oleh

SAFe 2016: Sagu-sagu Marlangan, Pesan dari Opera Batak Silahisabungan

Silahisabungan, BatakToday

Silahisabungan Arts Festival (SAFe) 2016 yang berlangsung 2-4 Desember 2016, pada puncaknya hari Sabtu malam (3/12), menampilkan Opera Batak Silahisabungan yang dibawakan oleh ‘tuan rumah’  siswa-siswi SMA Negeri 1 Silahisabungan.

Dalam pengantar pertunjukan, General Manager SAFe Ojax Manalu menyebutkan kisah ini adalah tentang Sagu-Sagu Marlangan, yang di dalamnya berisikan tatanan dan aturan hukum kekerabatan untuk seluruh keturunan Raja Silahisabungan.

Kisah yang diangkat dalam pertunjukan ini berusaha menggali sejarah Silalahi Nabolak, yang diproyeksikan dalam konteks kekinian. Opera ini mengangkat kisah leluhur kita yang menyimpan nilai-nilai filosofis yang begitu dalam. Sagu-Sagu Marlangan bukan sekedar teks tertulis yang diukir di Tugu Silalahi belaka. Lebih dari itu Sagu-Sagu Marlangan adalah kitab bagi penerus silsilah Raja Silahisabungan.

Silalahi Nabolak, tanah yang kental dengan kisah ksatria leluhur Sihaloho, Situngkir, Sondiraja, Sidabutar, Sidabariba, Sidebang, Batu Raja, Tambun Raja dan Putri Deang Namora. Di Bukit Simanampang, tempat Sagu-Sagu Marlangan diikrarkan. Di Sungai Sibola Huta. Di mata air Aek Sipaulak Hosa. Di Batu Sigadap. Di pemandian Paranggiran Deang Namora. Di mata air Mual Sidabariba. Semua kisah yang melebihi legenda terangkai indah dan penuh kejutan.

Salah satu adegan dalam pertunjukan Opera Silahisabungan (bataktoday/ajvg)
Salah satu adegan dalam pertunjukan Opera Silahisabungan (bataktoday/ajvg)

Dikisahkan gejolak sosial yang disebabkan gesekan kepentingan dari dua saudara karena berebut tanah, menjadi konstruksi dramatik kisah ini.

Dalam salah satu bagian, ketika diketahui ada pertentangan sengit sesama marga Silalahi dari antara 8 bersaudara, disebutkan “Holan Raja Turpuk do na boi padamehon parbadaan i. Molo songoni, telepon ma Raja Turpuk i (hanya pimpinan kelompok marga yang dapat mendamaikan pertentangan itu. Kalau begitu, segera telepon Raja Turpuk).”

Bagian ini menggambarkan bagaimana perananan Raja Turpuk dalam struktur sosial dan struktur adat masyarakat Silalahi Nabolak pada masa lampau. Nilai ini menjadi salah satu nilai yang dipegang masyarakat kawasan hingga saat ini.

Disaksikan sekitar seribuan lebih penonton, sebagian memenuhi tenda berkapasitas 400 tempat duduk, dan selebihnya berdiri dengan beratapkan langit. Lokasi pertunjukan di atas lahan perladangan yang berdekatan dengan Simpangtiga Simbur, yang malam itu berlumpur akibat diguyur hujan yang turun berapa hari terakhir, tidak menjadi penghalang untuk menikmati pementasan Opera Batak ini.

Tandok, yang hingga hari ini masih digunakan sebagai tempat beras atau padi dalam acara-acara adat, digunakan dalam pertunjukan Opera Batak Silahisabungan (bataktoday/ajvg)
Tandok, hari ini masih digunakan sebagai tempat beras atau padi dalam acara adat Batak (bataktoday/ajvg)

Dari perhatian serius penonton menyaksikan pertunjukan berdurasi sekitar satu setengah jam ini, terlihat jelas bagaimana Opera Batak masih sangat diminati masyarakat Silahisabungan sendiri, dan penonton dari berbagai daerah, seperti Medan, Sidikalang, Kabanjahe, Tongging, dan daerah lainnya. Penonton tidak beranjak dari tempatnya hingga pertunjukan berakhir.

Rangkaian kata menggetar dari panggung, diiringi sarune (serunai) dari alunan Gondang Sitolu Huta, khas Silalahi Nabolak, bergema hingga ke tengah danau, Tao Silalahi.

Dolok Simanampang sai tong do diingot, Sagu-sagu Marlangan dibaritahon. Sagu-sagu Marlangan i badan-hu, kekeluargaan dang tarpasirang… Tu hita sude, o pewaris ni Silalahi Nabolak on, tu hita sude o  pinompar ni Namarhuaso saleleng ni leleng na, di Dolok Simanampang on dang adong parbadaan. Adong pe parbadaan, paso ma sude..!”

Terjemahan bebasnya, “Dolok Simanampang selalu diingat, Sagu-sagu Marlangan selalu diberitakan. Sagu-sagu Marlangan mengalir di dalam darah, kekeluargaan tidak terpisahkan… Kepada kita semua, wahai pewaris Silalahi Nabolak, kepada kita semua ciptaan Yang Maha Kuasa, di Dolok Simanampang tidak ada pertentangan. Pertentangan harus dihentikan!”

Pesan yang berkumandang dari panggung Opera Batak Silahisabungan malam itu, sekaligus menjadi pesan Silahisabungan Arts Festival 2016, untuk memaknai, memelihara, dan menghidupkan tradisi dalam masyarakat Silahisabungan, sekaligus untuk masyarakat Kawasan Danau Toba, dalam menyongsong pengembangan kawasan sebagai destinasi wisata, dengan berbagai aspek yang akan timbul dalam masyarakat. (ajvg)

News Feed