oleh

Seruling Martogi Menyihir Jong Bataks Arts Festival

Medan,BatakToday-

“Suara ratapan seruling jauh lebih surgawi dari ratapan raja-raja yang ada sepanjang masa. Jauh lebih mulia dan surgawi dari cawan emas berisi anggur merah. Karena menyangkut ratapan jiwa yang tumbuh bersama cinta”. Demikian penggalan puisi yang dibawakan Martogi Sitohang di sela-sela alunan seruling sang guru yang mengundang keheningan sejenak saat pembukaan Jong Bataks Arts Festival 2015, Selasa (27/10) di Taman Budaya Sumatera Utara Medan.

Sontak penonton yang didominasi pelajar SMA se kota Medan itu seakan tenggelam dan kebingungan saat Martogi tidak ada di atas panggung. Dibarengi alunan seruling ‘Perjalanan Kehidupan’ itu, sang musisi muncul dari bagian belakang penonton yang disambut tepuk tangan riuh.

Martogi Sitohang saat memainkan serulingnya pada pembukaan Jong Bataks Arts Festival 2015, Selasa (27/10).
Martogi Sitohang saat memainkan serulingnya pada pembukaan Jong Bataks Arts Festival 2015, Selasa (27/10).

Dengan alunan seruling kombinasi saxophone, Martogi melantunkan ‘The Angle’ yang merupakan bentuk penghormatan kepada kaum perempuan yang melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Martogi melanjutkannya dengan ‘Musik Nusantara’ yang menggabungkan ratapan berbagai suku yang ada di Indonesia.

“Musik yang agung itu menceritakan suasana sunyi, yang akan mencipatakan keindahan,” ujar Martogi. Juga digambarkannya bagaimana seorang manusia dalam perjalanan kehidupan merasakan kebahagiaan ketika adanya penderitaan.

Di hadapan para siswa ia juga menyampaikan alasannya memilih seruling sebagai alat musik yang dimainkannya. “Ketika saya SMP, perubahan musik sangat pesat akibat munculnya break-dance. Ketika saya memilih seruling, saya dimusuhi dan dikatakan kampungan,” ujarnya. Tapi ketekunannya tidak sia-sia, hingga seruling bisa menghantarkannya ke berbagai belahan dunia. “Ketika seruling saya tiup di luar negeri, banyak yang menangis dan rindu tanah airnya,” kisahnya seraya mengatakan bambu tidak terlepas dari kehidupan manusia.

Menurut Martogi, ketika Indonesia tidak peduli dengan budaya seperti saat ini, akan mengakibatkan punahnya perdaban. “Pemimpin masa depan itu harus mengerti dan mencintai budaya. Jika tidak, 50 tahun ke depan bangsa ini akan punah,” katanya.

Sebelum Martogi tampil, pembukaan Jong Bataks Arts Festival diawali sajian seni berbasis tradisi yang bersinergi dengan budaya modern, yakni pertunjukan unik dengan karakter yang khas dari performa Lae 2 Rocks dan Forum Anak Muara.

Lae 2 Rocks, sebuah group musik yang dibangun oleh para mahasiswa Universitas HKBP Nomensen memadukan musik yang beraliran rock tapi tetap memadatkan nuansa budaya Bataknya. Lae 2 Rocks sengaja memadukan musik rock dengan tradisi, agar generasi muda lebih menerima budaya-budaya tradisi yang sekarang ini dianggap kolot dan tidak berkelas.

Tidak dapat dipungkiri, kemeriahan hari pertama Jong Bataks Arts Festival yang digagas Rumah Karya Indonesia ini semakin bermakna dengan kehadiran komunitas seni dan individu penyaji yang berbeda-beda genre seninya.

Selain Lae 2 Rocks yang memadukan unsur rock dalam karya-karyanya, ada juga Forum Anak Muara yang beranggotakan anak-anak  berusia 10-15 tahun dari kecamatan Muara, Tapanuli Utara. Mereka berangkat menuju Taman Budaya, Sumatera Utara dengan menggunakan bus, berangkat malam dan tiba pagi tadi.

“Dari event Jong Bataks Arts Festival 2015 ini kami berharap semua kegiatan seni budaya, terutama yang ada di Sumatera Utara dapat ditingkatkan lagi, apalagi yang di pelosok-pelosok agar semua warga Sumatera Utara mengetahui banyak tentang budayanya dan semakin cinta pada budaya Batak. Keistimewaan Jong Bataks Arts Festival 2015 adalah semua kelompok etnis dirangkul dan luber dalam kebersamaan. Jong Bataks Arts Festival tahun ini lebih meriah. Daripada menyaksikan pertunjukan seni yang tidak berbasis tradisi, lebih baik kita menonton Jong Bataks Arts Festival. Kita bisa belajar dari seniman yang lebih senior dan dengan begitu bisa belajar seni tradisi Nusantara,” kata Hendra Siregar, pembina Forum Anak Muara.

Tiar Simanjuntak, Guru Yayasan HKBP Sidorame Medan yang mendampingi siswanya menyaksikan JBAF menilai kegiatan yang dihelat untuk kedua kalinya itu sangat positif. Khususnya generasi muda banyak yang lupa akan budayanya. “Masuknya budaya luar sangat mengikis kebudayaan kita. Baik itu tortor, musik dan lagunya,” ujarnya. (AFR)

News Feed