oleh

Dari Sabuga Bandung ke Lagu Indonesia Raya

Pembubaran ibadah Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Natal 2016 yang diselenggarakan di Auditorium Sabuga ITB-Bandung, pada Senin malam (6/12,) meninggalkan ‘sedikit’ persoalan baru lagi bagi toleransi beragama di negeri ini.

Negara yang memiliki Pancasila sebagai dasar Negara, dengan Bhineka Tunggal Ika-nya, kembali terusik, oleh kelakuan sekelompok orang yang menggunakan embel-embel salah satu agama di negeri ini. Kita tidak usah terlalu jauh mempertanyakan, apakah ada agenda tertentu atau  tidak, dibalik pembubaran ibadah KKR tersebut.

Negara seharusnya bertindak tegas, dan tidak boleh membiarkan begitu saja kejadian demi kejadian yang mengganggu kebebasan beragama. Kejadian seperti ini mengusik Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara dan dasar hukum di negeri ini. Lebih dari itu juga pelanggaran terhadap Hak Azasi Manusia.

Kelompok dengan judul ‘berbau’ salah satu agama, menghentikan kegiatan peribadahan umat yang menganut agama lainnya. Telah berkali-kali terjadi, dan tak guna juga untuk meributkannya bila tanpa hasil.

Dalam kejadian di Sabuga Bandung, kabarnya, dengan alasan “Dilarang Bernyanyi”. Apa urusan satu kelompok terhadap nyanyian kelompok lain, di gedung yang bukan “ruang-agama” milik kelompok tertentu.

Di  dinding Auditorium Sabuga Bandung terpampang kalimat “Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan dijiwai dengan semangat kebangsaan, mari kita bangun negeri ini dengan sains, seni dan teknologi” (Wiranto Arismunandar, 1997). Ini boleh disebut sebagai penanda bahwa gedung Sabuga Bandung bukan milik salah satu kelompok agama yang ada di negeri ini.

Namun, petugas keamanan tidak menghentikan ‘keberatan’ kelompok itu dalam upayanya untuk membubarkan peribadahan. Hal ini juga menjadi pertanyaan baru tentang tugas dan fungsi kepolisian.

Sementara Negara ‘masih’ melakukan pembiaran, barangkali dapat menjadi solusi alternatif, mencegah ‘kasus’  sejenis dengan kejadian Sabuga Bandung. Untuk agama tertentu yang dalam peribadahannya melakukan ‘ritual’ bernyanyi, sebaiknya pilihlah lagu yang membuat umat agama tersebut dilindungi Negara.

Dengan terlebih dahulu memaafkan perbuatan dan tindakan yang mengganggu keberlangsungan dan katakanlah itu kenyamanan beribadah, untuk ke depannya nyanyikanlah lagu Indonesia Raya saja saat beribadah, barangkali Negara akan mau untuk menjaga dan melindungi… (***)

News Feed