oleh

Samosir Adalah Tempat untuk Mendapatkan Ketenangan

Medan, BatakToday-

“Saat berada di Samosir, saya bisa rasakan alam berbicara. Udaranya, desiran air, roh alam serasa melayang-layang”, demikian ungkapan kekaguman disainer Torang MT Sitorus ketika berbincang dengan BatakToday, Rabu (30/9). Baginya, pulau Samosir adalah tempat dimana ia bisa mendapatkan ketenangan yang sejati. Jauh dari kebisingan, dan ada roh alam yang senantiasa mampu membangun suasana ketenangan itu.

Menurut Torang Sitorus, meskipun memiliki potensi yang kuat sebagai tempat wisata, namun Samosir hingga kini belum dikelola dengan optimal menjadi daerah tujuan wisata yang maju karena rendahnya peran pemerintah dalam penyediaan infrastruktur. “Pemerintah belum hadir di sana. Misalnya di Tuktuk, semua berjalan autopilot,” ujar pria yang sudah melanglang buana ke hampir seluruh tempat wisata di Indonesia dan beberapa di luar negeri.

“Penataan destinasi wisata dengan kelengkapan fasilitas, rute, dan sebagainya mestinya dibenahi,” sambung Torang dengan serius.

Menurut Torang, originalitas Samosir dengan artefak-artefaknya tidak perlu diubah, namun fasilitas yang memadai perlu disiapkan. Seperti Lumban Suhisuhi yang telah dibangun sedemikian rupa sejak dahulu menjadi kawasan tenun dengan susunan rumah adat Batak yang indah, alangkah eloknya jika pada bagian halaman dipasang paving block, sehingga terlihat rapi.

“Tidak musti mewah, tapi harus ramah dan pembangunan yang dilakukan harusnya memiliki ekspektasi yang jauh ke depan,” ujarnya.

Pertunjukan-pertunjukan budaya seperti mangalahat horbo, tortor sipitu sawan dan sebagainya sudah sangat bagus menurut Torang. Hanya saja, cara pengemasan yang masih jauh dari kelas internasional. “Memang kita harus menunjukkan keasliannya, namun sajiannya harus lebih nyaman, kemasannya berkelas,” lanjutnya seraya mengatakan bahwa budaya adalah harta yang telah tersedia dan tidak akan pernah hilang.

Demikian juga dengan kesiapan penyedia kuliner, sampai saat ini belum ada restoran yang bertaraf internasional di seputaran Samosir. Menurutnya kuliner asli sangat baik, namun sampai saat ini cara penyajiannya masih jauh dari harapan.

Sebagai sosok yang aktif menggali produk tekstil tenun dari Toba, Torang mengatakan bahwa jiwa dan karakter suatu etnis juga tertuang di dalam produk tekstilnya. “Ulos misalnya,” paparnya, “dengan menggambarkan proses pembuatan yang mengupayakan agar benang demi benang berpaut dengan kuat menunjukkan bahwa ada pola kehidupan untuk bekerja keras untuk mendapat dan mempertahankan apa yang menjadi haknya. Kemudian kombinasi warna menunjukkan adanya keinginan menjadi yang terdepan, ingin tampil. Untuk itu di Samosir juga sudah saatnya ada museum tekstil yang berkelas dilengkapi dengan ruang pementasan.”

Kawasan Danau Toba tidak serta merta tercipta begitu saja, tapi melalui proses dan ada roh. Dari pembuatan tekstilnya, budaya, tarian, musiknya dan semua tatanan kehidupan yang ada disekitarnya terbentuk melalui suatu proses. Disana ada suku bangsa dengan ketenteraman dan ketenangan yang menciptakan harmoni.

Torang yang belum lama ini mengunjungi Bangka Belitung, mengaku takjub dengan alam di sana. Walau awal kebangkitan pariwisata di tempat itu dipicu oleh popularitas film layar lebar “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata dan terutama bukan karena potensinya, namun kini pemerintah setempat sedang berbenah. “Sangat tidak kuat akarnya, namun bisa bangkit. Sementara Danau Toba dan Samosir memiliki akar yang kuat,” katanya.

Demikian halnya dengan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Meski baru menjadi Taman Nasional, kini sudah memiliki blue print mau jadi apa kawasan tersebut ke depan. Sementara Samosir, rencana tata ruang wilayah saja tidak kunjung ada. “Samosir kini tak punya mimpi, bagaikan mahasiswa yang tidak lulus-lulus,” katanya.

Saat ini, saran Torang, pemerintah tidak perlu bicara tentang peta kemiskinan di Samosir. “Orang Batak memang sudah diciptakan untuk hidup sebagai pekerja keras. Jika mau bekerja keras maka dia akan sukses. Batu saja ditanami bisa tumbuh bawang, kacang,” lanjutnya. Samosir harus berpikir ke depan, untuk meraih simpati dari wisatawan.

Tapi ditegaskan Torang, Samosir jangan hanya fokus hanya mengharapkan kedatangan wisatawan mancanegara.dalam negeri justru sangat potensial. Pola pikir kaum muda sudah berubah setelah menyadari Indonesia itu luar biasa, hebat, kaya dengan budaya, sehingga tren untuk berwisata dengan mengunjungi tempat-tempat wisata di dalam negeri meningkat. “Malaysia dan Singapura saja berharap kunjungan dari masyarakat Indonesia yang berjumlah 250 juta , kenapa Samosir tidak melihat peluang ini?” katanya.

Menurutnya, saat ini banyak orang bicara tentang kecintaan dan keperdulian pada Danau Toba. Di antara mereka ada mantan Bupati Samosir Wilmar Eliaser Simanjorang dengan Save Lake Toba Foundation, dan RE Nainggolan dengan forum-forum diskusi yang diselenggarakan oleh RE Foundation. “Tapi dampak positif dari upaya yang mereka lakukan belum efektif karena masih lebih banyak pemangku kepentingan Danau Toba yang tidak perduli,” ujarnya. (AFR)

News Feed