Sampah “Mahal” Berkurang, Pemulung di TPA Mengeluh

Sampah “Mahal” Berkurang, Pemulung di TPA Mengeluh

485
Pemulung, "sampah menjadi rejeki", di TPA Tanjung Pinggir, Pematangsiantar (bataktoday/em)

Pematangsiantar, Bataktoday

Para pemulung yang biasa mengumpulkan barang-barang bekas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tanjung Pinggir, Kecamatan Siantar Martoba, belakangan ini mengeluh karena penghasilannya menurun.

Menurut mereka, hal itu disebabkan berkurangnya barang bekas berharga yang sampai ke TPA. Pemulung lain yang beroperasi ke pemukiman penduduk dan ke pusat kota, sering telah mendahului mereka. Maka ‘kiriman’ sampah yang lebih berharga pun tersendat, yang sampai umumnya hanya tempat minuman dari plastik, gelas atau botol.

Ditemui di lokasi TPA, Selasa (7/2/2017), salah seorang wanita pemulung yang enggan namanya disebutkan, mengatakan bahwa selama setahun terakhir, barang bekas yang cukup berharga semakin langka, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Paling barang bekas yang kami kumpulkan disini tempat minuman plastik, ada gelas, ada botol plastik. Kalau dijual berapa lah itu. Besi, karton, botol, kantong plastik, koran, dan peralatan rumah tangga lainnya sudah jarang ada disini. Dulunya masih banyak,” terangnya.

Gunungan sampah di TPA Tanjung Pinggir, tempat para pemulung mengais rejeki (bataktoday/em)
Gunungan sampah di TPA Tanjung Pinggir, tempat para pemulung mengais rejeki (bataktoday/em)

Diamininya bahwa berkurangnya barang bekas di TPA Tanjung Pinggir adalah akibat aktivitas para pemulung yang bekerja di seputaran wilayah kota. Dia juga mengakui sampah berharga berkurang, sehingga mempengaruhi pendapatannya sebagai pemulung.

“Di kota kan udah banyak pemulung. Orang itu lah yang duluan dapat barang bekas yang ada di tong sampah. Kami disini, kan menunggu Dinas Lingkungan Hidup membuang sampah, baru bekerja mencari barang bekas. Hasil penjualan barang bekas yang dikumpulkan pun jadi berkurang juga lah,” ungkapnya.

Pemulung lain mengatakan, mereka memulung di TPA sebenarnya lebih baik untuk kota Siantar, karena mereka tidak membuat sampah kembali berserakan seperti yang dilakukan pemulung yang datang ke pemukiman dan ke tengah kota.

“Sebetulnya lebih baiknya macam kami ini, memulung di sini. Jelas, sudah sampah semua. Kalau kami korek-korek pun tak ada lagi yang terganggu. Kalau yang ambil botot (barang bekas,-red.) ke tempat sampah di lingkungan tempat tinggal atau di kota, kan sering jadi berserak lagi sampahnya. Belum lagi orang-orang jadi curiga, siapa tau ada maling yang menyamar jadi tukang botot,” ujar pria ceking yang mengaku sudah jadi pemulung sejak TPA Tanjung Pinggir ada. (EM)