oleh

Tahanan Polres Tobasa Tewas Gantung Diri di Sel

Toba Samosir, BatakToday-

Seorang tahanan Kepolisian Resort (Polres) Toba Samosir, Sumatera Utara bernama Andi Pangaribuan (31) warga Desa Pintu Bosi Kecamatan Laguboti ditemukan tewas gantung diri pada Jumat (6/11) malam. Pihak keluarga mencurigai kematian Andi Pangaribuan diduga karena dianiaya. Sekujur tubuh dan wajah korban tampak lebam-lebam.

Untuk membuktikan dugaan dan kecurigaan tersebut, pihak keluarga korban dengan Kapolres Tobasa, Sabtu (7/11) malam sekira pukul 19.00 wib, sepakat membawa korban ke Rumah Sakit TNI Pematang Siantar untuk diautopsi.

Keluarga korban di rumah duka mengatakan, kematian Andi Pangaribuan yang ditemukan tewas di dalam sel tahanan Polres Tobasa yang sebelumnya ditangkap dan ditahan pada Kamis (5/11) malam sekira pukul 21.00 Wib karena dituduh tersangkut kasus narkoba itu, diduga bukan karena gantung diri, melainkan dianiaya.

Pihak keluarga dengan diketahui kepala desa  menyepakati korban yang sehari-harinya  bekerja sebagai supir di pabrik tapioka PT Hutahaean itu untuk di autopsi.

“Apabila kematian anak kami ini terbukti bukan karena gantung diri, melainkan karena dianiaya, kami berharap supaya pelaku dihukum seberat-beratnya,” kata Gurning Pangaribuan, bapak tua kandung dari almarhum Andi Pangaribuan kepada sejumlah wartawan di rumah duka.

Dikatakanya, jikapun korban tewas karena gantung diri, maka pihak keluarga sangat menyesalkan tindakan sesat yang diperbuatnya. Dan mungkin bisa saja tindakan gantung diri yang dilakukannya karena siksaan berat yang dialaminya, kata Gurning.

Guntur Pangaribuan mengatakan, sesuai keterangan yang diperoleh, saat penangkapan korban, pihak polisi tidak menemukan barang bukti narkoba pada diri korban, namun polisi tetap menangkap dan membawa korban ke kantor polisi.

“Seandainya pun oknum polisi melakukan salah tangkap kepada anak kami ini, kami berharap pihak kepolisian supaya dapat menindak dan menghukumnya (oknum polisi yang melakukan penangkapan, red). Dan kami berharap oknum polisi itu supaya dipecat,” tandas Gurning Pangaribuan.

Kapolres Toba Samosir, AKBP Jidin Siagian yang sengaja datang ke rumah duka mengatakan, untuk membuktikan tudingan masyarakat terkait penyebab kematian korban, pihaknya setuju supaya korban diautopsi.

“Dari awal pun sebelum korban di bawa ke sini, kami setuju supaya korban diautopsi, supaya jelas kita ketahui apakah korban meninggal karena bunuh diri atau tidak, karena kami juga tidak ingin hal ini menjadi permasalahan,” kata Jidin Siagian dihadapan keluarga maupun masyarakat.

Jidin Siagian menegaskan, dia tidak ingin melindungi bawahannya jika terbukti melakukan kesalahan. “Saya akan memberikan sanksi tegas sesuai dengan hukum yang berlaku, jika penyebab kematian korban akibat dianiaya. Untuk itu, kami meminta kepada keluarga korban supaya anak kita ini diautopsi ke Rumah Sakit TNI Siantar malam ini,” ujar Jidin Siagian.

Terpisah, Jannes Pangaribuan warga Desa Pintu Bosi Kecamatan Laguboti, salah seorang saksi yang mengetahui kornologi penangkapan korban, kepada wartawan, Sabtu (7/11) malam mengatakan, saat penangkapan korban Andi Pangaribuan, dia bersama korban dan tiga orang lainnya, usai pulang mengantar gaji karyawan yang berada di sekitar Desa Batu Moror Kecamatan Silaen.

Jannes Pangaribuan yang bertugas sebagai satpam di Pabrik PT Hutahaean mengatakan, ia ditugasi untuk mengawal manajer keuangan pabrik untuk mengantar gaji karyawan, sedangkan korban adalah supir perusahaan yang membawa kendaraan yang mereka tumpangi.

“Penangkapan korban terjadi  di Desa Batu Moror Kecamatan Silaen, sekira pukul 21.00 wib, usai kami pulang mengantar gaji karyawan di daerah itu,” ujar Jannes Pangaribuan kepada sejumlah wartawan di rumah duka.

Dikatakannya, ketika mereka berhenti  karena jalan rusak, tiba-tiba didatangi tiga orang polisi dan langsung menyuruh korban turun dari mobil. Salah seorang polisi tersebut mengatakan, bahwa mereka sejak awal telah dibuntuti, berhubung korban adalah target polisi karena terlibat narkoba.

Kata Jannes Pangaribuan, saat itu korban langsung digeledah dihadapan mereka, namun polisi tidak menemukan barang bukti. Dan pada saat penggeledahan itu, ujarnya, tampak olehnya  polisi lainnya berpencar mengelilingi mobil yang mereka tumpangi.

“Tidak berhenti disitu, usai korban digeledah dihadapan  kami, akhirnya korban dibawa ke belakang mobil,” kata Jannes. Tidak lama kemudian, lanjutnya, dari belakang mobil terdengar jeritan korban, “Ada yang dimasukkan ke kantong saya. Tolong Pak, jangan begitulah Pak,” ujar Jannes Pangaribuan menirukan jeritan korban.

Akhirnya, kata Jannes, korban diborgol dan dibawa ke kantor Polsek Silaen, dan mereka mengikuti dari belakang. Di kantor Polsek Silaen, barang bukti narkoba yang dimaksud oleh polisi tidak ditunjukkan kepada mereka.

Pendek cerita, kata Jannes Pangaribuan, karena korban sudah diborgol dan akan di bawa ke Polres Tobasa, akhirnya mereka pun beranjak pulang ke pabrik PT Hutahaean di Desa Pintu Bosi Kecamatan Laguboti.

Kapolres Toba Samosir, Jidin Siagian menolak ketika hendak dikonfirmasi wartawan di rumah duka, “Apalagi yang mau dikonfirmasi,” kata Jidin singkat, kemudian salah seorang anggotanya mengatakan, kalau mau konfirmasi di kantor saja. (AP)

Keterangan Foto :

Kapolres Tobasa, AKBP Jidin Siagian saat melakukan perundingan dengan keluarga korban (almarhum Andi pangaribuan) di rumah duka Desa Pintu Bosi Kecamatan Laguboti, Sabtu (7/11) malam.

News Feed