oleh

Prof Bornok Sinaga: Orang Batak Menjunjung Tinggi Nilai Pendidikan Anak

Medan, BatakToday

Hosuk humosuk-hosuk, hosuk ditombak ni Batang Toru. Porsuk ni naporsuk, sai umporsuk dope naso maranak marboru. Demikian umpasa orang Batak yang meletakkan posisi anak atau keturunan sebagai hal penting, yang dipandang sebagai kekayaan, kebanggan, prestise dan kebahagiaan.

Demikian disampaikan Prof Dr Bornok Sinaga MPd dalam paparannya sebagai narasumber pada Seminar Nasional “Merajut Kebersamaan untuk Pembangunan Sumut” yang diselenggarakan Keluarga Besar Nainggolan (KBN) dalam rangkaian pelantikan Pengurus DPP KBN periode 2015-2020 di Emerald Garden International Hotel, Medan, Jumat (13/11).

“Bagi orang Batak anak itu sangat penting, dibuktikan dengan menjunjung tinggi nilai pendidikan yang diterima setiap anak,” ujarnya.

Ditekankannya, sebagaimana filosofi tanah di muka bumi ini, semua baik. Namun perlu diperhatikan, tanaman apa yang pantas dibudidayakan di atasnya. Demikian halnya dengan setiap anak yang lahir di dunia ini sebagai generasi penerus adalah baik, tinggal bagaimana mengukur kecerdasan si anak dan menempatkannya pada posisi sesuai kapasitasnya.

Bornok memaparkan, perjalanan kehidupan masyarakat Batak memiliki landasan dan komitmen yang kuat dalam mendidik generasi penerusnya. Hal itu menjadi modal sosial yang sangat berharga ke depan. Indonesia pada 100 tahun kemerdekaannya akan memiliki generasi produktif 100 juta orang. Apakah ini menjadi bonus atau menjadi beban pembangunan, hanya kualitas pendidikan yang bisa menjawabnya.

Seorang guru, lanjut Bornok,  dituntut harus mampu mengenali karakteristik jiwa dan potensi anak. Dan bagi orang Batak, orangtua menjadi guru yang utama bagi anaknya. “Jadi tidak sembarang guru bagi orang Batak. Harus yang memiliki ilmu yang dalam, dan pintar,” ujarnya.

Menurut Bornok, konsep berpikir orang Batak sangat bertentangan dengan kondisi akhir-akhir ini. “Karena guru yang membangun SDM kita saat ini adalah manusia yang memiliki kemampuan sedang-sedang ke bawah, sangat tidak sesuai dengan prinsip orang Batak tentang guru,” tambahnya sembari mengutip umpasa ‘ias ni topung dang alani balga ni andalu, alai alani sosoan ni pitik-pitik ni boras i do’.

Makna umpasa tersebut menurut Bornok, bahwa pendidikan yang sesungguhnya bukan tergantung kepada guru saja, namun juga bagaimana interaksi antara anak dengan lingkungannya. Dengan kata lain, pendidikan harus berpusat pada aktivitas siswa (student centre learning), bukan berpusat pada guru.

“Seorang guru yang mampu menjadi panutan, fasilitator, mediator, konsultan dan membelajarkan siswa lah yang mampu membentuk SDM. Tidak bisa seorang SH memperbaiki SDM, seorang dokter juga tidak bisa. Hanya guru yang bisa membentuk SDM yang berkualitas, arif, dan kreatif.  Itulah pandangan orang Batak tentang pendidikan,” ujarnya.

Demikian halnya dengan sistem kekerabatan orang Batak, menurut Bornok, sangat visioner. Dengan pola interaksi dalihan natolu yang edukatif dan menjauhkan setiap generasi dari kebodohan, dimana ada dongan tubu, boru, dan hula-hula.

Dalihan natolu ini problem yang mau dimasak. Ada tiga sub kelompok yang menjadi penentu matangnya problem tersebut menjadi solusi. Dalam pembelajaran di sekolah,  knowledge transfer sangat mendominasi siswa. Jalan berpikir orang Batak bukan seperti itu, tapi menerapkan filosofi dalihan natolu. Ijuk di parapara, hotang tu parlabian, anak na bisuk panungkunan ni hata, anak na oto sitongka tu panggadisan, dan ruma ijuk jala ruma gorga, sai tubu ma anak nabisuk jala namalo marroha,” papar Bornok.

Menurutnya, saat ini pendidikan di Indonesia belum menghasilkan banyak soft skill, dan kondisi itumengakibatkan generasi saat ini berpikir pragmatis. Akhirnya terjadi korupsi, pelecehan seksual, dan perbuatan kriminal lainnya. Padahal, katanya, kita mestinya dapat mengamati sesuatu dan melakukan suatu tindakan inisiatif sesuai dengan keadaan, dan tindakan tersebut sangat dibutuhkan untuk dilakukan. “Molo malos bulung, ingkon taruan aek. Molo tarida urat, ingkon tamboran. Molo ponggol ranting, ingkon baluton,” ujar Bornok.

Hal senada juga disampaikan Pdt Patut Sipahutar MTh, yang menyebut diplomasi sangat mendominasi kehidupan orang Batak. Setiap persoalan yang dihadapi, dirumuskan terlebih dahulu. Tidak ada yang berjalan sendiri-sendiri. “Tampak na do tajomna, rim ni tahi do gogo na,” kutip Sipahutar.

Menurut Sipahutar, filosofi dalihan natolu sesungguhnya adalah demokrasi inklusif dengan menempatkan semua elemen menjadi satu kesatuan dalam menghadapi permasalahan. Untuk itu, harap Sipahutar, ke depan, seluruh elemen masyarakat harus bersatu dan bersinergi menyumbangkan potensinya demi pembangunan bersama. (AFR)

Keterangan Foto:

Prof Dr Bornok Sinaga MPd saat memaparkan materi seminarnya di Hotel Emeral Ganden Internasional Medan, Jumat (13/11).

News Feed