oleh

Waketum Kadin: Ekonomi Sumut akan Tangguh dengan Pembangunan Empat Industri Prioritas

Medan, BatakToday

Rosan Perkasa Roeslani, Wakil Ketua Umum (Waketum) Kadin Indonesia Bidang Perbankan dan Finansial menilai, pelemahan ekonomi di berbagai daerah mengindikasikan perekonomian Indonesia masih menghadapi tantangan yang cukup berat. Kondisi ini sangat terasa di daerah yang masih mengandalkan komoditas sebagai penopang perekonomian masyarakat seperti di Sumut, mengakibatkan  melemahnya  kegiatan  sektor-sektor  utama  di daerah ini, sehingga berdampak pada menurunnya pendapatan yang menyebabkan melemahnya daya beli.

“Kami menilai hal ini disebabkan pertumbuhan yang fundamentalnya tidak kuat. Sumut mengandalkan produksi migas, batubara, dan CPO. Semuanya adalah komoditas yang harganya tergantung pada pasar dunia. Artinya kita lupa membangun fondasi industri yang kuat sebagai landasan ekonomi yang mandiri,” papar Rosan Roeslani dalam dialog dengan pengusaha di Hotel JW Marriot Medan, Kamis (15/10) malam.

Selain kalangan pengusaha, acara dialog tampak dihadiri Plt Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi, Ketua Komisi II DPD RI Parlindungan Purba, Ketua Kadin Sumut Ivan Iskandar Batubara, Wakil Ketua Umum KADIN bidang UMKM dan Koperasi Erwin Aksa, Waketum Bidang Energi dan Migas Wishnu Wardhana, Waketum bidang Industri Kreatif dan Mice Budyarto Linggowiyono, Waketum Bidang Industri Pengolahan Makanan dan Peternakan Juan Permata Adoe, dan Waketum Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto.

Untuk membentuk perekonomian yang kuat, menurut Rosan, Indonesia perlu membangun industri. Namun, pembangunan industri memerlukan waktu yang lama dan dana yang besar. Untuk itu, CEO Recapital Group ini mengusulkan solusi pembangunan industri berdasarkan industri prioritas. Untuk Sumatera Utara, menurut Rosan, ada empat industri prioritas, yaitu industri berbasis agrobisnis, industri berbasis komoditas,  industri berbasis kemaritiman, dan industri berbasis pariwisata.

“Mengapa keempat industri ini? Karena semua ini sudah dimiliki Sumut. Kita tinggal membangun fundasi bisnisnya dan memberikan nilai tambah pada produknya,”  tegas Rosan.

Menurut calon Ketua Umum Kadin Indonesia ini, pengembangan keempat jenis industri tersebut tidak membutuhkan biaya yang terlampau besar karena tinggal memanfaatkan potensi yang sudah dimiliki. Ia menambahkan, yang dibutuhkan saat ini adalah peningkatan kualitas SDM, teknologi untuk mengembangkan industri prioritas, dan dukungan infrastruktur listrik. Pengembangan industri prioritas akan menghasilkan diversifikasi produk andalan. Dengan demikian,  Sumut tidak hanya mengandalkan satu-dua produk unggulan sebagai pendongkrak ekonomi.

“Kita bisa belajar dari situasi saat ini. Karena kita hanya mengandalkan satu-dua produk, saat harganya jatuh di pasaran, ekonomi kita terancam ambruk. Itulah pentingnya diversifikasi produk industri,” sambung Rosan.

Menurut Rosan, pemerintah telah meluncurkan Paket Ekonomi Jilid III yang fokus menjadikan industri sebagai fondasi ekonomi Indonesia. Maka ini saat yang tepat bagi Sumut sebagai pionir untuk menjadikan industri sebagai pondasi baru perekonomian daerah yang kaya komoditas ini. Hal ini sangat mungkin tercapai karena Sumut memiliki potensi sumber daya mineral dan batubara yang melimpah, yang saat ini belum dimanfaatkan menjadi salah satu bahan bakar pembangkit listrik. Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, potensi batu bara di Sumut terdapat di tiga wilayah, yakni Nias, Mandailing Natal  dan Labuhan Batu Utara.

“Pekerjaan pertama yang harus dilakukan pemerintah dan swasta yaitu mempercepat pembangunan infrastruktur listrik agar mampu mengoptimalkan potensi batu bara yang melimpah, dan menghidupkan hilirisasi industri di Sumut,” tegas Rosan. Menurutnya, pembangunan pembangkit listrik dan optimalisasi penggunaannya untuk industri menjadi prioritas utama dibanding rencana pembangunan sarana prasarana fisik lainnya.

Rosan menekankan, faktor kesuksesan yang harus dipersiapkan dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah penguatan lembaga pemerintah maupun ekonomi daerah sebagai motor penggerak efektivitas pengaturan dan efisiensi pemanfaatan sumber daya ekonomi daerah melalui pengembangan produk inovatif dan kreatif  yang dapat mendorong pengembangan dan penguatan wirausaha.

Menurut Rosan, bagi Indonesia MEA ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi memberikan kesempatan bagi Indonesia memimpin perdagangan di Asia Tenggara, namun di sisi lain bisa-bisa Indonesia hanya menjadi lapak dagang negara tetangga.

Pada kesempatan yang sama, Plt Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi mengatakan bahwa Sumut dengan potensi yang ada butuh dukungan semua pihak, terutama dengan adanya empat wilayah strategis pengembangan ekonomi yang telah mendapat payung hukum dari pemerintah pusat dan sekaligus juga sebagai tatanan dan ruang bagi pengusaha.  Keempat wilayah strategis yaitu Mebidangro (Medan, Binjai, Deliserdang, Karo), Kawasan Industri Strategis Kuala Tanjung, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, dan Kawasan Pariwisata Terpadu Danau Toba.

“Sumut butuh dukungan dari semua pihak, termasuk investor. Sumut adalah provinsi dengan penduduk terbesar keempat setelah Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah, dengan populasi hampir 14 juta jiwa. Tentu bukan hanya pemerintah, tapi juga dukungan dari semua stakeholder akan dapat mengembangkan potensi yang dimiliki Sumut,” ujarnya. (AFR)

Keterangan foto:

Pengusaha peserta dialog berfoto bersama dengan Ketua Komite II DPD RI Parlindungan Purba di Hotel JW Marriot Medan, Kamis (15/10) malam.

News Feed