oleh

Setelah Hari Kemenangan Ini, “Semoga Siantar Semakin Baik”

…-

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H…!

Idul Fitri dirayakan sebagai Hari Raya Kemenangan umat Muslim, setelah menunaikan Ibadah Puasa pada bulan Ramadhan. Meraih kemenangan dengan terlahir kembali kepada Fitrah kemanusiaan yang suci, dan semakin kuat, setelah menang melawan segala godaan serta melawan hawa nafsu selama bulan Ramadhan.

Dalam konteks sebagai masyarakat Kota Siantar yang pluralis, bulan Ramadhan hingga Idul Fitri selalu mencatat sejarah penuh ‘sukses’ oleh warganya, yang dikenal sebagai ‘Nomor 1’ dalam hal toleransi antar umat beragama di negeri ini.

Kota ini dalam sejarahnya, selalu tenang dan kondusif di setiap bulan Ramadhan yang “dilalui” bersama oleh seluruh warga kota.

Mungkin terlihat sangat sederhana namun sangat bermakna, bahwa bagi masyarakat Siantar yang non-Muslim juga, Ramadhan selalu menjadi masa untuk belajar bagaimana untuk mendukung keberhasilan saudara-saudara sekotanya dalam menjalankan ibadah puasa.

Di sisi lain, warga non-Muslim bahkan turut ‘menikmati’ suasana Ramadhan.

Mungkin terlihat sebagai hal yang sangat sederhana, ketika warga non-Muslim turut menikmati takjil yang tersedia di berbagai sudut kota.

Atau, warga kota lainnya yang bangun lebih awal dan lebih teratur oleh panggilan untuk ‘sahur’ dari saudara-saudaranya yang sedang menjalankan Ibadah Puasa.

Warga non-Muslim di kota ini, yang turut ‘larut’ dalam suasana Ramadhan, punya kalimat yang ‘unik’ namun indah didengar, “Terlalu lama setahun untuk menunggu bulan Ramadhan ini datang lagi.”

Dan mungkin sebagian hampir lupa, pertanyaan yang lama dulu sering terdengar, “Ada nggak Ramadhan Cup tahun ini?” (sebuah turnamen bola volley yang dulu diselenggarakan setiap bulan Ramadhan, namun telah lama tak diselenggarakan lagi).

Juga tak dapat disanggah, bahwa di kota Siantar ini, Malam Takbiran menjadi malam ‘spesial’ bagi masyarakatnya, bagi kaum muda dari berbagai agama selain Islam, untuk mendapat izin orangtua untuk keluar rumah menyaksikan dan meramaikan Malam Takbiran.

Hari Lebaran juga menjadi hari yang dinantikan, bukan hanya oleh umat Muslim, tetapi oleh seluruh warga kota.

Adakah diantara kita yang menyanggah bahwa ‘nilai’ dari ketupat Lebaran bagi masyarakat Siantar, bukan sebagai ketupat semata, melainkan sebagai sebuah nilai persaudaraan dan kebersamaan.

Diyakini, hal-hal di atas merupakan hal besar untuk sebuah kota. Toleransi, persaudaraan dan kebersamaan, selalu memberi energi positif bagi masyarakatnya, dan demikian halnya untuk masyarakat kota Siantar.

Tentunya, ketika saudara-saudara sekota meraih kemenangan, itu juga menjadi kemenangan bagi seluruh warga kota ini. Artinya, kemenangan umat Muslim di kota ini, menjadi kemenangan bersama seluruh warga Kota Siantar.

Kemenangan umat Muslim dalam menjalankan ibadah puasa, juga dapat diartikan sebagai lulus ujian dalam menjalankan Hukum ALLAH.

Diharapkan kemenangan lain sebagai warga kota, tentunya akan lebih mudah diraih, saat semua umat menjalankan Hukum Negara, apalagi untuk menjalankan hukum ‘buatan’ manusia yang di bawahnya lagi.

Bukankah hukum yang diciptakan oleh manusia, bahkan Negara, tidak ada apa-apanya dibandingkan Hukum ALLAH?

Umat Muslim di Siantar yang memenangkan ujian yang didasarkan Hukum ALLAH, tentunya akan dapat memenangkan lebih mudah lagi ujian oleh dasar hukum lain yang lebih ‘ringan’.

Menjalankan Hukum Negara, seluruh hukum buatan manusia, bersama-sama dengan saudara-saudaranya sekota, untuk menciptakan kota Siantar yang lebih baik.

Adakah yang lebih dari Kota Siantar, setelah kita bersama-sama merayakan HARI KEMENANGAN ini?

(***)

Foto:

Ilustrasi, “Bulan Cahaya” (sumber: fb/komunitas Islam_indahnya berbagi ilmu)

News Feed