oleh

Setelah Hari Kemenangan, Pemerintah (Kota Siantar) Harusnya Semakin Kuat

…-

Lebih seminggu lamanya, hampir seluruh kantor pemerintah menjalani cuti bersama dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 1437 H, sebagai perayaan atas kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan Ibadah Puasa pada bulan Ramadhan yang baru dijalani. Di samping keterkaitan dengan peribadahan, cuti bersama juga menjadi kesempatan untuk me-refresh, me-recharge, jiwa dan raga para pejabat pemerintahan dan ASN di seluruh instansi.

Tidak seluruh pejabat pemerintah dan ASN ‘turut’ memenangkan Ramadhan dalam arti menjalankan ibadah puasa. Sebagian ASN memeluk agama selain Islam, tetapi sebagai insan Pancasila, bagaimanapun kita semua turut merayakan Idul Fitri sebagai kemenangan sebuah bangsa, Bangsa Indonesia.

Kemenangan adalah pertanda kepemilikan atas kekuatan yang lebih. Refresh dan recharge jiwa raga selama cuti bersama tentunya juga memberi kekuatan baru bagi para pejabat pemerintahan dan ASN.

Kemudian, kemenangan yang telah diraih, diharapkan juga sebagai sebuah motivasi baru untuk meraih kemenangan selanjutnya. Hari ini operasi dari pemerintahan di-restart kembali, untuk menjalankan seluruh tupoksinya secara penuh, dan diharapkan mencetak prestasi baru yang lebih lagi.

Pemerintah Kota Pematangsiantar juga, hari ini akan me-restart operasinya sebagai pemerintah di kota ini. Kepala Pemerintahan, Walikota, dalam hal ini Penjabat Walikota Pematangsiantar Jumsadi Damanik, tentunya pada pagi hari tadi telah lebih dahulu mempersiapkan, membuka catatan,  tugas-tugas apa yang akan dilanjutkan kembali setelah Hari Kemenangan, dan cuti bersama Lebaran tahun ini.

Berbagai program, rencana dan eksekusinya, tentunya sudah siap untuk dilanjutkan kembali. Mungkin sesuatu yang baru akan dimulai, dan ada juga yang ‘tinggal’ melanjutkannya.

Disamping telah menjalankan tugas yang sudah merupakan rutinitas, sebelumnya ada beberapa aksi yang telah dimulai. Publik mencatat beberapa aksi ‘spektakular’, yang bahkan beberapa walikota definitif  Kota Siantar sebelumnya, tidak “kuat” untuk melakukannya.

Katakanlah seperti pembongkaran bangunan yang melanggar peraturan. Ada juga pencopotan jabatan terhadap ASN yang melakukan tindakan yang bertentangan dengan peraturan. Sebenarnya hal-hal ini dapat dikatakan sebagai prestasi Jumsadi sebagai Penjabat Walikota. Beberapa dari aksi itu, mendapat perhatian, dan menjadi catatan bagi publik.

Hal ini dinilai bagus oleh publik, sebagai contoh dari ‘keberanian’ dan ‘kekuatan’ yang memang sepantasnya dimiliki oleh sebuah pemerintahan di suatu daerah.

Ada penggusuran pedagang yang menempati trotoar, ruang terbuka hijau, atau ruang publik lainnya yang berada di bawah otoritas pemerintah kota.

Pemko Siantar, sekali lagi, menunjukkan ‘keberanian’ dan ‘kekuatan’nya, di kedai kopi Kok Tong, di Jalan Kartini, di DAS Sungai Toge, Jalan Ahmad Yani, dan Jalan Diponegoro depan kantor Telkom.

Pencopotan jabatan telah dilakukan terhadap Lurah Sumber Jaya, Lurah Proklamasi dan Lurah Bah Sorma.

Beberapa catatan dan informasi, kiranya menjadi catatan juga bagi Jumsadi, dan memasukkannya ke dalam daftar aksi sejenis. Memang, skala dan karakteristiknya mungkin sedikit berbeda, namun tetap sama di depan hukum.

Sebutkanlah, Studio Hotel dan Restoran City yang menduduki Tanah Negara dengan menyerobot lahan di depan Garis Sempadan Sungai.

Rekomendasi UKL/UPL untuk pengurusan izin usaha Studio Hotel yang tidak sesuai prosedur.

Ada Hotel Horison yang melewati Garis Sempadan Bangunan yang diwajibkan.

Ada juga lahan Sekolah Luar Biasa di Tanjung Pinggir, yang surat keterangan tanahnya ‘palsu’, dan sudah ‘diakui’ juga tidak memiliki IMB.

Rumah Potong Hewan yang tidak memiliki IMB.

SOHO dan Siantar City Mall yang juga tidak punya IMB.

PD PAUS milik Pemko Siantar, yang belum membayar gaji karyawannya sesuai peraturan.

Hal-hal yang disebutkan di atas tentu juga tidak terlepas dari kelalaian, kesalahan, bahkan kebebalan, dari pejabat di SKPD atau Badan yang terkait.

Akan menjadi pembuktian, relevansi dari kemenangan seorang Jumsadi dan jajarannya, dengan kekuatan dan keberaniannya untuk melakukan aksi terhadap subjek pelaku pelanggaran yang terkait dengan hal-hal yang dicatatkan di atas.

Berani dan kuatkah Jumsadi dan jajarannya, menjadikan subjek-subjek di atas menjadi objek dari aksi berikutnya?

Hari Kemenangan yang bersama-sama kita rayakan minggu lalu, dan cuti bersama untuk refreshing dan recharging, tidak akan cukup bermakna dalam konteks pemerintahan yang memiliki integritas dan berkeadilan, jika Pemerintah Kota Pematangsiantar tetap hanya punya keberanian dan kekuatan sebatas melakukan aksi terhadap ‘orang-orang kecil’.

Menjadi preseden buruk, jika Pemko Siantar hanya berani menindak pelanggar  yang ‘kicik-kicik’ saja, atau yang ‘cuma’ setingkat lurah saja.

Jika hanya di situ kemampuan Pemko, maka lebih pantas kota ini berubah status menjadi ‘kecamatan siantar’, dan pun yang ada hanya lah seorang penjabat camat.

Akhirnya Pemerintah Kota Siantar diminta untuk semakin kuat, setelah kita bersama-sama merayakan Hari Kemenangan… (***)

Foto:

Balai Kota Siantar, Jalan Merdeka, Pematangsiantar, Senin 11/7/2016 (bataktoday/ajvg)

News Feed