oleh

Sukses Kelola Dana Desa, Krisis Air Berakhir & PADesa Meningkat

Tenggarong, BatakToday –

Desa Tani Bakti, Kecamatan Samboja merupakan kawasan perbukitan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Sesuai namanya, desa ini menjadi salah satu pusat pertanian, perkebunan, dan kehutanan di Kutai Kartanegara. Merica menjadi komoditas unggulan yang dihasilkan masyarakat Desa Tani Bakti.

Desa Tani Bakti ini menjadi salah satu contoh desa sukses yang pembangunannya terus didorong Pemerintah, khususnya Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, danTransmigrasi. Bahkan Menteri Desa Eko Putro Sandjojo bersama Presiden Jokowi meninjau langsung progres pembangunan di Desa yang dihuni 376 Kepala Keluarga ini.

Menteri Desa Eko Sandjojo melihat langsung penggunaan Dana Desa yang sudah mulai dicairkan sejak tahun 2015. Pada tahun pertama, Dana Desa yang diterima sebesar Rp277.894.500, sedangkan tahun 2016 naik menjadi Rp 648.487.000.

Menteri Eko sangat mengapresiasi penggunaan Dana Desa yang sepenuhnya untuk pembangunan desa dan melibatkan masyarakat secara aktif. Sebagian besar Dana Desa digunakan untuk membangun sarana air bersih seperti embung dan waduk. Hal ini tidak lain karena masalah kekeringan kerap menimpa warga desa di perbukitan ketika musim kemarau.

“Ini kita apresiasi, karena sebelum ada embung desa masyarakat harus membeli air di musim kemarau sampai Rp80.000 dan sekarang cukup dengan Rp15.000, termasuk sudah dipasang pipa. Dari sarana air bersih ini bisa dihasilkan Pendapatan Asli Desa (PADes) antara 3-4 juta per bulan,” ujar Menteri Eko di Desa Tani Bakti, Minggu (4/12/2016).

Menteri Eko yang didampingi Kepala Desa Tani Bakti, Alamsycah juga menegaskan bahwa waduk yang dibangun juga dibutuhkan masyarakat untuk menjamin keberlanjutan tanaman pertanian di musim kemarau. Waduk itu bisa mengairi 20 hektar lahan pertanian di desa tersebut.

“Saran saya selanjutnya, Dana Desa bisa dikembangkan lagi untuk memperkuat ekonomi desa. Misalnya dengan membangun kolam budidaya ikan, dan tentunya dengan membuat BUMDesa sebagai wadah pengelolaan ekonomi,” jelas Menteri Eko.

Sementara itu, Kepala Desa Tani Bakti Alamsycah, menjelaskan bahwa Dana Desa 2015 sebesar Rp 277,8 juta digunakan untuk membangun Embung Desa dengan biaya Rp 111.155.000, kemudian membangun pondasi Poliklinik Desa (Polindes) dengan anggaran Rp111.155.000. Sisanya sebesar Rp 55.582.000 dipakai buat Penyediaan Sarana air bersih berupa sumur bor.

Ada pun Dana Desa tahun 2016 sebesar Rp 648,4 juta masing-masing digunakan untuk Embung Desa sebesar Rp 124.157.000, Polindes Rp 100.989.000, Pembuatan Saringan air bersih dan pelengkap Rp53.456.160, Pipanisasi SAB Rp 147.608.640, pembuatan parit tepi jalan Rp 138.845.239, serta Pembangunan WC Pasar Desa Rp 83.430.900.

Penggunaan Dana Desa mengikuti aturan yang ditentukan, mulai dari perencanaan kegiatan yang betul-betul diusulkan langsung oleh masyarakat dan pelaksanaannya melibatkan langsung masyarakat. Pengerjaannya dilakukan dengan swakelola padat karya sehingga dari segi pembiayaan kegiatan lebih murah dan melibatkan masyarakat secara penuh.

“Perencanaan desa sangat tertata dan konsep desa mandiri berjalan dengan baik karena aspirasi masyarakat selalu eksplor kepala desa hingga menjadi kebijakan bersama,” jelas Alamsycah.

Ia mengatakan bahwa sarana air bersih yang dibangun menjadi contoh di semua desa di Kabupaten Kukar. Sebab kelangkaan air bersih adalah masalah yang sudah lama dihadapi masyarakat setiap musim kemarau tiba. Sekarang dengan Dana Desa, ketersediaan air bersih sudah tidak lagi menjadi masalah. Bahkan ada kenaikan Pendapatan Asli Desa (PADesa) dari pengelolaan air bersih ini.

“Masyarakat juga melakukan penanaman pohon secara serentak untuk komoditi buah-buahan di tingkat desa, sehingga target Desa Tani Bakti menjadi kawasan agro wisata semakin mendekati kenyataan,” tutur Alamsycah. (marc/kemendesa)

News Feed