oleh

Siantar (Wow)man, Apa yang Kau Cari?

Redaksi

Pilkada Siantar Susulan yang sudah ‘datang bulan’-nya, diwarnai dengan datangnya Pj Walikota yang baru. Dalam setahun kota Siantar dapat rejeki 3 kali pelantikan penjabat walikota. Wow…, dimana ada kota di Indonesia dengan rekor se’hebat’ Siantar?

Tidak dapat dibayangkan, bagaimana untuk mendapatkan seorang penjabat walikota saja kota ini begitu sulitnya. Berbagai alasan menyebabkan hal ini bisa terjadi. Namun, secara kasat mata dapat disimpulkan bahwa Siantar adalah kota yang istimewa, dapat beroleh nama kecil, yang lebih panjang dari nama aslinya, “Daerah Istimewa Siantar”. Sekali lagi, Wow…!

Hari pemungutan suara sebagai salah satu penggenapan tahapan Pilkada Siantar dijadwalkan 16 Nopember 2016. Namun di sudut kota masih terdengar ‘jaminan’ Pilkada Siantar akan ditunda lagi.

Proses hukum terkait Pilkada Siantar juga termasuk istimewa dibandingkan daerah lain yang mengikuti Pilkada Serentak 2015. Jika dirunut ke belakang, ‘sengketa’ pilkada, termasuk di dalamnya yang menurut beberapa pihak tak “guna” disengketakan lagi, menghabiskan waktu setahun lebih. Bahkan jika ikut ‘arus’ perspektif pihak yang menjamin Pilkada Siantar pasti ditunda lagi, bisa-bisa sengketa atau ‘sengketa’ berlangsung sampai tahun depan. Wallahu a’lam…

Semua pihak terkait tentu punya hak hukum seperti diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku di negeri ini. Tetapi perlu diingat, penyelenggaraan Pilkada Serentak 2015 telah diatur dalam UU No.1 Tahun 2015 Tentang Pemilihan Kepala Daerah dan ‘produk’ hukum turunannya melalui PKPU terkait.

Dari sengketa-sengketa tata usaha negara (TUN) pemilihan sebelumnya, lahir putusan-putusan yang hingga dalam proses masing-masing akhirnya melahirkan Putusan Mahkamah Agung (MA). Dalam UU No.1 Tahun 2015, yang mengatur tentang sengketa TUN pilkada, putusan akhir yang telah memiliki kekuatan hukum tetap, dan berarti dapat diekseskusi para pihak, adalah Putusan MA.

Jika ada pihak yang melakukan upaya hukum dan mengatakan ‘menjamin’ pilkada akan ditunda lagi, maka di sisi lain ‘dijamin’ juga upaya hukum itu tidak akan menghalangi eksekusi Putusan MA sebagai dasar dilanjutkannya tahapan pilkada tersebut. Alasan alamiahnya, kapan selesainya sengketa jika tidak ada batasan?

Hal itu sudah diatur dalam UU tentang Pilkada yang bersifat lex specialis. Sesungguhnya UU yang mengatur pilkada telah sedemikian rupa disusun dan ditetapkan, sehingga, maaf…, seorang tamatan Sekolah Menengah Atas yang diperbolehkan mencalonkan diri untuk pilkada juga akan dapat mengerti Undang Undang itu.

Upaya hukum lain yang dilakukan para pihak, dari perspektif UU No.1 Tahun 2015, sudah ‘mati tanggal’ untuk menghalangi penyelenggaraan tahapan Pilkada Siantar Susulan. Ruang dan waktu untuk melakukan upaya hukum apa pun, tidak dapat menghalangi keberlanjutan penyelenggaraan Pilkada Siantar Susulan pada tahun 2016 ini, maupun alternatif tahapan yang merupakan satu kesatuan dengannya, yang dapat berlangsung hingga Maret 2017. Kecuali ‘hukum alam’, tidak ada lagi hukum positip yang dapat menghalangi keberlanjutan Pilkada Siantar Susulan ini. Apa iya, kita menginginkan bencana alam atau kerusuhan menimpa kota ini?

Siantar Man, dua kata yang terkadang digabung menjadi Siantarman, dikenal hampir di seluruh penjuru negeri ini. Dikenal sebagai orang-orang yang berani, walau kadang dengan ‘trik-trik’ tertentu. Gambaran sederhana dari seorang Siantar Man, pasca sebuah ‘pertempuran’, “Menang, kalau jumpa dikasi rokok. Kalah, kalau jumpa panggil abang…,” Sangat elegan…! Wow…!

Pertempuran yang dijalani Siantar Man, biasanya tidak berkepanjangan. Habis tempur, damai dan legowo menerima porsi masing-masing. Yang kalah tak perlu harus merasa menjadi pecundang, yang menang juga biasanya menjaga perasaan dan harga diri pihak yang kalah.

Sikap Siantar Man yang seperti ini telah ada sejak puluhan tahun lalu, baik di kampung sendiri, maupun di perantauan. Boleh percaya boleh tidak, justru sikap seperti di atas lah yang menjadikan Siantar Man harum laksana andaliman di penjuru negeri ini, harum namun membuat bergetar, wow…!

Istilah “one by one”, tentu belum luntur dari benak sebagian warga kota. One by one dalam jiwa Siantar Man bukan tentang kalah menang, tetapi menunjukkan apresiasi terhadap suatu proses ‘uji kejantanan’. Yang kecil berani menantang yang besar, satu lawan satu, berhasil syukur, kalah legowo…, atau paling “berguru” lagi, sampai merasa sanggup untuk bertempur lagi.

Sedikit spekulatif, memang karakter khas Siantar Man. Tetapi yang paling berharga dari Siantar Man adalah berani mengakui kekalahan, maupun keunggulan lawan. Sebuah sikap yang “wow”…!

Hari-hari terakhir ini, menyambut hari pemungutan suara Pilkada Siantar Susulan, tentu sikap Siantar Man sejati diharapkan sebagian besar warga kota. Untuk yang merasa ‘kalah’ tak juga warga kota yang lain menyebutnya sebagai pecundang. Warga kota ini sudah teruji kedewasaannya untuk memberi penilaian atas hasil sebuah pertempuran. Kalah atau menang bukan segala-galanya di kota ini.

Mari kita merenung sejenak, untuk seorang Pj Walikota saja kota ini begitu ‘repot’, 3 penjabat walikota dalam setahun. Daerah Istimewa Siantar kiranya lah istimewa oleh sikap warganya yang elegan, dapat menyikapi kemenangan maupun kekalahan sebagai seorang Siantar Man sejati.

Hukum adalah hukum, silahkan melakukan upaya hukum, apa pun itu…! Menjadi sesuatu di kota ini, bukan berarti harus mendapatkan segala sesuatu yang kita inginkan. Mari menjadi warga Siantar yang memberikan cinta sejati untuk kota ini.

Dalam proses pencarian diri, silahkan memilih untuk menjadi Siantar Man sejati, atau Siantar (Wow)man! Entah apa pun yang dicari di kota ini, tetapi harus ingat, warga Siantar adalah orang-orang yang siap untuk mengosongkan cangkirnya, untuk dapat diisi dan dipenuhi lagi… (***)

News Feed