oleh

Rayakan Hari Bumi dengan Semangat Kartini

Oleh: Rika Novayanti –

Pada 1981, Perdana Menteri India Indira Gandhi mendeklarasikan moratorium indutri kayu (logging) selama 15 tahun di Hutan Himalaya di wilayah Uttar Pradesh. Kebijakan ini diputuskan setelah Gerakan Perempuan yang dikenal dengan nama Chipko Movement melakukan aksi memeluk pohon untuk melindungi hutan dari deforestasi, meletakkan tubuh mereka dalam bahaya di antara pepohonan dan alat berat.

Di Vermont, New England, sebuah pengembang merencanakan pembangunan 86 kondominium di kota Brattleboro dengan mengeruk lahan basah dan ruang terbuka di wilayah tersebut, dan menyisakan tanah-tanah gundul. Pada perayaan Hari Ibu tahun 1987, sekumpulan perempuan merayakan Hari Ibu dengan cara menanami tanah-tanah gundul tersebut. Mereka menjaga wilayah tersebut dan melarang pihak pengembang untuk melintas apabila tidak ada perundingan. Tanah-tanah gundul dialihfungsikan menjadi kebun milik komunitas. Para perempuan Brattleboro akhirnya menang.

Gerakan Ibu-Ibu Kendeng yang baru-baru ini beraksi dengan membelenggu dirinya menggunakan semen di depan Istana Negara, setelah membunyikan lesung tanda bahaya setahun sebelumnya di lokasi yang sama, dan lebih dari dua tahun mendirikan tenda perlawanan di Rembang, sama sekali bukan gerakan pertama bagi perempuan untuk memperjuangkan lingkungan.

Ibu-Ibu Kendeng mungkin belum pernah mendengar istilah ekofeminisme, tetapi apa yang kesembilan perempuan inspiratif tersebut lakukan bisa jadi merupakan salah satu contoh gerakan ekofeminis paling solid yang pernah terjadi di Indonesia. Seperti yang Ibu-ibu Kendeng lakukan, ekofeminis ingin mendobrak tatanan sosial, ekonomi, dan politik yang menindas dan mewujudkan kehidupan sosial, politik, ekonomi yang layak dan bersinergi dengan lingkungan.

Kaki para penjaga pegunungan Karst di Kendeng Utara tersebut kini memang sudah bebas dari belenggu, katanya mereka berhasil membuat janji temu, entah dengan Presiden, atau dengan utusan Presiden. Namun sayangnya, masih banyak yang meragukan kemampuan perempuan dalam melindungi lingkungan. Pemberitaan terkait aksi Kendeng tak pernah lepas dari komentar miring, bahkan dari pejabat pemerintah.

“Ibu-ibunya kenapa tidak di rumah saja, ngurusin anak.”

“Suaminya ke mana, kenapa Ibu-ibunya yang beraksi?”

“Tidak mungkin ibu-ibu ini berani melakukan itu kalau tidak ada bekingnya. Siapa yah bekingnya?”

Komentar tersebut menunjukan rendahnya pemahaman mengenai peran perempuan dalam menjaga lingkungan. Padahal kita kerap menganggap Bumi sama pentingnya dengan Ibu, seperti pada istilah Ibu Pertiwi, atau dalam bahasa Inggris, Mother Earth. Apakah seorang Ibu tidak boleh melindungi dirinya sendiri?

Salah satu isu yang tak banyak diulas di media massa adalah bagaimana para ibu-ibu Kendeng memasang badan saat alat berat berdatangan ke area lahan pertanian mereka. Meski banyak mendapat tindakan represif, mereka berjanji untuk tetap meneruskan aksi tanpa menggunakan cara-cara kekerasan. Mereka akan bertahan di tenda perlawanan, tanpa menggunakan kekerasan sama sekali. Hal ini juga yang menjadi nilai utama Greenpeace, beraksi tanpa kekerasan.

Aksi tanpa kekerasan pertamakali dipopulerkan Rossa Parks yang kemudian dikenal sebagai Ibu dari Gerakan Pembebasan di Amerika Serikat. Aksinya sederhana saja, dia menolak memberikan tempat duduknya di bis. Pada 1955, Amerika Serikat masih memberlakukan politik segregasi, salah satu dampaknya adalah tempat duduk di Bus. Penduduk keturunan Afro-Amerika harus duduk di tempat khusus dan harus memberikan kursinya apabila ada penumpang kulit putih yang tidak mendapatkan tempat duduk.

Aksi di Uttar Pradesh, New England, hingga Kendeng menunjukan bahwa gerakan perempuan dalam menyelamatkan lingkungan sudah jamak dilakukan,  bahkan bisa lebih radikal dibanding gerakan lingkungan pada umumnya. Peran perempuan di masyarakat seringkali sangat dekat dengan interaksi dengan bumi. Perempuan tak jarang berperan sebagai pemegang kunci penting terkait kearifan lokal interaksi manusia dengan alam.

Maka, sikap para pejabat yang mereka-reka aktor dibalik aksi Ibu-ibu Kendeng, apalagi mempertanyakan fungsi domestik mereka, adalah sikap yang merendahkan kemampuan berpikir perempuan secara umum. Seolah-olah perempuan tidak mungkin melakukan kegiatan penyelamatan lingkungan yang signifikan, oleh karena itu harus ada aktor lain dan harus ada bapak-bapaknya.

Padahal, aksi Ibu-ibu Kendeng juga bukan aksi pertama dalam gerakan penyelamatan lingkungan oleh perempuan di Indonesia. Nun jauh di Sulawesi sana, mama-mama dari Pulau Bangka Sulawesi Utara berusaha menyelamatkan laut mereka dari pertambangan yang merusak pulau dan laut mereka. Tidak kalah lagi, perjuangan perempuan adat dari Pandumaan-Sipituhuta yang berusaha menyelamatkan hutan Kemenyan di Sumatera Utara dari perusahaan kertas.

Aksi penyelamatan bumi bukanlah milik gender tertentu maupun kelompok tertentu saja. Aksi penyelamatan bumi yang tersebar di pelosok planet, bukan untuk menyelamatkan segelintir orang. Menyelamatkan bumi sama dengan menyelamatkan seluruh manusia, anak-anak kita, dan lebih-lebih menyelamatkan perempuan sebagai salah satu kelompok yang paling dekat dan rentan apabila ada bencana akibat kerusakan lingkungan.

Mari rayakan Hari Bumi dengan Semangat Kartini, membuka cakrawala pengetahuan kita agar semakin terang, dan saling mendukung, karena kita semua setara, berdaya, dan mempunyai tanggung jawab yang sama di Planet Bumi ini. (sumber: greenpeace.org)

Penulis adalah Juru Kampanye Media Greenpeace Indonesia. Suka berjalan kaki di Jakarta pada malam hari, juga suka makan brokoli. Pernah menjadi wartawan, namun ternyata lebih cocok menjadi pegiat aksi langsung tanpa kekerasan.

News Feed