oleh

Women’s March Medan: Non Aktifkan Dosen HS, Bentuk TPF Independen

Medan, BatakToday

Women’s March Medan sangat menyesalkan sikap pimpinan Universitas Sumatera Utara (USU), yang dianggap terlalu lamban merespon kasus kekerasan seksual yang terjadi pada 3 Februari 2018 terhadap korban berinisial “D” oleh terduga pelaku HS, Dosen Departemen Sosiologi FISIP USU.

Women’s March Medan adalah koalisi organisasi dari beragam issu maupun individu-individu baik perempuan maupun laki-laki di Sumatera Utara yang memperjuangkan hak-hak perempuan atas keadilan, bebas dari diskriminasi dan segala bentuk kekerasan termasuk kekerasan seksual.

Mereka sangat menyesalkan dugaan kejadian kekerasan seksual yang menimpa “D” tersebut digolongkan ‘kasus relatif ringan’ dan hanya ditanggapi oleh Dekan dengan teguran berupa Peringatan Tertulis, sehingga pelaku masih aktif mengajar sampai saat ini. Bahkan ada indikasi pelaku sedang mengupayakan damai dengan korban dan keluarga korban.

Untuk itu, Women’s March Medan, melalui relisnya per tanggal 10 Juni 2019, menyampaikan 4 hal sebagai berikut :

  1. Mendesak kembali agar Rektor USU segera membentuk tim pencari fakta independen, dan sementara itu segera menon-aktifkan HS, dosen terindikasi pelaku. Sebab kasus pelecehan seksual adalah kejahatan serius, bukan kasus ‘relatif ringan’ sebagaimana tersebut dalam laporan Ketua Program Studi Sosiologi FISIP USU. Kekerasan seksual yang dilakukan oleh Dosen kepada mahasiswinya adalah kejahatan serius yang dilatar belakangi relasi kuasa yang timpang antara dosen dan mahasiswinya, dan khususnya antara laki-laki dan perempuan. Oleh karenanya, investigasi segera mendesak untuk dilaksanakan.
  2. Menghimbau semua mahasiswi yang pernah menjadi korban kekerasan seksual di FISIP USU menghubungi HOTLINE WCC SINCERITAS-PESADA di Nomor 081360173561. Kerahasiaan anda semua akan kami jamin.
  3. Mengulang himbauan kami sebelumnya agar FISIP USU memastikan jaminan keamanan “D” sebagai survivor, dilindungi kerahasiaan identitasnya, dan jaminan tidak ada tekanan dalam menyelesaikan skripsinya (dalam bentuk apapun dan oleh siapapun di lingkup USU).
  4. Sebagaimana kami sebut sebelumnya, “D” bukanlah satu-satunya korban, “D” hanya puncak gunung es yang terlihat dalam praktek kekerasan seksual dalam relasi kuasa yang timpang ini. Sampai saat ini kami telah mendengar lebih dari 3 orang korban, tetapi mereka memilih untuk diam.

Women’ March Medan juga meminta semua pihak agar berempati kepada “D” dan kepada para korban lain yang masih diam dan kami yakini saat ini sedang mengumpulkan keberanian untuk melapor.

Di akhir relisnya, Women’s March Medan menyatakan berdiri di samping ‘D’ dan seluruh korban untuk berempati dan ikut mengawal kasus ini.

“Korban tidak sendiri memperjuangkan hak-haknya atas keadilan, diskriminasi dan kekerasan seksual yang dialaminya,” demikian dukungan yang mereka sampaikan.

Dalam dukungan juga disebutkan, bahwa memberikan hak-hak korban kekerasan seksual merupakan perwujudan pemenuhan HAM oleh USU dan memastikan bahwa USU mampu mengatasi persoalan dengan pendekatan berbasis HAM.

Demikian pernyataan pers yang ditandatangani sejumlah perwakilan organisasi dan komunitas ini, diantaranya HAPSARI, Pesada, Women Human Rights Defender, FITRA Sumut, Bitra Indonesia, Srikandi Lestari, Aliansi Sumut Bersatu, BKP Kelas II Medan, Cangkang Queer, Perempuan Hari Ini, Human Rights Defender, AAI Sumut, KontraS Sumut, Bakumsu, Perempuan AMAN Sumut, LBH APIK Medan, Walhi Sumut, FJPI Sumut, Sirkam, dan KSPPM, serta sejumlah penandatangan atas nama pribadi, untuk memberikan dukungan pada “D” dan para korban kekerasan seksual lainnya di USU. (rel/ajvg)

News Feed