oleh

SAF2017, Adie Damanik: “Siantar Butuh Ruang Publik untuk Seni Budaya”

Pematangsiantar, BatakToday

Siantar Arts Festival (SAF) 2017 yang diselenggarakan 4-5 Agustus mendapat respon positif dari komunitas seni budaya maupun masyarakat, terutama kaum muda Kota Siantar.

Diikuti 39 komunitas dari berbagai bidang seni budaya, dari Siantar dan daerah lainnya, diselenggarakan di lingkungan Kampus Universitas HKBP Nommensen, Jalan Sangnaualuh (atau Jl. Asahan), Pematangsiantar.

Adie Damanik, Ketua Panitia Siantarman Arts Festival 2017 (doc. Adie Damanik)
Adie Damanik, Ketua Panitia Siantarman Arts Festival 2017 (doc. Adie Damanik)

Sebelumnya, Adie Damanik, Ketua Panitia SAF 2017, dalam konperensi pers yang diselenggarakan di DL Cafe&Resto, Kamis petang (3/8/2017), mengatakan para pekarya seni di Kota Siantar saat ini tidak memiliki ruang publik yang layak untuk penyelenggaraan kegiatan seni budaya, apalagi kegiatan setara festival.

“Para pekarya seni pada dasarnya independen, dan dalam berkarya juga tidak bergantung kepada orang lain, termasuk pemerintah tentunya. Namun, masyarakat umumnya akan dapat mengapresiasi karya seni melalui kegiatan, pameran, maupun pertunjukan seni budaya. Ruang publik yang layak untuk menyelenggarakan even-even seni budaya, itu yang belum dimiliki Kota Siantar,” sebut Adie.

Menurut Adie, penyediaan ruang publik untuk kegiatan seni budaya bagi warga dan pekarya seni budaya, adalah merupakan tanggungjawab pemerintah. Dalam hal ini, diharapkan perhatian dan tanggungjawab dari Pemerintah Kota Pematangsiantar.

“Di Siantar ini memang sudah sering diselenggarakan konser musik, yang mengambil tempat di Lapangan Adam Malik dan Lapangan Horbo. Tentunya karya seni budaya yang perlu ditampilkan kepada publik bukan hanya konser musik pop atau rock, seperti yang selama ini dilangsungkan. Dan harap menjadi perhatian juga, penggunaan lapangan itu justru menjadi rancu, karena fungsi utama kedua lapangan tersebut adalah sebagai tempat masyarakat berolahraga dan fungsi sehari-hari lainnya. Artinya, jika lapangan itu digunakan untuk kegiatan seni budaya, apalagi sejenis festival, justru akan mengganggu kegiatan lainnya untuk masyarakat,” terang Adie.

Penampilan Sabo Band, Medan, di Siantarman Arts Festival 2017 (Foto: doc Adie Damanik)
Penampilan Sabo Band, Medan, di Siantarman Arts Festival 2017 (Foto: doc Adie Damanik)

Ketua Panitia Siantarman Arts Festival 2017 ini menjelaskan, butuh waktu satu hari mempersiapkan segala sesuatunya di tempat penyelenggaraan. Dengan menjadikannya sebagai contoh, menurutnya, sebuah kota seperti Siantar, butuh ruang publik yang dikhususkan untuk kegiatan-kegiatan seni budaya.

“Sudah saatnya Kota Siantar memiliki ruang publik untuk kegiatan seni budaya. Misalnya Siantarman Arts Festival ini, persiapan di lokasi butuh sehari penuh, ditambah penyelenggaraan 2 hari, berarti menyita waktu 3 hari penuh. Disamping ruang publik yang digunakan untuk kegiatan seni budaya perlu kondisi dan kelengkapan tertentu, jika festival ini tadinya diselenggarakan , misalnya di Lapangan Horbo, tentu akan mengganggu warga yang akan berolahraga. Setidaknya 3 hari lah! Tentunya kegiatan yang satu, dalam hal ini kegiatan seni budaya, jangan sampai merebut kesempatan warga kota untuk berkegiatan di ruang publik dengan peruntukan lain, misalnya itu tadi, untuk berolahraga,” harap Adie.

Identity Band, dalam Siantar Arts Festival 2017 (bataktoday/ajvg)
Identity Band, dalam Siantar Arts Festival 2017 (bataktoday/ajvg)

Setelah opera ini usai, dilanjutkan dengan penampilan Identity Band. Grup band ‘asli’ Siantar, dengan vokalis utamanya Hendra Ginting, berhasil membuat penonton bergoyang, bahkan hingga ke depan panggung.

Siantarman Arts Festival 2017 yang berakhir sesaat menjelang tengah malam ini, oleh panitia penyelenggara, komunitas dan pekarya seni, maupun para pengunjung yang didominasi kaum muda Kota Siantar, diharapkan akan menjadi even tahunan yang mengisi kalender kegiatan seni budaya di kota ini. (ajvg)

News Feed