oleh

Toba Charity Run 2017, Menjawab Panggilan Tao Toba

Medan, BatakToday

Toba Charity Run 2017 diselenggarakan Minggu (30/04/2017), dengan mengambil pusat kegiatan di Kenanga Garden, Jl. Jamin Ginting KM.12,5, Tuntungan, Medan.  Kegiatan diikuti sejumlah peserta, yang mengikuti ‘fun run’ sekaligus berdonasi untuk menggalang dana demi mendukung kesinambungan operasional Sopo Belajar dan Kapal Belajar yang dikelola Yayasan Alusi Tao Toba.

Yayasan Alusi Tao Toba, kerap disebut Alusi Tao Toba, dalam aktivitasnya saat ini, terutama berupaya memberikan akses pendidikan yang lebih baik kepada anak-anak yang tinggal di daerah-daerah di sekitar Danau Toba.

Kegiatan ini, selain berlari untuk donasi, juga dimeriahkan dengan Charity Kids Drawing Competition. Sejumlah anak mengikuti lomba menggambar dengan menyumbangkan buku baru maupun bekas sebagai kontribusi peserta. Buku yang disumbangkan akan digunakan untuk mendukung program SEBAR (Semangat Baca Rakyat) sebagai bagian dari program “Tao Toba Membaca”.

Frarev Sitorus mewakili Gerakan Batak Muda Dunia (Badania), juga sekaligus mewakili Keluarga Besar Sumatera Utara Institut Teknologi Bandung (KBSU ITB), komunitas yang turut berkontribusi menyumbangkan buku pada kegiatan yang diselenggarakan Alusi Tao Toba kali ini, kepada BatakToday menyebutkan apresiasinya tentang relawan Alusi Tao Toba yang berasal dari berbagai latar belakang dan umumnya dari luar Kawasan Danau Toba (KDT).

Dari kiri ke kanan: Frarev Sitorus (Batak Muda Dunia), Togu Simorangkir (Yayasan
Dari kiri: Frarev Sitorus (Badania), Togu Simorangkir (Alusi Tao Toba), dan Tulus Situmeang (KBSU ITB) Foto: Frarev Sitorus

“Delapan puluh persen relawan Yayasan Alusi Tao Toba berasal dari luar KDT. Relawan Yayasan Alusi Tao Toba terdiri dari lintas suku dan lintas agama. Meskipun anak-anak yang belajar bersama Alusi Tao Toba umumnya beragama Kristen, namun relawan juga diperbolehkan mengajarkan tentang Al-Quran kepada anak-anak. Ini patut diapresiasi setinggi-tingginya, sebagai perwujudan dari keberagaman di Negeri ini,” ujar Frarev yang datang bersama Tulus Situmeang, untuk menyampaikan sumbangan buku dari rekan-rekannya sesama KBSU ITB dan Batak Muda Dunia untuk program SEBAR.

Frarev juga menuturkan ‘kegusaran’ tentang sulitnya mencari relawan di Sumatera Utara yang mau terlibat dalam gerakan yang dilakukan Alusi Tao Toba.

“Yayasan Alusi Tao Toba berjalan di jalan yang sunyi. Sangat sulit mencari relawan di Sumut, padahal masih banyak anak yang butuh ditingkatkan minatnya membaca buku. Yayasan Alusi Tao Toba berencana membuat program sosial Bimbingan Belajar (Bimbel) untuk anak-anak SD dan SMP, supaya mereka lulus diterima SMA favorit seperti SMA Yasop, SMA DEL, SMA Taruna, dsb. Ealita yang tak bisa dipungkiri, walau kita tetap berkeinginan semua sekolah itu seharusnya memiliki standar mutu yang setara, anak di SMA favorit berpeluang lebih besar untuk kemudian lulus ujian masuk PTN terbaik di Negeri ini,” tuturnya, sekaligus berharap semakin banyak relawan yang mau bergabung dengan kegiatan Alusi Tao Toba atau yang sejenis, di Sumut.

Yayasan Alusi Tao Toba berdiri pada tanggal 18 Juni 2009 dengan tujuan untuk membantu menyelamatkan Danau Toba yang menurun kualitas lingkungannya dan terancam akibat perilaku manusia dan interaksi manusia dengan lingkungan yang berakibat kepada rusaknya lingkungan Danau Toba. Namun Yayasan ini meyakini bahwa kelestarian Danau Toba akan terwujud jika masyarakatnya sejahtera terlebih dahulu. Salah satu cara untuk mewujudkannya adalah dengan meningkatkan pendidikan, terutama untuk anak-anak sebagai generasi penerus, di Kawasan Danau Toba.

Yayasan Alusi Tao Toba beralamat di Desa Silulu, Kec. Gunung Malela Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara   Untuk informasi lebih lanjut tentang Yayasan Alusi Tao Toba, dapat dilihat di websitenya http://www.alusitaotoba.org/ atau laman media sosial Facebook ALUSI TaoToba. (ajvg)

News Feed