oleh

Teknologi Bendung Knock Down, Alternatif Pemanfaatan Aliran Sungai

Jakarta, BatakToday –

Untuk meninggikan muka air secara sederhana agar dapat disadap dan dialirkan sampai titik tertentu, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Pusat Litbang Sumber Daya Air (Pusair) menerapkan teknologi Bendung Knock Down (BKD). BKD lebih murah, lebih cepat dan lebih mudah dalam pembangunannya dibanding bendung konvensional.

Hal itu diungkapkan Kepala Pusair, William Marcus Putuhena, di Jakarta baru-baru ini.

“Kelebihan lain yang menonjol dari BKD dibandingkan dengan bendung bronjong yaitu sifatnya yang lebih tahan terhadap kecepatan aliran,” ujar William.

Menurut William, struktur beton terkunci yang digunakan pada BKD mampu bertahan hingga kecepatan aliran 9 meter per detik. Selain itu, struktur ini lebih fleksibel. Apabila terdapat blok beton yang rusak atau hanyut, maka tidak akan merusak bendung secara keseluruhan, sehingga yang perlu dilakukan hanya mengganti bagian blok beton yang rusak atau hanyut saja.

Kepala Pusat Litbang Sumber Daya Air (Pusair) Kementerian PUPR, William Marcus Putuhena. (foto: dok pribadi)
Kepala Pusat Litbang Sumber Daya Air (Pusair) Kementerian PUPR, William Marcus Putuhena. (foto: dok pribadi)

Ia menambahkan, berbagai kelebihan teknologi lain BKD yaitu blok dapat dibagi menjadi beberapa komponen yang modular, dapat dicetak secara fabrikasi, berat komponen yang relatif ringan tetapi dapat saling mengait dalam arah vertikal, horizontal dan arah memanjang aliran, kaitan antar komponen cukup lentur agar bangunan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan morfologi sungai.

“BKD juga tahan terhadap abrasi dan benturan batu oleh aliran sungai yang membawa pasir kerakal dan batuan,” katanya.

Manfaat Teknologi BKD, menurut William, selain untuk meninggikan muka air juga dapat menjaga stabilitas morfologi sungai. BKD yang tersusun dari blok beton terkunci mampu mengendalikan gradien kemiringan aliran sehingga dapat meredam kecepatan aliran ke hilir.

“Aliran super kritis yang terjadi akibat loncatan hidraulik dapat diredam dengan baik oleh bangunan ini sehingga menyebabkan terjaganya stabilitas morfologi sungai di hilir bangunan ini,” terangnya.

William menjelaskan, teknologi BKD telah diaplikasikan di Kampung Cikarag,Kecamatan Bantarujeg, Majalengka, Jawa Barat, saat menggantikan bendung bronjong yang sudah rusak parah. Bendung ini mampu menggantikan fungsi bendung lama dengan baik. Aliran air dapat disalurkan ke daerah irigasi dan stabilitas morfologi sungai dapat terjaga.

Untuk memelihara kualitas BKD, terang William, perlu dilakukan pemeliharaan rutin dengan membersihkan sampah-sampah yang tersangkut di bagian atas bangunan serta penempatan atau penyusunan kembali blok-blok yang hanyut jika terjadi ke tempat semula, terutama sesudah musim banjir. (Phil/rel)

News Feed