oleh

Tobatak Festival 2017: Henry Manik ‘Presiden’, Gubsu Tak Paten!

Tuktuk Siadong, BatakToday

Pemerintah Kabupaten Samosir menyampaikan apresiasinya kepada Henry Manik, Project Manager Tobatak Festival 2017, atas suksesnya penyelenggaraan Tobatak Festival 2017 atau Samosir Music International 2017, yang berlangsung Sabtu (12/8/2017), pekan lalu, di Open Stage Tuktuk Siadong, Kecamatan Simanindo.

Bupati Samosir Rapidin Simbolon, dalam sambutannya, secara khusus menyampaikan terimakasih atas upaya dan kerja keras Henry sehingga acara itu berlangsung sukses.

“Pemerintah Daerah tidak punya uang yang banyak. Bayangkan, seluruh artis internasional ini harus kita datangkan dari Austria dan Belanda. Bersama Hermann Delago, bersama JB Band, dan semua artis malam ini. Ini semua adalah pengorbanan lae-ku Henry,” seru Rapidin dari panggung, disambut tepuk tangan para penonton sebagai tanda penghargaan untuk Henry Manik.

Henry Manik
Henry Manik

Seusai konser malam itu, Henry Manik yang ditemui di panggung, mengakui sukacitanya setelah dapat memuaskan semua pihak melalui Tobatak Festival 2017.

“Masyarakat puas, pemerintah puas, semua terpuaskan dengan apa yang disajikan malam ini,” ujar Henry tersenyum lebar.

Henry Manik kemudian menyinggung, untuk kondisi kekinian, bahwa komitmen pemerintah sangat berpengaruh terhadap terselenggaranya even-even seni budaya, terutama dalam rangka mendukung perkembangan pariwisata, khususnya di Kabupaten Samosir.

“Semua kita dapat melihat penyelenggaraan Tobatak Festival hari ini. Maka kembali kepada motivasi pemerintah untuk mengembangkan daerah ini, khususnya pariwisata yang tak terlepas dari seni budaya. Kita sendiri sudah melihat adanya komitmen Pemerintah Kabupaten Samosir melalui Dinas Pariwisata Samosir. Dalam penyelenggaraan even ini, melalui Dinas Pariwisata, kita melihat bahwa mereka sudah menangkap alur pikiran kita,” tutur Henry, dan menyebut dari segi anggaran juga Pemkab Samosir memberi kontribusi untuk mendatangkan artis-artis dalam even itu.

Ditambahkannya lagi, selain dari Pemkab Samosir, tetap diharapkan dukungan dan kontribusi dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Kementerian Pariwisata.

“Untuk even sekarang ini, Pemprov Sumatera Utara sama sekali tidak memberi kontribusi. Saya sedikit heran juga, Gubernur (maksudnya Gubernur Sumut T. Erry Nuradi,-red.) masih sanggup bicara malam ini, padahal Pemprov tidak berkontribusi apa-apa untuk even ini. Kalau Kementerian Pariwisata, tahun ini sudah membantu termasuk melalui pendanaan, meski kita masih harapkan sebenarnya kontribusi dan dukungan yang lebih besar lagi untuk tahun yang akan datang,” sebut Henry menyinggung belum adanya kontribusi Pemprov Sumut saat ini.

Hermann Delago (Foto: Arif JV Girsang)
Hermann Delago (Foto: Arif JV Girsang)

Malam itu, ketika Gubernur Sumut T. Erry Nuradi naik ke panggung, yang menurut Henry Manik, ‘muncul’nya Gubernur Sumut ini sebagai suatu yang tak dapat dimengerti, terdengar teriakan dari tengah penonton, “Tak paten lah, tak paten…!”

Tentang keberlanjutan Tobatak Festival ke tahun 2018, Henry menyebut akan tetap diselenggarakan di bulan Agustus, meski tanggalnya belum dapat ditetapkan.

Meski saat itu telah melewati tengah malam, dan Henry terlihat sudah dalam kondisi kelelahan, dia menyampaikan sedikit bocoran tentang konsep festival pada tahun 2018 nanti.

“Pertama, kita tetap berpikiran dan sangat menginginkan keterlibatan dan kehadiran Hermann Delago pada tahun-tahun mendatang, apalagi tahun 2018. Dia sangat berperan besar, menurut saya, Hermann dapat disebut sebagai ‘legend’ untuk kampanye dan promosi lagu-lagu Batak di kancah internasional, terutama untuk Tobatak Festival. Dia juga berperan besar dalam aransemen musik. Semoga Hermann, dengan luasnya jaringannya di Eropa, akan memberi dukungan lebih lagi untuk tahun depan,” harapnya.

Salah satu aksi panggung Tongam Sirait dan Vicky Sianipar di Tobatak Festival 2017, Sabtu 12/8/2017 (Foto: Arif JV Girsang)
Salah satu aksi panggung Tongam Sirait dan Vicky Sianipar di Tobatak Festival 2017, Sabtu 12/8/2017 (Foto: Arif JV Girsang)

Tongam Sirait, ketika turut bergabung dalam ‘diskusi’ malam itu, ketika dimintai pandangan tentang kemungkinan untuk menyelenggarakan lomba cipta lagu Batak, sebagai bagian dari festival pada tahun 2018, menyebutkan dukungannya untuk itu.

Mereka berdua mengamini bahwa dalam penyelenggaraan even ini untuk ketiga kalinya, sebagai ‘serial’ dari Tobatak Festival, masih ‘sebatas’ menampilkan lagu-lagu Batak yang ada, kecuali pada tahun 2017 lalu. Ketika itu satu nomor lagu dari Natascha ‘Tasha’ Koch, di’release’ dengan sebagian lirik dalam bahasa Batak Toba, yaitu lagu berjudul ‘Not in My Name’.

Henry Manik kembali meminta komitmen pemerintah dari berbagai tingkatan, sehingga pada tahun yang akan datang Tobatak Festival dapat lebih mengembangkan konsep untuk penyelenggaraan even tersebut.

“Sekali lagi, kita perlu komitmen pemerintah, baik daerah maupun pusat, sehingga kita dapat mengembangkan konsep yang lebih menarik lagi pada penyelenggaraan even ini pada tahun depan. Misalnya, konsep yang sedang kita pikirkan, ke depannya bisa diselenggarakan selama dua hari. Siang atau sore hari sebagai panggung untuk menampilkan kreativitas artis-artis muda berbakat, dan pada malam harinya menjadi panggung utama. Begitu konsep untuk even ini selama dua hari penyelenggaraannya, sehingga di samping sebagai media pengembangan seni budaya, sekaligus memberi manfaat lebih untuk pariwisata,” pungkas Henry Manik.

Obrolan lewat tengah malam saat itu, tidak diketahui jelas siapa yang memulai, ‘muncul’ istilah untuk Hermann Delago sebagai ‘menteri luar negeri’ Tobatak Festival, Tongam Sirait atas keterlibatannya yang berkelanjutan, menjadi ‘menteri dalam negeri’, dan yang jadi ‘presiden’ Tobatak Festival, tak lain tak bukan adalah Henry Manik. (ajvg)

News Feed