Triadil Saragih, di Jalan Sepi Pelestarian Seni Budaya Simalungun

Triadil Saragih, di Jalan Sepi Pelestarian Seni Budaya Simalungun

1042
Triadil Saragih, Seniman Muda Simalungun (doc Triadil Saragih)

Masyarakat Simalungun, dalam rentang waktu yang panjang terlihat seperti acuh akan seni budayanya. Namun dengan semakin seringnya pementasan seni budaya Simalungun belakangan ini, diharapkan akan menggugah masyarakat Simalungun untuk boleh kembali memaknai, memelihara dan menghidupkan bagian dari budayanya ini.

Demikian disebutkan Triadil Saragih, seniman muda Simalungun, mengekspresikan harapan dibalik kegalauannya terhadap ketidakpedulian puak Simalungun akan seni budayanya.

“Saya ambil contoh, dari sekian banyak orang yang memperdalam pengetahuan tentang seni budaya, termasuk musik, itu sangat sedikit sekali yang berlatarbelakang suku Simalungun. Ini saya katakan sebagai salah satu gejala bahwa kita dari Simalungun kurang keinginan untuk menekuni seni, apalagi seni budaya Simalungun,” ujar Triadil lebih lanjut melalui pembicaraan melalui sambungan telepon dengan BatakToday, pada Kamis malam (15/06/2017).

Triadil Saragih (Foto: Andy Siahaan)
Triadil Saragih (Foto: Andy Siahaan)

Lahir di Tanjung Morawa, Oktober 1992, sebagai anak ke-5 dari 6 bersaudara dari pasangan  T. Salan Saragih dan Marselina Purba. Kemudian pria dengan nama lengkap Selamat Triadil Saragih ini dibesarkan di Huta Ujung Saribu, Bangun Purba, Kabupaten Deli Serdang. Meskipun secara administratif huta (kampung) tempatnya dibesarkan berada di Kabupaten Deli Serdang, namun lingkungan Triadil dibesarkan masih cukup kental dengan budaya Simalungun.

Setelah menamatkan pendidikan dari SMK Swasta RK Serdang Murni, Lubuk Pakam, tahun 2011, melalui jalur undangan diterima di Jurusan Sendratasik, Program Studi Pendidikan Musik, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Negeri Medan (UNIMED). Triadil menyelesaikan studi dari universitas ini Mei 2016 lalu.

Triadil berterusterang tentang kegalauannya akan masa depan pelestarian seni budaya Simalungun. Dia menyebut karya seniman dari Simalungun juga tidak seperti yang diharapkan, untuk dapat mendorong pelestarian dan pengembangan seni budaya Simalungun.

“Ada banyak karya seni musik berbahasa Simalungun, tetapi ciri kesimalungunannya tidak cukup dipertahankan. Bahkan diantara mereka yang belajar seni musik, misalnya di jurusan Seni Musik Unimed ataupun di Etnomusikologi USU, banyak yang dari Simalungun, tetapi yang mereka kembangkan bukan seni musik yang cukup menunjukkan warna Simalungun, justru lebih kepada seni tradisi yang lain,” demikian dia mengkritisi.

Triadil Saragih (tengah), aktif dalam berbagai kegiatan seni budaya Simalungun (doc Triadil Saragih)
Triadil Saragih (tengah), aktif dalam berbagai kegiatan seni budaya Simalungun (doc Triadil Saragih)

Dia berharap teman-temannya, orang muda Simalungun yang menuntut ilmu di UNIMED, USU, Universitas HKBP Nommensen, agar benar-benar mendalami seni musik Simalungun.

“Supaya nanti ke depannya musik Simalungun itu tidak monoton, tetapi justru semakin berkembang dari yang telah ada, tanpa meninggalkan kekhasan dari tradisi Simalungun, teman-teman seharusnya lebih mendalami seni budaya, khususnya seni musik Simalungun,” tutur Triadil lebih jauh.

“Kualitas lagu Simalungun itu sendiri secara alamiah menurunkan minat orang-orang Simalungun terhadap seni musiknya sendiri. Sebagian orang Simalungun tidak merasa rindu lagi dengan lagu-lagu tradisinya, malah mendengar lagu dari daerah lain mereka itu lebih bersemangat. Tetapi sekali lagi, ini berhubungan dengan kualitas karya-karya lagu Simalungun yang sekarang ini, dan justru di situ lah kita harus peduli untuk mengembangkannya, ” terangnya.

Gitar, alat musik yang pertama dimainkan Triadil Saragih(doc Triadil Saragih)
Gitar, alat musik yang pertama dimainkan Triadil Saragih(doc Triadil Saragih)

Alat musik yang pertama kali ditekuninya adalah gitar. Namun di kemudian hari lebih menekuni Sarunei Simalungun. Triadil mengapresiasi seni musik dan lagu-lagu Simalungun yang terdahulu, yang menurutnya begitu berkualitas, dan sangat disukai banyak kalangan.

“Tapi sangat disayangkan, lama-kelamaan semakin menurun. Jika kita kembali ke masa Ompung Taralamsyah, yang kita dengar, musik Simalungun itu sangat bergema. Sekarang, lama-kelamaan malah rekaman lagu-lagu Simalungun juga relatif berkurang, kalah jauh dibandingkan dengan para seniman daerah lain di Sumatera Utara ini,” ujarnya sekali lagi menunjukkan kegusarannya tentang perkembangan seni musik Simalungun.

Tercatat aktif di grup seni sejak duduk di bangku perkuliahan, diantaranya Paduan Suara Solfeggio Choir UNIMED yang tampil pada beberapa event, antara lain Pesparawi Nasional di Kendari, Pesparawi Mahasiswa di Ambon, dan Bali Internasional Choir Festival (BICF). Demikian juga dalam kepengurusan organisasi, seperti di HIMAPSI (Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Simalungun), serta kepanitiaan-kepanitian yang berkaitan dengan seminar maupun event seni budaya. Dia juga kerap tampil mengisi berbagai panggung seni, terutama seni musik Simalungun. Aktivitas ini membawanya ke berbagai tempat di Nusantara, antara lain Jakarta, Jayapura, Bandar Lampung, Batam, dan tempat-tempat lainnya.

Tampil di berbagai panggung seni dan kegiatan seni budaya lainnya, membawa Triadil Saragih untuk beprgian ke berbagai tempat di Nusantara (doc Triadil Saragih)
Tampil di berbagai panggung seni dan kegiatan seni budaya lainnya, membawa Triadil Saragih untuk beprgian ke berbagai tempat di Nusantara (doc Triadil Saragih)

Awal April 2017 lalu, Triadil ‘mandah’ dari kota Medan ke Jakarta, untuk melanjutkan studi S2 ke Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dia menyebut studinya ini masih dalam rangka upaya melanjutkan perjuangan melestarikan seni budaya Simalungun.

“Untuk memperjuangkan seni budaya Simalungun ini sebenarnya ngeri-ngeri sedap. Belakangan ini semakin tidak banyak yang memikirkan seni budaya ini. Ketika memulai untuk menekuni, saya menemukan begitu banyak tantangan. Bagi saya pribadi, adalah menjadi tantangan khusus untuk memperjuangkan seni Simalungun ini. Dalam diri saya akhirnya timbul niat yang semakin kuat, harus bisa, seni Simalungun harus tetap lestari,” tegasnya, dan menyebut banyak yang harus dikerjakan dalam perjuangan ini.

Triadil Saragih, yang tampil dalam Jong Bataks Arts Festival #3, di Taman Budaya Sumatera Utara, Medan 27 Oktober 2016 (bataktoday-ajvelah tampil di panggunstival #3, 27
Triadil Saragih, tampil dalam Jong Bataks Arts Festival #3, di Taman Budaya Sumatera Utara, Medan 27 Oktober 2016 (bataktoday/ajvg)

Akhir Oktober tahun 2016 yang lalu, BatakToday menyaksikan langsung penampilan Triadil bersama rekan-rekan mudanya di panggung Jong Batak Arts Festival #3 di Taman Budaya Sumatera Utara, Medan, dengan menampilkan seni budaya Simalungun. Triadil menyampaikan harapannya tentang tanggungjawab kaum muda Simalungun agar berkarya untuk seni budayanya, serta juga dukungan dari para seniornya.

“Pemuda Simalungun harus sadar bahwa kelestarian seni Simalungun itu tanggung jawab bersama. Nah, kami orang muda Simalungun tentu harus terus berkarya, dan tentunya juga para senior kami diharapkan untuk tetap memberikan bimbingan dan dukungan untuk itu,” demikian salah satu harapannya untuk masa depan seni budaya Simalungun.

(ajvg)