Sehari Bersama Jesral ‘Panggorga’ Tambun, Penjaga Alam dan Budaya Batak

Sehari Bersama Jesral ‘Panggorga’ Tambun, Penjaga Alam dan Budaya Batak

4561
Jesral Tambun, seniman 'gorga' (ukiran/pahatan khas Batak) atau panggorga (doc. Jesral Tambun)

Oleh: Arif JV Girsang*)

“Hanya terimakasih yang dapat kami berdua sampaikan hingga berlangsungnya Pemberkatan dan Pesta Adat pernikahan kami, 28 Juli 2016 lalu. Seperti umumnya rencana pernikahan, banyak pertentangan, perdebatan dan cobaan. Tapi pada akhirnya kami menyampaikan mauliate, terimakasih tak terhingga kepada Debata Mulajadi Nabolon, karena ulaon parsauliaon tersebut berjalan dengan baik.

Seperti sudah dijelaskan sebagian oleh bapauda Nestor (Nestor Rico Tambun, penulis yang adalah adik dari ayah Jesral,-red.) dalam tulisan-tulisannya, ada 2 alasan kenapa kami memilih acara pernikahan yang demikian. Pertama, kami ingin gondang sabangunan itu sebagai jembatan doa permohonan kepada Tuhan. Dipatupa hami pe gondang sabangunan, dang mangalugahon siadongon nami, mambahen siribur-ribur, manang pagogo suara. Parhitean nami do i mangido tonggo tu Amanta Debata.

Kedua, soal memotong kerbau. Horbo siboras-boras adalah kepercayaan yang dianut opung kami dari atas, walaupun sering ditentang atau dilupakan, sehingga membuat persaudaraan, termasuk kepada ianakkon nami menjadi renggang. Karena “parsubang” menjadi tersingkir dari halaman, makan di tempat terpisah. Dang tunggung be hami “si sada panganan” na marhaha-maranggi berengon ni tondong. Ibaratnya, tidak lagi “mangan sasapa”. Sapa itu piring besar terbuat dari kayu, tempat makan bersama beberapa orang sekaligus.

Jika ada yang bilang, kami ingin tampil beda, patampak-tampak hundul papulik pandohan, biarlah. Kami mengenal musik yang kebarat-baratan itu, tapi kami ingat dimana tempat kami berdiri. Ada orang yang mau resepsi nasional, bahkan internasional, tapi kami mau resepsi yang tradisional. Ada yang mengatakan pesta adat Batak hanya menghamburkan uang dan menunjukkan kekayaan. Tidak selalu begitu. Semua hal butuh biaya. Tapi alangkah baik biaya itu untuk hal yang berguna dan berharga.

Sekali lagi, kami berdua mengucapkan terimakasih atas bantuan, doa, ucapan selamat, tanggapan dan perhatian keluarga, kerabat, teman-teman, dan semua pihak atas pernikahan kami. Debata ma namandongani hita saluhut. Tuhan menyertai kita semua. Horas!”

Jesral Tambun dan Rumintang Nice Marpaung, di hari pernikahan mereka, 28 Juli 2016 (doc Jesral Tambun)
Jesral Tambun dan Rumintang Nice Marpaung, di hari pernikahan mereka, 28 Juli 2016 (doc Jesral Tambun)

Tulisan di atas adalah postingan Jesral Tambun yang ditemukan penulis di dinding akun Facebooknya, diposting 30 Agustus 2016, sekitar sebulan setelah hari pernikahannya dengan pasangan hidupnya Rumintang Nice Marpaung.

Di tengah transformasi budaya Batak yang arahnya semakin tak jelas, masih ditemukan ‘orang muda’ Batak yang begitu kuat melekat pada akar budaya leluhurnya. Ekspresi kebatakan yang kuat tersirat dalam tulisan itu, yaitu ikatan yang erat pada budaya dan persaudaraan, atau keduanya menjadi satu kesatuan.

Jesral tidak menginginkan adanya pemisahan dalam acara adat perkawinannya oleh adanya parsubang (orang yang berpantang makan oleh ajaran agama) saat makan bersama yang menjadi tanda sukacita bersama dari seluruh hadirin dalam sebuah acara adat.

Pun karakter yang kuat terlihat dari sikapnya yang mengesampingkan kebiasaan dalam acara adat Batak hari ini, yang lebih memilih untuk menggunakan peralatan musik ‘modern’. Jesral ‘berkeras’ untuk kembali kepada gondang sabangunan, alat musik yang biasa digunakan leluhurnya dalam acara-acara adat Batak.

Jesral Tambun sedang mengerjakan ukiran (doc Jesral Tambun)
Jesral Tambun sedang ‘manggorga’ atau membuat ukiran ornamen Batak (doc Jesral Tambun)

Dia sadar bahwa untuk realisasi dari dua sikap di atas memerlukan biaya yang lebih besar. Namun disebutkannya, ‘tidak mengapa’ jika untuk hal yang berguna dan berharga. Tentu ini menandakan bahwa adat dan budaya baginya adalah sesuatu yang sangat berharga, sehingga biaya bukan satu-satunya alasan untuk tidak menjaga adat dan budaya (di kemudian hari penulis menemukan kehidupan Jesral begitu sederhana, dan sangat jauh dari ukuran kemewahan).

Dengan hasapi (kecapi) di depan rumahnya (doc Jesral Tambun)
Dengan hasapi (kecapi) di depan rumahnya (doc Jesral Tambun)

Pertama kali bertemu dengan Jesral Tambun, dalam rangka sidang putusan perkara Sahat ‘Si Pancagila’ Gurning di PN Balige, 21 April 2017 lalu. Kemudian penulis berkesempatan untuk mengunjungi kediamannya pada malam hari seusai aksi Pawai Budaya yang diselenggarakan oleh Forum Masyarakat Adat Tano Batak, di Tobasa, Kamis (08/06/2017) lalu.

Dikelilingi pepohonan dengan latarbelakang Dolok Simanukmanuk, rumah kayu yang dihiasi ornamen gorga Batak, tempat tinggal Jesral ini mencerminkan kedekatannya dengan alam.

Jesral Tambun, seniman gorga atau panggorga, sebutan untuk pengukir atau  pemahat patung dan ornamen khas Batak, ini tinggal di sebuah rumah kayu yang sederhana, di Dusun Huta Julu, Desa Lumban Lobu, Kecamatan Bonatua Lunasi, Toba Samosir. Dusun yang berjarak sekitar 3 km dari Jalan Lintas Sumatera ini terletak persis di kaki Dolok Simanukmanuk.

Pada pagi harinya, dengan disuguhi teh hangat, sejenak berbincang dengan tuan rumah yang beberapa hari sebelumnya, Selasa (6/6/2017), baru dikaruniai gadis kecil yang ‘sementara’ (menunggu pengukuhan) diberi nama Duma Lasjugia boru Tambun, buha baju (anak pertama) dalam perkawinannya dengan Rumintang Nice Marpaung.

Alam kaki Dolok Simanukmanuk 2014 (Foto: Mja Nashir)
Alam kaki Dolok Simanukmanuk 2014 (Foto: Mja Nashir)

Pujian dari penulis tentang kondisi alam yang masih cukup terjaga, dibandingkan sebagian besar desa di Tano Batak, dan keinginan penulis untuk membeli sebidang tanah sekedar mendirikan gubuk peristirahatan, ditanggapi Jesral dengan dingin dan mengejutkan.

Ndang boi manggadis manang mangalehon tano tu halak na sian duru ni huta lae. Nunga dos roha nami di son, unang gabe laos i sidalian ni par kaliptus ro tu huta on (tidak bisa menjual atau memberikan lahan kepada pendatang lae. Sudah kesepakatan di kampung ini, supaya tidak ada alasan orang yang akan menanam pohon eucalyptus masuk ke kampung ini),” sambutnya tegas.

Belantara Sungai 'Aek Mandosi', Gunung Simanukmanuk (Mja Nashir)
Belantara Sungai ‘Aek Mandosi’, Gunung Simanukmanuk (Foto: Mja Nashir)

Penulis mengartikannya sebagai sikap untuk membentengi lingkungan alam wilayahnya dari ‘serbuan’ perusahaan atau pihak yang mengembangkan hutan tanaman industri (HTI) di Tano Batak, seperti yang dilakukan perusahaan bubur kertas di Tano Batak, yaitu PT. Toba Pulp Lestari.

Teman-temannya yang malam sebelumnya datang mendengar berita sukacita oleh kelahiran buah hatinya, meski diketahui telah beberapa kali menginap di rumahnya, tetap diingatkannya agar menjaga kesopanan ketika akan pergi ke sungai ‘Aek’ Mandosi yang berada tak jauh di belakang rumahnya.

Foto kenangan Jesral Tambun dan Rumintang Nice Marpaung, sarapan pagi dengan mie gomak dan teh manis bersama Dian Seruni Moekhtar Hutabarat, April 2015 (doc Dian SM Hutabarat)
Foto kenangan Jesral Tambun dan Rumintang Nice Marpaung, sarapan pagi dengan mie gomak dan teh manis bersama Dian Seruni Moekhtar Hutabarat, April 2015 (doc Dian Seruni Moekhtar Hutabarat)

Hal ‘kecil’ lainnya, ketika dia juga meminta semua kami teman-temannya, agar memberi perhatian terhadap sampah-sampah sebelum meninggalkan tempat kami berdiskusi tentang sosial budaya Tano Batak saat ini, di bawah kerindangan pepohonan, di samping rumahnya.

Tak banyak waktu untuk berbincang di sepanjang hari itu, Jumat (9/06/2017), karena Jesral sibuk dengan berbagai hal oleh kedatangan boru nya yang baru lahir. Di sela-sela waktu berjalan, dia menyempatkan diri untuk berbaring sejenak, setelah sepanjang malam lebih lama terjaga untuk mendampingi isteri tercintanya jika mendengar si butet menangis, atau untuk lain hal, membakar lagi arang yang baru untuk penghangat, yang kemudian ditempatkan di bawah tempat tidur si ibu bersama bayinya.

Jesral kedatangan tamu lewat tengah malam (Foto: Arif JV Girsang)
Jesral kedatangan tamu lewat tengah malam (Foto: Arif JV Girsang)

Sebelumnya, di malam penulis tiba di kediaman Jesral, lewat tengah malam dia kedatangan tamu dari jauh, yang datang khusus untuk mengucapkan selamat atas kelahiran puterinya. Di tengah rasa kantuk dan lelah, dia masih menyempatkan diri untuk mengambil dan membuka sebuah peti kayu kecil yang berisi ukir-ukiran kayu bercorak khas Batak, dan benang tiga warna atau disebut Bonang Manalu yang kemudian dipilin sebagai gelang, kemudian diberikannya sebagai cenderamata untuk mereka yang datang pertama kali ke rumahnya. Ketika itu, teman dari Tanah Toraja yang datang untuk kali pertama, mendapat cenderamata dari Jesral.

Si Putih di Aek Mandosi, sahabat setia pasangan Jesral Tambun dan Rumintang Nice Marpaung (Foto: Mja Nashir)
Si Putih di Aek Mandosi, sahabat setia pasangan Jesral Tambun dan Rumintang Nice Marpaung (Foto: Mja Nashir)

Penulis sendiri tidak ‘menuntut’ hal sama, cenderamata seperti yang didapatkan teman dari Tanah Toraja sebelumnya, sebab ketika akan meninggalkan tempat itu pada petang harinya, Jesral sedang sibuk mengumpulkan dan membelah kayu api sebagai persiapan acara esekesek (semacam kenduri,-red.) untuk menyambut kelahiran puterinya.

Sebelum meninggalkan tempat yang indah itu, sebagai penjaga semangat perjuangan untuk Tano Batak, penulis bernyanyi bersama rekan-rekan muda. Sebuah lagu tentang perusahaan yang mengakrabi pohon eucalyptus dalam perjalanan usahanya, tetapi ditolak mentah-mentah di Dusun Huta Julu, tempat tinggal keluarga Jesral Tambun.

Gonggongan anjing peliharaan keluarga ini, si Putih dan tandemnya yang sepertinya juga putih, sesekali menyelingi lagu #PALAOtpl yang kami dendangkan, seperti memberi dukungan untuk penolakan terhadap perusahaan yang menggundul hutan alam dan merubahnya menjadi HTI dengan pohon eucalyptus nya, serta di beberapa huta (kampung) ditengarai menimbulkan perpecahan terhadap kekerabatan dan persaudaraan dalam Masyarakat Batak. Kedua hal yang sangat tidak diinginkan terjadi oleh tuannya.

Dalam hati, penulis berjanji akan datang lagi, menemui Jesral yang setia menjaga alam dan budayanya…!  Horas…, Horas…, Horas…!!!

*) Penulis adalah redaktur media online BatakToday.com