oleh

Resensi Buku: Konsepsi Johannes Warneck Mendidik Orang Batak

Fokus buku ini adalah menuturkan kiprah dan kinerja Johannes Warneck, seorang misionaris berkebangsaan Jerman, menjelang akhir abad 19 hingga awal abad 20 di Tanah Batak. Nama Johannes Warneck boleh jadi masih kurang populer di kalangan warga Kristen Batak.

Padahal Warneck merupakan figur sentral dalam mendidik orang Batak, terutama calon-calon guru dan pendeta. Warneck berhasil mewujudkan pembukaan museum budaya Batak di seminari Sipoholon pada tahun 1901 (hlm. 140). Warneck pernah menjadi Ephorus gereja Batak (HKBP) selama dua belas tahun, 1920-1932.

Johannes Warneck adalah lulusan perguruan tinggi di Jerman (hlm. 8) dan memperoleh gelar doktor teologi honoris causa dari Fakultas Teologi Halle, Jerman (hlm. 258). Warneck mendedikasikan diri menjadi tenaga pengajar di seminari Pansurnapitu (1896-1900) dan seminari Sipoholon (1901-1906).

Kedua seminari tersebut berada di daerah Silindung, kabupaten Tapanuli Utara kini. Seminari Sipoholon dibuka setelah seminari Pansurnapitu terpaksa ditutup karena luas lahan tidak memadai lagi untuk membangun gedung baru bagi kebutuhan siswa dan dosen (hlm. 41).

Seminari itu mendidik siswa sekolah guru dan sekolah pendeta.  Alumni sekolah guru jadi guru sekolah dan sekaligus guru jemaat (hlm. 6, 8). Sejak 1879, masa pendidikan siswa sekolah guru menjadi empat tahun (hlm. 37). Selama pendidikan tinggal di asrama (hlm. 35).

Pendidikan sekolah pendeta dimulai sejak 1883. Siswa sekolah pendeta dipilih dari antara guru-guru pribumi yang dinilai terbaik dan terpercaya. Proses pemilihan berlangsung secara terbuka pada konferensi penginjil Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) di Tanah Batak. Setiap penginjil dapat mengajukan calon untuk dipertimbangkan bersama (hlm. 39-40). Siswa sekolah pendeta bersama keluarganya tinggal di perumahan dalam komplek seminari (hlm. 147-148). Masa pendidikan sekolah pendeta selama dua tahun (hlm. 41).

Semua biaya pendidikan siswa sekolah guru ditanggung oleh orang tua masing-masing. Sending RMG tidak sepeserpun mengeluarkan uang untuk keperluan pribadi setiap siswa (hlm. 61). Orang tua siswa lazim mengantar keperluan anaknya pada setiap hari Rabu (hlm. 166). Sedangkan biaya pendidikan dan kebutuhan siswa sekolah pendeta beserta keluarganya ditanggung sending RMG (hlm. 246).

Para penginjil RMG memposisikan guru dan pendeta Batak sebagai tenaga pembantu pelayanan mereka dalam menunaikan tugas penginjilan di Tanah Batak (hlm. 14). Penginjil RMG mengidentifikasi para guru dan pendeta Batak dengan sebutan “pembantu kami” (hlm. 24) atau “golongan pembantu” (hlm. 272).

Konsepsi Johannes Warneck

Johannes Warneck bukanlah sosok guru yang berpuas diri dengan rutinitas mengajar belaka. Tapi aktif mengajukan konsepsi pemikiran kepada kolega dan pada forum resmi seperti konferensi penginjil RMG.  Juga kreatif merealisasikan gagasan yang diyakininya tepat selaras dengan kebutuhan kontekstual. Semua ini dilakukan  Warneck demi meningkatkan mutu pendidikan seminari.

Warneck memformulasikan suatu konsepsi tentang tujuan lembaga pendidikan seminari Pansurnapitu dan Sipoholon. “Yaitu melahirkan para pelayan pribumi, guru dan pendeta, yang berkarakter mandiri, mampu memimpin diri sendiri dan memimpin bangsa dan gereja bangsa Batak” (hlm. 9). Konsepsi berupa visi dan misi ini diejawantahkan dalam seluruh rangkaian pendidikan siswa.

Dalam proses seleksi penerimaan siswa sekolah guru, Warneck konsisten menerapkan standar normatif tanpa terpengaruh pendekatan personal maupun kekeluargaan. Setiap calon siswa harus memenuhi persyaratan administratif, mengikuti ujian tertulis dan wawancara. Para siswa yang diterima adalah yang terbaik (hlm. 75, 160-164). Prinsip serupa juga berlaku bagi calon siswa sekolah pendeta, ditambah dengan suatu kriteria yaitu harus memperoleh rekomendasi dari konferensi penginjil RMG (hlm. 147-148).

Warneck tegas melaksanakan ujian akhir atau penentuan kelulusan berlandaskan kriteria objektif akademis. Siswa yang mendapat nilai kurang, tidak berhak memperoleh surat tanda lulus tapi patut diberikan surat tanda kalah (hlm. 70). Warnek semakin memperketat ujian akhir dan selalu ada siswa yang tidak lulus. Mereka harus mengulang selama satu tahun, kecuali menarik diri dan tidak ingin lagi menjadi guru (hlm. 165).

Bagi Warneck, setiap siswa bukan sekadar menghafal materi pelajaran. Tapi mesti mampu mencerna dan membahasakan sendiri materi pelajaran yang diterima. Warneck selalu memotivasi para siswa untuk mengungkapkan pendapat pribadi tentang berbagai mata pelajaran. Meski metode partisipatif ini relatif masih kurang mendapat respons dari siswa, tapi Warneck tetap berupaya mengimplementasikannya (hlm. 60-61).

Warneck menegakkan disiplin secara ketat dan mutlak. Setiap siswa harus bersih, rapi, rajin, mematuhi aturan dan jadwal kegiatan, tepat waktu, membenci dusta, tidak mencuri, dapat dipercaya, peduli kepada orang-orang lemah, menghendaki damai, suka menolong, dan sabar (hlm. 27, 36). Siapapun yang melanggar disiplin harus menerima ganjaran tanpa belas kasihan (hlm. 27, 172).

Setiap siswa tidak boleh ingkar atau meragukan perintah dosen. Perintah adalah perintah. Sekali mendapat perintah, harus dipatuhi tanpa bertanya (hlm. 172). Penegakan disiplin mutlak kerap membuat siswa baru harus melalui proses adaptasi yang menyakitkan (hlm. 169).

Rangkaian pendidikan tersebut, menurut Warneck, berorientasi pada pembentukan karakter yang mandiri. Proses pembentukan karakter mandiri tidak cukup hanya selama di seminari. Melainkan harus berlanjutan pada masa kerja di jemaat dan masyarakat (hlm. 221).

Terkait dengan pendidikan karakter berkelanjutan, Warneck memprakarsai penyelenggaraan sayembara menulis bagi guru dan pendeta Batak. Warneck menetapkan topik maupun tema yang relevan (hlm. 130). Semua guru dan pendeta Batak diminta untuk ikut serta. Tidak ada sanksi bagi yang tidak melakukannya. Metode ini, menurut Warneck,  merupakan suatu cara untuk memastikan bahwa seorang guru atau pendeta telah bekerja dengan semangat mandiri, “tanpa paksaan, hanya didorong oleh kasih, kerajinan, dan semangat kerja keras” (hlm. 232).

Selain itu, Warneck  giat meminta guru dan pendeta Batak untuk menulis makalah tentang aspek-aspek budaya Batak. Makalah itu dipresentasikan dalam pertemuan atau konferensi guru dan pendeta Batak (hlm. 225). Warneck juga aktif menjalin komunikasi tatap muka dengan guru dan pendeta Batak di daerah pelayanan mereka. Warneck datang berkunjung secara informal dan menginap di  rumah mereka (hlm. 250-254).

Pesan Historis

Konsepsi Johannes Warneck beserta semua informasi yang disajikan Pdt. Dr. J.R. Hutauruk dalam buku ini niscaya membingkai suatu pesan historis bagi generasi masa kini. Bukan saja karena ditulis bertitik tolak dari perspektif historis, tapi terlebih karena buku ini merupakan karya dari seorang teolog-sejarawan dan Ephorus HKBP periode 1998-2004.

Pada simpul itu, buku ini lebih dari sekadar menguraikan realitas masa lalu. Tapi substansinya memberi tetesan pengetahuan baru tentang potret karakter guru dan pendeta Batak.  Perihal ini menjadi suatu benang merah penting dalam seluruh isi buku ini yang terdiri dari enam bagian.

Susunan tiap bagian tidak selalu berdasarkan kronologis, tapi cenderung dikemas secara tematis. Fakta, opini dan refleksi bercampur baur di dalam buku ini. Semua itu tetap aktual dalam kaitan dengan sosok Johannes Warneck yang mengharapkan guru dan pendeta Batak berkarakter mandiri. Harapan ini belum sepenuhnya terkabul pada masa sending RMG (hlm. 271-273).

Tapi sending RMG cukup berhasil menyemaikan tekad pendeta Batak untuk berdedikasi meskipun harus hidup sederhana. Hampir semua pendeta Batak yakin bahwa Tuhan pasti akan mencukupkan biaya bagi masa depan keluarga maupun keperluan sekolah putra-putri mereka (hlm. 251-252). Meski penghasilan sangat minim ketimbang gaji pegawai pemerintah dan perusahaan yang jauh lebih tinggi, pendeta Batak tetap setia menunaikan tugas kependetaan  (hlm. 10).

Terpaut dengan itu, buku ini patut menjadi bacaan wajib dalam upaya memahami fenomena pelayan gereja Batak pada abad silam dan perkembangan kontemporer. Juga sangat bermanfaat sebagai rujukan untuk memformulasikan kembali metode pendidikan calon-calon pelayan gereja Batak.

Dengan begitu, pesan historis dalam buku ini akan mencapai tujuannya. Naskah buku ini dirampungkan manakala Pdt. Dr. J.R. Hutauruk akan merayakan ulang tahun ke- 77 pada 7 Oktober 2013. Bertepatan dengan hari jadi HKBP ke 152, terhitung sejak 7 Oktober 1861. Penerbitan buku ini boleh jadi merupakan sebuah kado ulang tahun penulisnya kepada publik, secara khusus warga Kristen Batak.

Melalui buku ini, Ephorus emeritus Pdt. Dr. J.R. Hutauruk seakan hendak menggugah para pihak terkait untuk menyigi motif orang Batak jadi pelayan gereja pada abad ini serta mutu karakter mereka sebagai manusia mandiri. Termasuk pula mengantisipasi gelagat individu-individu pelayan gereja Batak yang terkesan gandrung membiarkan diri digerogoti oportunisme materialis. ***

Peresensi: Sahat P Siburian, alumni Program Pascasarjana Studi Media dan Komunikasi Universitas Airlangga Surabaya, tinggal di Medan

News Feed