memahami kejenuhan itu. Masa pemerintahan yang hanya beberapa bulan bukan halangan untuk mengawali Transformasi Siantar.

“Selamat Datang Bang Eddy Syofian. Nyanyikan Lagu Baru untuk Siantar…” (***)

News Feed