oleh

Sebab Perlawanan Atas Corona Adalah Perang

Oleh: Sri RM Simanungkalit

Sebagai seorang sipil, apa yang akan Anda lakukan saat terjadi perang di wilayah tempat Anda tinggal?

Yang pertama, pasti berusaha mengungsi jika dimungkinkan. Yang kedua, mencari lokasi persembunyian yang aman. Pilihan terakhir, bersembunyi di rumah.

Jika kita menonton film perang, kita sering disuguhi adegan rakyat sipil yang sembunyi di lemari, di gudang, di atap, bahkan di bawah wastafel agar tidak ditemukan oleh tentara musuh. Agar tidak mati dibunuh.

Perlawanan terhadap Covid-19 hari ini adalah sebuah perang. Perang bersama seluruh dunia. Melawan pandemi yang bernama Corona. Virus ini menyerang siapa saja tanpa kecuali. Tidak mengenal jenis kelamin, suku, bangsa, agama, keyakinan politik. Virus ini tidak peduli apakah pada pemilihan Presiden lalu Anda memilih Jokowi atau Prabowo, Anda kampret atau cebong. Virus ini tidak peduli apakah pemilihan Gubernur Sumut kemarin itu, Anda memilih Eramas atau Djoss.

Karena ini adalah perang yang harus kita menangkan, maka cobalah merenung selama 2-3 menit untuk menjawab pertanyaan ini.

Kalau ini adalah perang, siapa yang menjadi pasukan tempurnya? Ya, benar. Pasukan tempurnya adalah tenaga medis. Dokter, perawat dan ahli kesehatan lainnya. Merekalah yang bertarung, mengeluarkan senjata tempurnya. Mereka berjuang merebut wilayah-wilayah yang sudah dikuasai oleh pasukan Covid-19. Wilayah-wilayah itu harus direbut kembali, demi kedaulatan kemanusiaan.

Lalu siapa rakyat sipil yang harus dilindungi dalam perang ini? Ya, kita. Kita. Warga masyarakat yang bukan tenaga medis profesional. Mari sadari bahwa kita adalah masyarakat yang rentan, yang harus dilindungi. Maka lakukan yang seperti di film-film itu. Carilah tempat yang aman untuk sembunyi. Berdiamlah di rumah. Kita berdiam bukan karena kita pengecut atau kurang tebal imannya. Tapi karena hari ini, tindakan yang paling berani adalah berdiam diri.

Biarkan pasukan tempur medis itu bertarung untuk kita. Dukun pun duduk tenang saja dulu di rumah. Para ulama mari terus perkuat kepercayaan umat bahwa bencana ini akan berlalu. Jangan sampai terjadi kepanikan, stres, frustasi melanda rakyat. Iman dan pengharapan harus harus terus dinyalakan. Tapi jangan sampai ‘sipanggaron’, beriman tanpa berhikmat. Doa adalah kekuatan kita untuk mampu berhening diri.

Para pemimpin politik, pemimpin daerah, jangan tampil sebagai pasukan tempur. Anda tidak punya kemampuan profesional untuk itu. Tugas Anda adalah merumuskan kebijakan dan melakukan eksekusi secepatnya. Kalau bencana ini panjang, bagaimana dengan ketahanan tenaga medis, ketersediaan okupansi di rumah sakit, ketersediaan peralatan dan obat? Bagaimana pula dengan stok pangan, apakah daerah Anda mampu mencukupi kebutuhan pangan? Jika tidak, bagaimana? Bagaimana dengan stok air bersih, air minum, BBM, gas? Berat sekali tugas para pemimpin ini. Ya, berat. Nasib warga ada di tangan Anda.

Belum lagi persoalan ekonomi di akar rumput. Sektor ekonomi lesu. Warung, kedai kopi, restoran, hotel sepi pengunjung. Pariwisata babak belur. Bisnis transportasi pun kena imbasnya. Perdagangan jangan ditanya. Hasil tani banyak yang tidak terjual. Bagaimana mengatasi ini? Bagaimana nasib UMKM, pedagang, petani, ojol? Makin berat ya yang harus dipikirkan? Ya, iya…memang berat. Siapa suruh jadi politisi, jadi pemimpin? Memang tugasnya memikirkan nasib orang banyak.

Jadi, kalau untuk ukur suhu badan, bagi masker, sanitizer, tak usahlah para pimpinan daerah turun. Pakai acara bawa rombongan sekampung lagi. Pilkada menang sudah dekat, tapi malaikat kematian pun sangat dekat saat ini. Pilih mana, hayo?

Jadi, ayo, masing-masing kerjakan tugasnya. Rakyat memutus mata rantai Covid-19. Kalau ada komunitas relawan, silahkan, tapi berkoordinasi ya, supaya jangan malah nambah urusan. Pemimpin juga kerjakan tugasnya, rumuskan, eksekusi, evaluasi, rumuskan lagi, eksekusi lagi. Begitu seterusnya.

Percayalah, pasukan tempur medis itu yang berdiri di ‘avand garde’ hari ini pun berjuang melawan ketakutannya. Anda pikir perang itu menyenangkan apa? Mereka manusia biasa yang berjuang melawan ketakutannya sendiri, hanya untuk menyelamatkan kita…
Menyelamatkan kita…

#silahkan dishare jika berkenan

Sumber: Postingan di media sosial Facebook, Selasa 24/03/2020; akun atas nama Sri Rm Simanungkalit

News Feed