oleh

SAFe 2016: “Opera Batak Silahisabungan, Melintasi Jembatan di Tengah Danau”

Silahisabungan, BatakToday

Panggung Silahisabungan Arts Festival (SAFe) 2016 pada Sabtu malam (3/12) lalu menampilkan Opera Batak Silahisabungan, dengan membawakan kisah tentang Sagu-sagu Marlangan. Kisah ini lebih dari sekedar legenda, tetapi menjadi menjadi ‘kitab’ bagi Pomparan Silahisabungan (Keturunan Raja Silahisabungan), sebagai tuntunan dalam hubungan adat dan hubungan antara sesama keturunan Raja Silahisabungan, maupun dengan pihak lain, di kawasan Silalahi Nabolak dan di perantauan.

Rumah Karya Indonesia (RKI), Medan, yang menjadi konseptor untuk tampilnya Opera Batak Silahisabungan dalam SAFe 2016, tidak begitu saja mencapai sukses untuk ‘menggiring’ siswa-siswi SMA Negeri Silahisabungan beraksi di panggung pada malam itu. Semuanya melalui proses panjang, dan penuh dengan berbagai tantangan.

Latihan Opera Batak Silahisabungan, di SMAN 1 Silahisabungan (doc. sandi naga)
Latihan Opera Batak Silahisabungan, di SMAN 1 Silahisabungan (doc. sandi naga)

Agus Susilo sebagai Penulis Naskah sekaligus Sutradara untuk opera yang ditampilkan, memerlukan waktu selama satu bulan, sejak melakukan riset literasi dan riset lapangan, hingga naskah untuk Opera Batak Silahisabungan yang berisikan kisah Sagu-sagu Marlangan ini tuntas.

Raja Turpuk di Silalahi Nabolak dan mereka yang lebih mengerti tentang budaya terkait dengan penyempurnaan naskah ini, diwawancarai dan menjadi tempat Agus untuk berkonsultasi.

Opera Batak Silahisabungan, pada SAFe 2016, Silahisabungan (doc hermanto situngkir)
Opera Batak Silahisabungan, pada SAFe 2016, Silahisabungan (doc hermanto situngkir)

Perbedaan bahasa, menjadi salah satu tantangan bagi Agus untuk menemukan ‘roh’ dari kata dan kalimat yang banyak ditemuinya dalam penyusunan naskah. Membutuhkan pemaknaan yang lebih dalam untuk dapat mengekspresikan berbagai ragam kata dan kalimat yang mengandung nilai filosofis, terutama bagi Agus yang bukan penutur Bahasa Batak Toba, apalagi dengan Bahasa Batak ala Silalahi Nabolak atau Sitolu Huta.

Tidak mudah untuk dapat menuangkannya ke dalam naskah, dan mengekspresikannya secara penuh, apalagi untuk membawanya ke dalam konteks kekinian, yang menjadi tendensi dari pementasan itu.

Setelah naskah ini tuntas, Agus dengan didampingi Rahmat Sipayung, lebih pantas dikatakan ‘dijembatani’, mulai melatih siswa-siswi SMA Negeri 1 Silahisabungan. Rahmat, guru yang dihunjuk sekolah itu sebagai Koordinator Latihan, sekaligus menjadi penerjemah naskah yang tadinya dalam Bahasa Indonesia, ke dalam Bahasa Batak.

Adegan dalam Opera Batak Silahisabungan (doc. Hermanto Situngkir)
Adegan dalam Opera Batak Silahisabungan (doc. Hermanto Situngkir)

Siswa yang terlibat dalam opera ini berjumlah 45 orang, dari kelas XI dan XII. Mereka latihan dari pukul 16.00 hingga 18.00, setelah jam les tambahan pelajaran di sekolahnya.

Hambatan lainnya dalam proses latihan adalah para siswa yang selain belajar di sekolah, juga diharapkan orang tua untuk membantu bekerja di ladang, di rumah, atau pekerjaan lainnya untuk mendukung keuangan keluarganya. Ditambah lagi oleh kendala jarak antara rumah dan sekolah. Sebagian siswa berjalankaki dari Desa Paropo maupun dusun-dusun Silalahi yang relatif berjarak dengan sekolah sebagai tempat latihan.

“Terkadang masih latihan satu jam, mereka sudah gelisah untuk pulang. Belum lagi banyaknya tugas sekolah mereka. Tetapi, di antara kendala-kendala itulah proses kreatif dari Opera Batak ini justru berlangsung,” demikian Agus menggambarkannya.

Salah satu adegan dalam Opera Batak Silahisabungan (doc. hermanto situngkir)
Salah satu adegan dalam Opera Batak Silahisabungan (doc. hermanto situngkir)

Akhirnya semua tantangan itu terjawab dan terlewati, ketika penampilan Opera Batak Silahisabungan yang berisikan kisah Sagu-sagu Marlangan, malam itu, berhasil menyampaikan pesannya, sekaligus menghibur seribuan lebih penonton, yang memadati sebidang tanah perladangan di Simpangtiga Simbur, Desa Silalahi II.

Memaknai, Merawat, dan Menghidupkan Tradisi, yang menjadi kata kunci dari setiap kreasi dan kegiatan Rumah Karya Indonesia, ketiganya ada dalam Opera Batak Silahisabungan pada pementasan kali ini.

Sekali waktu dalam perjalanannya ke Silalahi Nabolak, dalam rangkaian persiapan Opera Batak ini, Agus Susilo sang sutradara menuliskan, “Aku bergegas, Di pusaran hening, Memanggilmu…, Tao menyimpan legenda…”

Rapat persiapan SAFe 2016, Bona Rest, Silalahi II (doc. sandi naga)
Direktur SAFe 2016, Chona Eltoruan, dalam rapat persiapan festival, di Bona Rest, Silalahi II (doc. sandi naga)

Agus tidak menyebutkan bagian mana dari memaknai-merawat-menghidupkan tradisi, yang menjadi bagian tersulit dalam persiapan pementasan opera ini. Tetapi, potongan-potongan jembatan telah disatukannya, dan berhasil dilintasi. Tao Silalahi yang menyimpan legenda, pun menjadi jalan untuk menampilkan sebuah tradisi, melalui pementasan Opera Batak Silahisabungan, yang menjadi ikon pada festival yang baru berlangsung.

Penanggungjawab Opera Batak Silahisabungan pada Silahisabungan Arts Festival (SAFe) 2016 adalah Kepala Sekolah SMAN 1 Silahisabungan, Sadiman Sigiro, dan Direktur SAFe, Passiona M Sihombing alias Chona Eltoruan. (ajvg)

News Feed