oleh

Podomoro Lumpuhkan TVRI Medan, Warga Gelar Panggung Rakyat

Medan, BatakToday –

Pembangunan superblock Podomoro City Deli-Medan menyebabkan stasiun TVRI Medan tidak bisa tayang secara langsung (live) sejak 1 Februari 2016. Pasalnya, pembangunan superblock mewah tersebut tepat berada di garis saluran jaringan menuju pemancar di Bandar Baru. Akibatnya, lembaga penyiaran milik publik ini tidak bisa melayani kebutuhan siaran masyarakat Sumut.

Sebagai bentuk dukungan kepada TVRI, warga dari berbagai kalangan melakukan kegiatan teatrikal dan dialog publik dengan menggelar panggung rakyat “#Save TVRI Sumut” di halaman TVRI Sumut Jl Putri Hijau Medan, Selasa (15/3/2016).

Aksi yang mengambil tema “Satu kata rakyat Sumatera Utara… lawan arogansi Podomoro” itu digagas KAHMI Medan bersama sejumlah elemen sebagai bentuk dukungan kepada TVRI Sumut dan kritik kepada pemerintah.

“Sudah dua bulan tidak bisa siaran langsung, karena pembangunan Podomoro ini. Rakyat sangat membutuhkan siaran langsung,” ujar Ketua Umum KAHMI Medan, Prof Dr Hasim Purba, SH yang juga Ketua Departemen Hukum Perdata USU.

Hasim mengatakan, pemerintah diharapkan memperhatikan hal itu. Sebab, rakyat tidak ingin menghambat pembangunan, namun pembangunan juga harus melindungi hak-hak rakyat.

Dijelaskannya, sesuai pembicaraan saat rapat dengar pendapat di Komisi A DPRD Sumut, sudah ada kesepakatan agar pengembang membangun satelit untuk kepentingan siaran TVRI.

“Tapi sampai saat ini tidak ada,” katanya.

Sementara Prof Bungaran Antonius Simanjuntak mengatakan, sepatutnya pembangunan yang terjadi memikirkan hak rakyat.

“Kita sebagai rakyat sangat kecewa dengan kondisi ini. Ini permainan kapitalis dan neokapitalis,” katanya.

Keprihatinan juga disampaikan Koordinator KontraS Sumut, Herdensi Adenin. Ia mengingatkan, TVRI adalah aset negara, tapi negara justru lepas tanggungjawab.

“Negara seharusnya sudah memprediksi ini di awal. Jika itu dilakukan, persoalan ini tidak akan terjadi,” pungkasnya.

Dikatakannya, saat pengembang ingin membangun komplek Deli Plaza di lokasi yang sama dan mengganggu siaran TVRI, pengembang harus membangun tower TVRI yang diketahui tingginya sekitar 60 meter.

“Kita juga berharap DPRD melalui Komisi A tidak hanya sebatas RDP. Namun harus ada lanjutan terhadap keputusan dalam RDP tersebut,” katanya.

Antropolog Universitas Medan Area (UMA), Agung Suharyanto, yang melakukan teatrikal olah tubuh di hadapan para undangan ‘Panggung Rakyat’ mengatakan, aksi yang dilakukannya menyampaikan pesan agar pembangunan cengkeraman  kapitalisme yang terjadi saat ini harus diimbangi dengan tindakan yang cerdas.

“Kalau saya, tandingi saja. Milik pemerintah, kenapa kalah. Kita harus bekerja keras untuk bisa. Memang kapitalisme tidak bisa ditandingi, tapi kita harus cerdas. Kalau tidak, tergulung kita oleh globalisasi itu,” katanya.

Dengan kombinasi gerakan dipadu busana ulos serta kain khas Jawa dan daerah lainnya, Agung ingin menunjukkan nilai lokalitas.

“Saya mengangkat budaya lokal. Khasanah lokal, yang bisa tidak kalah dengan globalisasi dengan cara cerdas,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Stasiun TVRI Sumut Zainuddin Latuconsina mengatakan,  pihaknya saat ini mendapat dukungan dari berbagai kalangan masyarakat. Dukungan itu, jelasnya, bukanlah untuk menghentikan pembangunan yang ada.

“Kita memang tidak bisa siaran langsung dari stasiun Medan sejak 1 Februari 2016. Sejak tahun 2015, kita sudah menyurati pengembang namun tidak ditanggapi,” katanya.

Akhirnya, lanjut Zainuddin, kesepakatan untuk menggelar pertemuan baru terjadi saat persoalan ini akan dibahas di DPRD Sumut. Namun sudah berlalu sebulan, pertemuan belum terlaksana sebagaimana disepakati sebelumnya. Menurutnya, solusi paling baik adalah dengan penyewaan satelit, sehingga tidak mengganggu jalur jaringan siaran. (AFR)

Foto: Terlihat Agung Suharyanto saat melakukan gerakan teatrikal di depan para undangan “Panggung Rakyat” di halaman TVRI Sumut Jl Putri Hijau Medan, Selasa (15/3/2016). (bataktoday/afr)

News Feed