oleh

Samosir ‘Kepingan Surga’ Menanti Traffic Light

Oleh: Jelita Sinaga

Bukan hal anyar lagi tentang keindahan Pulau Samosir dengan Danau Toba yang selalu membuat wisatawan lokal dan mancanegara berdecak kagum. Ya, Pulau Samosir dan Danau Toba memang telah tercipta indah, alami  tanpa campur  tangan teknologi.

Saat ini Samosir juga tengah gencar melakukan berbagai upaya untuk menjadikan Samosir sebagai destinasi wisata yang menarik,  antara lain dengan menghidupkan kembali berbagai warisan seni budaya Batak, seperti Pesta Gotilon dan Mangalahat Horbo, serta beragam atraksi lain yang diharapkan akan menambah daya tarik kunjungan wisatawan ke Samosir.

Namun disayangkan, banyak sarana-prasarana yang masih membutuhkan perhatian serius, seperti  kondisi jalan yang ‘berkeping-berantakan’ , yang  selalu menjadi keluhan pengunjung. Bukan di daerah terpencil saja, di tengah kota pun hal ini seolah menjadi sesuatu yang ‘wajar’ meski sudah berkali-kali menjadi penyebab wisatawan mengalami kecelakaan.

Mungkin masyarakat Samosir  sudah jenuh mengeluhkan kondisi ini, sehingga sebagian masyarakat mengambil inisiatif berswadaya memperbaiki sendiri jalan yang rusak, seperti di Pangururan dan daerah lain baru-baru ini.

Keberadaan Samosir sebagai daerah tujuan wisata memang masih butuh banyak sentuhan, khususnya infrastruktur yang banyak terabaikan.

Seorang turis yang mencarter sepeda motor pernah bingung seperti kehilangan sesuatu yang berharga di salah satu persimpangan jalan di Kota Pangururan. Layaknya orang udik, dia berhenti dan melihat ke kiri, kanan, muka, dan belakang. Karena kebingungan, turis tersebut memutuskan untuk berbalik arah ke warung terdekat. Seorang pemuda yang ‘broken english’ pun menanyakan kenapa dia kebingungan. Turis tersebut mempertanyakan ketiadaan traffic light atau lampu lalu-lintas di persimpangan tersebut.

Miris memang, Samosir yang mulai mengakrabkan diri dengan julukan ‘Kepingan Surga’ ini tidak memiliki satupun traffic light. Semua persimpangan menerapkan sistem terobos alias bablas saja. Pada kenyatannya, hal ini sangat menganggu pengendara. Risikonya? Celaka dan kematian, bukan saja bagi wisatawan, namun bagi seluruh  pengguna jalan.

Mungkin masalah lampu lalu lintas ini belum menjadi ‘sesuatu’ yang meresahkan pemerintah atau instansi terkait. Atau mungkin  mereka terlalu sibuk dengan urusan  ‘bedah tanah ‘ di Tele? Bisa jadi.

Seorang pejabat  yang tidak bersedia disebut namanya yang membidangi pariwisata, ketika dikonfirmasi mengenai masalah ini, hanya bisa ngeles.  “Itu bukan  bidang  kami. Masing-masing ada bidangnya ‘kan,” jawabnya ketus. “Yang pasti, semua pihak selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada Samosir. Jangan hanya mengutak-atik kekurangan saja bisanya,” lanjutnya dengan lebih ketus lagi.

Sementara seorang warga pengendara, Pandiangan, yang kebetulan melintas, justru bingung ketika ditanya seberapa penting traffic light di Samosir, khususnya di Pangururan sebagai ibu kota. “Ai so huboto lampu songon dia i “ (saya tidak tahu lampu seperti apa itu).

Traffic light ! Tentu saja Samosir membutuhkannya, apalagi mengingat Samosir menjadi daerah tujuan wisata. Pembangunan dan peningkatan kualitas infrastruktur tentu menjadi salah satu faktor pendukung tujuan tersebut bisa dicapai, diantaranya pembangunan traffic light.

Agar makna ‘Kepingan Surga’ tidak terdegradasi menjadi ‘tempat dimana nyawa siap melayang menuju surga hanya karena ketiadaan traffic light, alangkah arif jika Pemerintah Kabupaten Samosir segera mengadakannya.

Kalau untuk memperbaiki jalan masyarakat bisa berswadya, tapi untuk membangun traffic light ??? 

 

Jelita Sinaga, kontributor BatakToday di Pangururan, Kabupaten Samosir

News Feed