oleh

Sado, Masa Lalu Siantar: “Dari Lapangan Simarito ke Adam Malik”

Pematangsiantar, BatakToday

Sado, yang menjadi bagian dari sarana transportasi umum di Kota Pematangsiantar hingga pertengahan 1970-an, dapat dinikmati kembali oleh warga maupun pelancong, meski dalam arti berbeda, yaitu sebagai sarana hiburan atau rekreasi.

Jalan di sekitar Lapangan Haji Adam Malik, dalam beberapa waktu terakhir kembali di’ramai’kan oleh sado. Empat unit sado yang dihiasi lampu warna-warni, lengkap dengan musik, biasanya musik dangdut, bersedia membawa anda untuk bernostalgia ke masa lalu kota ini.

Debi Putra bersama 3 rekannya, sama-sama asal kota Padang, sejak Nopember 2016 lalu beroperasi membawa penumpang berkeliling di jalan-jalan sekitar lapangan yang terletak di pusat kota Siantar.

Sado asal kota Padang, membawa penumpang untuk menikmati suasana sekitar Lapangan Haji Adam Malik, Pematangsiantar, Selasa malam 17/01/2017 (bataktoday/ajvg)
Sado asal kota Padang, membawa penumpang untuk menikmati suasana sekitar Lapangan Haji Adam Malik, Pematangsiantar, Selasa malam 17/01/2017 (bataktoday/ajvg)

“Empat-empatnya kami datang dari Padang. Inisiatif sendiri ke sini, khusus untuk sado wisata. Kita tinggal sementara di Karangsari, ngontrak. Nanti habis dari sini, bisa ke Aceh, ke Medan, pindah-pindahlah, tapi khusus sado wisata,” terang Debi kepada BatakToday, Selasa malam (17/01/2017) sekitar pukul 19.00 Wib.

Untuk berkeliling melintasi jalan Adam Malik-jalan Sudirman-Jalan Kartini, kemudian kembali ke pinggir lapangan Adam Malik melalui depan Kantor Pajak dan Bank Indonesia, dikenakan tarif Rp 30 ribu, sekali jalan.

Sado sedang melintas di Jalan Sutomo, pusat kota Pematangsiantar, Selasa malam 17/01/2017 (bataktoday/ajvg)
Sado sedang melintas di Jalan Sutomo, pusat kota Pematangsiantar, Selasa malam 17/01/2017 (bataktoday/ajvg)

Menurut pengakuan Debi, pendapatannya di Siantar lumayan, namun terbatas jika sado yang beroperasi hanya dua unit.

“Pendapatan kita lumayan, kalau untuk satu atau dua unit saja yang beroperasi. Kalau kita turun sekali empat sado, kurang juga lah bang,” sebutnya menggambarkan jumlah penumpang yang relatif tak banyak.

Debi bersama seorang rekan se-tim-nya, mangkal di tepi jalan depan Kantor DPRD, menanti penumpang yang ingin menikmati perjalanan kembali ke ‘masa lalu’ kota ini, maupun untuk menjawab rasa ingin tahu, bagi mereka yang belum pernah menaikinya.

Dua Sado, mangkal menanti penumpang di jalan H Adam Malik, depan Kantor DPRD Pematangsiantar, Selasa malam 17/01/2017 (bataktoday/ajvg)
Dua Sado, mangkal menanti penumpang di jalan H Adam Malik, depan Kantor DPRD Pematangsiantar, Selasa malam 17/01/2017 (bataktoday/ajvg)

Sado hari ini masih tanpa knalpot apalagi asap. Namun dengan aroma kuda dengan bagian yang melekat di dalam kisah tentang sado, yaitu oleh ‘keharuman’ khas dari tempat penampungan kotoran kuda.

Di awal malam itu, ‘kembali’nya sado seperti membawa BatakToday kepada kenangan masa lampau, dari zaman lapangan di pusat kota masih bernama Simarito, hingga ke kota Siantar hari ini dengan segala kekiniannya. Meskipun Lapangan Haji Adam Malik dan warga Siantar belum juga memiliki walikota definitif, hasil dari Pilkada yang akhir ceritanya tak kunjung jelas. (ajvg)

News Feed