oleh

#RI72: “Merdeka Itu, Rakyat Harus Dukung OTT”

Pematangsiantar, BatakToday

Nada ‘miring’ terdengar diucapkan seorang warga yang hadir ‘menyaksikan Upacara Perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia Ke-72, yang berlangsung Kamis (17/8/2017) di Lapangan Haji Adam Malik, Pematangsiantar.

“Biar sah sebetulnya kita ini merdeka, maunya OTT saja semua yang korupsi-korupsi sama yang pungli-pungli itu,” ujarnya dengan ‘nada’ Siantar yang kental, menyinggung Operasi Tangkap Tangan yang disingkat OTT, sebagai salah satu cara aparat penegak hukum dalam pemberantasan korupsi ataupun pungutan liar.

Lelaki lain di sebelahnya, terlihat seumuran, meminta lelaki itu untuk berhenti ‘berceloteh’. Tetapi, justru dia menyambung lagi, bahwa Operasi Tangkap Tangan menjadi solusi pemberantasan korupsi, yang menurutnya, menjadi penghambat pembangunan di Indonesia.

“Tak percaya kalian! Kalau tak di’otete’kan (tidak ditangani melalui Operasi Tangkap Tangan,-red.) yang korupsi-korupsi itu, sama yang pungli-pungli itu, makin merajalela lah orang itu. Tak beres pembangunan ini nanti. Kapan majunya negara ini kalau korupsi dibiarkan jalan terus,” tambahnya lagi, sambil memegang erat pagar lapangan Adam Malik, di seberang Kantor DPRD Kota Pematangsiantar.

Lagi-lagi lelaki di sebelahnya, yang dari awal BatakToday menduga mereka berteman, menegurnya lagi, memintanya untuk berhenti bicara.

“Yang tak bisa laginya lae diam? Nantilah lae marepet, sudah mau upacara ini,” tegur lelaki itu.

“Tak mau lagi kalian dengar cakapku, tak percaya kalian sama aku. Kalau tak tiap hari ada OTT, sebulan saja pun, tapi tiap hari ya…! Ya janganlah pulak macam di Simalungun itu, OTT, tapi tak jelas! Tuntas lah pulaknya ditarok. Iya kan ‘dek? Kalian pun lapor, kalau di sekolah kalian ada pungli,” ujarnya kepada pelajar wanita yang juga berdiri rapat di pagar.

Akhirnya ‘ketahuan’ keduanya berteman, ketika lelaki yang satu lagi, menghardiknya pura-pura marah, tetap dengan gaya Siantar-nya.

“Ah, kuambil lah kau nanti, recok kali. Kau ajalah yang jadi walikota, biar ngomong kau dari muka sana. Atau bawa dulu kawan ‘ni ke kede (warung atau warung kopi,-red.) sana bah, wawancarai dulu dia, wartawan lae ‘kan? Daripada di sini dia bekoar-koar, bawakan dulu dia ke kede sana,datang pun aku nanti, aku yang bayar kopi kalian,” sebutnya mengarahkan kepada BatakToday, tanpa menyebut pasti warung yang dimaksud.

“Inilah, inilah…, inilah kita ini, sesama rakyat pun tak mendukung pemberantasan korupsi, sama saber pungli (Sapu Bersih Pungutan Liar,-red.). Kita rakyat ini harus mendukung lah, lapor ke KPK lah, ke Saber Pungli. Kawan ini, yang tak pernahnya pulak dia kena pungli, tak mengurus KTP dia. Tak pake KTP pulaknya bapak ini, dek! Lagi pun tak ada duitnya yang mau dipungli. Jangan mau kau jadi parumaen (menantu) nya, dek! Tak ada uangnya ini, nanti sinamot pun bon nya,” ujar lelaki yang kemudian diketahui bermarga Simanjuntak ini, sekali lagi, kepada pelajar wanita yang sebelumnya telah ‘dilibatkan’ sebagai pendengar dalam ‘dialog’ pagi itu.

Ah, laos husipakhon do ho annon, sude do paboa-boa on mu tu na torop (kutendang kau nanti, semuanya kau beritahukan sama orang banyak),” ‘sungut’ lelaki itu kepada temannya, pura-pura ‘mengamuk’.

Lelaki penceloteh itu pun tertawa sambil menjauhi temannya, disambut tawa warga lain, yang sedari awal perhatiannya tertuju kepada candaan ‘mendidik’, khas Siantar itu.

BatakToday yang ‘tertarik’ dengan lelaki ini, kemudian mengikutinya untuk berkenalan. Seperti lazimnya di kota ini, saling menyebut marga. Lelaki bermarga Simanjuntak ini menyebut, sengaja ‘berlakon’ seperti itu, di tengah keramaia,dengan temannya yang dia sebut bermarga Sihombing.

Ai songoni nama na tarbahen lae, nietong ma i na pasahat tona tu angka naposo. Ai aha ma natarbaehen lae, holan manungguli tu angka naposo on nama. Tanggungjawab ta do i daba, andigan pe muba bangso on (Begitu saja yang bisa diperbuat, anggap itu menyampaikan pesan kepada orang muda. Apalah yang bisa saya perbuat, hanya mengingatkan orang muda. Itu tanggungjawab kita, kapan lagi bangsa ini berubah)?” jelasnya kemudian, dengan senyum, mencoba meyakinkan.

Setelah mengucapkan terimakasih, BatakToday mencoba menemui Sihombing, lelaki lainnya, yang ketika ditinggalkan masih di pagar lapangan Adam Malik. Namun, Sihombing tidak lagi di sana, dan ketika pelajar yang ada di tempat itu ditanya, menyebut bahwa tadi mengikuti ‘kami’ dari belakang.

Kemudian dicoba untuk mencari Sihombing, pun Simanjuntak, di tengah keramaian pada pagi hari itu, namun tidak ditemukan. Siapa sebenarnya kedua lelaki itu…??? (ajvg)

News Feed