oleh

Udan

Bram Tobing dan Erik Zent Tondang, dua mahasiswa Fakultas Pertanian di salah satu universitas swasta di Kota Medan, belum lama ini merilis single-nya yang diberi judul “Udan”.

Bermula dari kesukaan dalam bermusik, sekaligus untuk menghindari hal-hal negatif di waktu kosong, di sela-sela jadwal perkuliahannya, kedua anak muda ini memilih untuk menekuni musik dengan menulis lagu dan merekamnya di studio mereka, Bram Record,  yang sangat jauh dari lengkap dan hanya dibekali ilmu yang didapat secara otodidak.

“Meski tidak sepenuhnya mahir bermain musik, namun kami haus dalam berkreasi. Sebagaimana dialami banyak orang dalam berkarya, di tengah segala keterbatasan dan berbagai tantangan, kami tetap mencoba untuk berkarya,” ujar Bram Tobing kepada BatakToday, pekan lalu, Sabtu (13/05/2017).

Single pertama mereka lahir dari lagu yang dituliskan adik kandung Erik Zent Tondang, yaitu almarhum Trino Tondang. Lagu yang berjudul “Dolok Suara” ini, ditulis tak lama sebelum kepergian Trino.

“Karya pertama ini, ibarat utang yang harus dibayar teman saya, Erik Zent Tondang sebagai seorang kakak kandung almarhum Trino. Lagu ini menjadi sebuah persembahan untuk mengenang Almarhum. Sebisa dan semampu kami berdua, kami kerjakan sepenuh hati, dan puji syukur pada Tuhan, karya itu akhirnya kami selesaikan dengan kesederhanaan materi yang kami punya,” terang Bram.

Erik Zent Tondang, pasangan duet Bram, dari kecil sudah kelihatan talentanya dalam bidang tarik suara. Dengan ciri khas pada suara tingginya, dan memiliki vokal yang nyaman ditelinga.

Kemudian Bram berkisah tentang lagu “Udan” yang ditulisnya sendiri. Niatnya menuliskan lagu ini semacam panggilan jiwa untuk menceritakan kenyataan hidup yang dialaminya.

Menurutnya, adegan berupa rangkaian sketsa dalam video lagu Udan, sepenuhnya pernah nyata terjadi.

“Jenis musik untuk lagu Udan ini, mungkin kurang akrab untuk sebagian orang. Pelafalan lirik Batak yang jauh berbeda dengan jenis musik Batak lainnya. Instrument gitar menjerit dan monoton menandakan rasa perih dan sakit. Vokal yang tinggi adalah jeritan tangis. Yang pasti, pernah menangisi kehidupan, yang bukan sekedar menangisi pacar atau yang lainnya. Kami berharap lagu ini bisa memberikan warna baru di industri musik Batak,” papar Bram.

Lagu Udan bercerita tentang perjalanan manusia mencari sesuatu yang terbaik, yang harus dibayar dengan hal yang paling berharga dalam hidup ini. Usaha dan kerja keras tidak selalu berbuah “yang terbaik”. Lagu ini menyampaikan pesan khusus bagi kalangan muda yang sedang berjuang di perantauan.

“Mungkin pernah meniatkan sesuatu dan berupaya dengan sekuat tenaga. Namun kita tidak selalu mendapat sesuatu itu. Lagu ini mengajarkan untuk kita tetap mensyukuri apa yang kita dapat,” sebut Bram lagi.

Menurutnya lagi, adegan bunuh diri pada draw dalam klip Udan, menjadi pertanyaan bagi banyak teman-temannya. Namun Bram menyebutkan, hal itu kenyataan yang sering terjadi di dalam kehidupan saat ini.

“Rasa putus asa yang berujung tak baik. Menjadi pelajaran berharga bagi saya dan mungkin bagi teman teman semua,” sebutnya.

Lagu Udan akhirnya selesai atas support dan kerjasama dengan Edison Manik selaku pemilik Channel Voice Sumatera, dan dibantu oleh Dian Manik (i-magh Photograph).

“Karya yang sederhana ini akhirnya selesai. Mauliate ma tu Tuhan. Horas…, Horas…, Horas…!” pungkas Bram. (rel/ajvg)

News Feed