oleh

Setiap Tiga Detik, Satu Orang di Dunia Mengalami Demensia

  • Penyakit demensia memerlukan kesadaran global dan dukungan dari publik untuk memahami penyakit demensia
  • Baru 30 negara yang mengembangkan rencana penanggulangan risiko demensia, dan Indonesia menjadi salah satu negara panutan di Asia Pasifik

Jakarta, BatakToday–

Demensia, gangguan pada otak yang menyebabkan penurunan daya ingat hingga kemampuan mental, merupakan salah satu krisis global kesehatan dan sosial yang signifikan di abad ke – 21. Data terbaru Alzheimer’s Disease International (ADI) mengungkapan saat ini sekitar 50 juta orang hidup dengan demensia di seluruh dunia, dan angka ini diperkirakan mencapai 132 juta orang pada

2050  jika  tidak  ada  penerapan  strategi  penanggulangan  risiko  yang efektif.

Paola Barbarino, Chief Executive Officer ADI, menjelaskan, diagnosis demensia sering kali terlambat dilakukan. Penelitian ADI mengungkapkan saat ini tanpa disadari setiap tiga detik terdapat satu orang terkena Alzheimer karena rendahnya pemahaman orang tentang penyakit demensia.  Untuk  itu,  saat  ini  dibutuhkan  kesadaran  global  yang situasinya mendesak.

Ia menjelaskan, World Health Organization (WHO) telah mengadopsi

“Global Plan of Action on The Public Health Response to Dementia 2017-2025” yaitu sebuah rencana global yang mendorong pemerintah untuk meningkatkan kesadaran, deteksi dini, dan diagnosis demensia.

“Namun, baru sekitar 30 dari 194 negara anggota WHO yang telah mengembangkan rencana penanggulangan risiko demensia. Pemerintah setiap negara harus bertindak sekarang juga untuk menerapkan rencana dan kebijakan untuk mengurangi epidemi global secara serius,” katanya.

Eksekutif  Direktur  Alzheimer’s  Indonesia,  Sakurayuki, mengapresiasi pemerintah Indonesia yang telah meluncurkan Rencana Aksi Nasional (RAN) Demensia pada Maret 2016 lalu. Langkah pemerintah Indonesia ini telah diapresiasi oleh ADI sebagai salah satu negara yang aktif dalam meningkatkan kesadaran penyakit demensia.

“Indonesia telah menjadi role model untuk kampanye peningkatan kesadaran  demensia di Asia Pasifik, berkat kolaborasi dengan semua pihak, baik itu pemerintah pusat dan daerah, perusahaan swasta maupun publik, yang bersama-sama untuk tidak maklum dengan pikun,” ujar Sakurayuki.

Paola menambahkan masih banyak stigma dan kesalahan informasi seputar penyakit demensia. Untuk itu, sangat penting bagi masyarakat untuk sadar dan mengenali gejala demensia agar memahami dampaknya dan tahu apa yang harus dilakukan saat menghadapi orang dengan penyakit tersebut.

Potensi kerugian ekonomi dari penyakit demensia diprediksi mencapai Rp30 triliun pada 2050 mendatang. Hal ini timbul akibat hilangnya penghasilan bagi pasien demensia dan biaya yang dikeluarkan untuk merawat serta membeli obat-obatan.

“Penelitian mengenai penyakit demensia juga membutuhkan investasi yang besar namun harus menjadi prioritas untuk memberikan dukungan bagi mereka yang hidup dengan demensia, dan mereka yang akan terpapar penyakit ini dalam beberapa dekade ke depan,” kata Paola.

Untuk mengetahui tanda-tanda seseorang mengidap demensia, masyarakat  diharapkan  memperhatikan  gejalanya  dan  mengecek  ke dokter ahli. Berikut adalah 10 tanda-tanda demensia:

  1. Gangguan daya ingat
  2. Sulit melakukan kegiatan yang bersifat familiar
  3. Gangguan komunikasi
  4. Disorientasi waktu dan tempat
  5. Kesulitan dalam membuat keputusan
  6. Sulit fokus
  7. Menaruh barang tidak pada tempatnya
  8. Perubahan perilaku dan kepribadian
  9. Kesulitan memahami hubungan antara visual dan spasial
  10. Menarik diri dari pergaulan

Tentang Alzheimer Indonesia

Alzheimer’s Indonesia (ALZI) adalah organisasi non-profit yang memiliki visi untuk membantu meningkatkan kualitas hidup Orang Dengan Demensia (ODD) beserta keluarga dan caregivers di seluruh Indonesia.

Berdiri pertama kali pada Juli 2000 dengan nama Asosiasi Alzheimer Indonesia, dan resmi menjadi anggota Alzheimer’s Disease International (ADI) sejak 2009 lalu. Berkembangnya organisasi, dengan dukungan anggota dan relawan dari berbagai usia dan latar belakang membuat organisasi melakukan transformasi menjadi Alzheimer’s Indonesia pada 2013 lalu dengan jumlah relawan mencapai lebih dari 1000 orang yang tersebar di 14 kota dan 1 negara di luar Indonesia (Belanda).

Kampanye   ALZI   telah   menjadi   contoh   kampanye   bagi   organisasi Alzheimer lainnya di Asia Pasifik karena berhasil meningkatkan kesadaran akan penyakit demensia dan perubahan perilaku untuk deteksi dini terbukti melalui meningkatnya permohonan deteksi dini Demensia di beberapa rumah sakit di Indonesia hingga 300%. Untuk informasi lebih lanjut kunjungi website ALZI di www.alzi.or.id serta ikuti informasi dan like Facebook fanpage di facebook.com/Alzheimer Indonesia.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

Alzheimer’s Indonesia, Sakurayuki, Direktur Eksekutif (sakurayuki@alzi.or.id), atau Tuty Sunardi, Social Affair (0816 86 3136).

Sumber: Siaran Pers Alzheimer’s Indonesia

News Feed