oleh

Politik Pilkada Kita Masih Dangdutan

Perhelatan Pilkada Serentak 2015 di seantoro negeri memasuki tahap kampanye rapat umum. Rapat umum atau lebih beken disebut dengan kampanye akbar ini digelar di tempat umum yang titik dan lokasinya sudah ditentukan KPU setelah berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat.
Meski sebelumnya KPU di daerah telah menetapkan masa kampanye jauh hari sebelumnya, yakni pada saat pasangan calon sudah ditetapkan, akhir Agustus 2015 hingga 2 Desember 2015, selama dua bulan lebih kampanye yang dilaksanakan para kandidat masih sebatas rapat terbatas. Para calon melakukan pertemuan-pertemuan dengan masyarakat dalam skala kecil dan ruangan terbatas, seperti di rumah atau aula pertemuan.
Rapat umum atau kampanye akbar yang digelar 265 daerah yang melaksanakan pilkada serentak 2015 di seluruh Tanah Air, KPU hanya menetapkan satu kali pelaksanaan untuk setiap pasangan calon kepala daerah-wakil kepala daerah dan sepenuhnya dibiayai pasangan calon itu sendiri.
Seyogianya kampanye akbar dikelola secara optimal untuk merekatkan relasi antara pasangan calon dengan massa yang emosi politiknya telah dibina selama ini, yang diharapkan menjadi mesin suara di bilik-bilik  suara pada 9 Desember mendatang. Kampanye akbar juga membuka peluang bagi pasangan calon untuk untuk menambah basis dukungan dari kelompok pemilih kritis yang cenderung menetapkan pilihan menjelang hari pemilihan.
Menjadi menarik, mengamati kampanye akbar di Kota Pematang Siantar, yang dimulai oleh pasangan calon Wali Kota-Wakil Wali Kota, Teddy Robinson Siahaan-Zainal Purba atau populer dengan sebutan TRS-Zainal.
Pasangan nomor urut 3 ini pada kampanye akbar perdana di Lapangan Haji Adam Malik, Sabtu (14/11), mengerahkan ribuan massa (semula ditargetkan 10 ribuan) untuk memetalkan atau membuat lapangan yang berada di tengah kota itu dipenuhi manusia dengan ‘saltijar’ atau salam tiga jari, salam yang kerap digunakan anak-anak metal atau penggemar musik cadas.
Kampanye akbar tentu memiliki tujuan untuk menyampaikan visi misi dan program unggulan pasangan calon, yang disampaikan secara langsung oleh pasangan calon dan para juru kampanye, terutama dari politisi parpol pengusung atau pendukung.
Kampanye bertujuan mengajak massa atau siapa saja yang hadir di tengah perhelatan itu, untuk memilih pasangan calon dimaksud di tempat pemungutan suara 9 Desember 2015 mendatang. Ajakan itu tentu dengan dua pola, substantif (isi sesungguhnya) dan make-up (polesan).
Substantif dengan menyodorkan visi misi dan program andalan yang menggugah dan menggiurkan, meski harus disampaikan secara objektif dan realistis. Orasi politik menjadi sarana yang ampuh untuk mempengaruhi massa secara spontan dan sporadis.
Make-up, dengan mengerahkan jajaran figur dan tokoh di panggung kampanye, yang bisa memberikan dampak kepada pemilih, mengingat mereka memiliki relasi dan kharisma di tengah masyarakat, berikut kadar ketokohannya.
Hanya saja, kampanye akbar TRS-Zainal di Lapangan Haji Adam Malik pada Sabtu (14/11) yang lalu, belum secara optimal mengelola kedua unsur – substantif dan make-up- tersebut. Kampanye akbar ditengarai masih sebatas ramai-ramai namun miskin makna. Konon, aksi panggung pedangdut beken Cita Citata dengan tembang pamungkas Goyang Dumang berhasil menyihir massa untuk “nyaris” melupakan substansi kampanye itu sendiri.
Massa luber ke lapangan lengkap dengan segala atribusinya, tergiur dengan aura kehadiran Cita Citata dan artis top lainnya. Emosi substansif maupun make-up berupa racikan visi misi pasangan calon dan jajaran tokoh yang dipajang di pentas, hampir bisa dipastikan tak berbekas disapu aliran bau keringat dan lelahnya fisik massa yang berjubel di tengah lapangan.
Realitas kampanye politik kita ternyata masih dangdutan, indah di fisik, kabur di substansi. Emosi massa tinggal dan jatuh di tanah atau rumput lapangan, manakala artis top pujaan hilang dari panggung, usai lelah melantunkan sederet lagu sesuai bayaran yang diterimanya.
Kampanye politik kita masih meliuk di arena yang samar. Kampanye akbar itu belum meneguhkan bagaimana pilkada kita atau kerja politik kita berubah, merubah pikiran massa dan masyarakat untuk menjatuhkan pilihan kepada figur politik yang paling representatif. Masih biasa, belum ada yang luar biasa.
Sudah sepantasnya kampanye model ini dievaluasi kembali. Selain tidak memiliki dampak dahsyat guna meraup suara, konon dengan helatan yang kurang greget dan jumlah massa yang meleset, kampanye jenis ini justru menelan biaya paling besar dibanding kampanye jenis lainnya.
Dana kampanye akbar mungkin lebih efektif digunakan untuk roadshow ke pelosok kampung, membina tali emosi dengan pemilih, menyampaikan langsung apa yang menjadi program unggulan pasangan calon jika  kelak memimpin Kota Pematang Siantar atau daerah lainnya. Horas. (TM)
Foto: Artis dangdut Cita Citata pada kampanye akbar Pilkada Siantar 2015 pasangan calon Teddy Robinson Siahaan-Zainal Purba di Lapangan Haji Adam Malik, Pematang Siantar, Sabtu (14/11). (bataktoday/tm). 

News Feed