oleh

YPDT Laporkan Perusahaan KJA atas Dugaan Pencemaran Danau Toba

Medan, BatakToday

Yayasan Pecinta Danau Toba (YPDT) melaporkan dugaan pencemaran air Danau Toba yang melibatkan dua perusahaan keramba jaring apung (KJA) kepada Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut), Senin (21/01/2017) sekitar pukul 14.00 WIB.

Kedua perusahaan KJA yang diduga mencemarkan air danau adalah PT Aquafarm Nusantara dan PT. Suri Tani Pemuka (Grup JAPFA) yang beroperasi di perairan Danau Toba.

Sebelumnya, sekitar pukul 11.30 Wib, Ketua Umum YPDT Drs. Maruap Siahaan, MBA didampingi oleh Pengacara dari Tim Litigasi YPDT terdiri dari Robert Paruhum Siahaan SH, Deka Saputra Saragih SH, dan dan Denny Aliandu SH, telah terlebih dahulu mendaftarkan gugatannya sehubungan dengan Tata Usaha Negara dalam dugaan pencemaran ini ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan.

Danau Toba adalah danau kawah atau danau vulkanik terbesar di dunia, yang terletak di ketinggian 900 meter di atas permukaan laut, dengan panjang mencapai 87 kilometer dan lebarnya 27 kilometer dengan kedalaman mencapai lebih dari 500 meter.

Dengan ketinggian hampir 1 kilometer di atas permukaan laut dan dikelilingi oleh deretan gunung berapi yang merupakan bagian dari Pegunungan Bukit Barisan membuat Danau Toba begitu sejuk dan indah. Banyak pohon enau dan pinus yang tumbuh subur di sekeliling Danau Toba menambah keindahan danau ini.

Para leluhur Orang Batak khususnya yang hidup berdekatan dengan danau toba menjadikan air Danau Toba sebagai sumber air untuk aktivitas kehidupan masyarakat sehari-hari, yakni untuk diminum, untuk memasak nasi dan lauk, untuk mandi dan mencuci. Oleh karenanya, Orang Batak mempunyai perkataan yang menjadi title/julukan bagi Danau Toba yaitu “Tao Toba Nauli, Aek Natio, Mual Hangoluan” yang mempunyai arti “Danau Toba yang indah, airnya jernih dan merupakan sumber kehidupan”.

Tim Litigasi YPDT terdiri dari Robert Paruhum Siahaan, SH. (baju hijau), Denny Aliandu, SH (tengah), dan Deka Saputra Saragih, SH, saat mendaftarkan gugatan di PTUN Medan (ist)
Tim Litigasi YPDT Robert Paruhum Siahaan, SH. (baju hijau), Denny Aliandu, SH (tengah), dan Deka Saputra Saragih, SH, saat mendaftarkan gugatan di PTUN Medan (ist)

Secara kasat mata orang dapat menilai pencemaran air danau saat ini. Air Danau Toba yang dulunya adalah air golongan kelas 1 yang dapat diminum, sekarang menjadi kelas 2 dan kelas 3 yang notabene tidak dapat diminum lagi.

Dalam rilis yang diterima, disebutkan usaha budidaya ikan di Danau Toba  berakibat fatal. Seharusnya usaha budi daya ikan tersebut tidak diperbolehkan beroperasi di kawasan ini, karena usaha sejenis seharusnya hanya diperbolehkan di kawasan dengan air golongan kelas 2 dan kelas 3.

Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Wakil Bupati Samosir, Juang Sinaga, bahwa air danau yang digunakan 90 persen masyarakat Kabupaten Samosir.

Sementara Badan Lingkungan Hidup Sumatera Utara menyampaikan, 69 persen pencemaran air Danau Toba berasal dari kegiatan keramba ikan, akibat pakan ikan KJA yang mengendap di dasar danau.

Hal yang sama pun diungkapkan oleh Mantan Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli, dalam acara Malam Budaya Menyongsong Otorita Danau Toba yang digelar di Jakarta Pusat, pada hari Rabu, 25 Mei 2016.

Oleh karenanya Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli, menargetkan air Danau Toba sudah bersih sebelum Desember 2016.

Tanggapan tidak kalah pentingnya disampaikan Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke Desa Parparean, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir pada Sabtu, 20 Agustus 2016.

“Upaya pelestarian lingkungan hidup pada Danau Toba ini juga dapat mendukung program pemerintah untuk menjadikan Danau Toba sebagai salah satu destinasi wisata prioritas Indonesia untuk menjadi destinasi kelas dunia,” demikian disampaikan Presiden Jokowi saat itu.

Beberapa permasalahan di atas, khususnya KJA telah menjadi kajian Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) dalam dua tahun terakhir ini. Pada bulan November 2016, YPDT telah mengambil sampel air dari beberapa titik beroperasinya PT Aquafarm Nusantara dan PT Suri Tani Pemuka (Grup JAPFA) di perairan Danau Toba, termasuk dengan melakukan penyelaman di titik lokasi yang telah ditentukan.

Hasil pengujian yang dilakukan oleh YPDT (menggandeng lembaga pengujian profesional dan independen) pada bulan Desember 2016 menunjukkan bahwa air Danau Toba telah tercemar.

Berdasarkan sejumlah hal seperti dijelaskan di atas, maka YPDT sebagai Organisasi Lingkungan Hidup untuk kawasan Danau Toba menindaklanjuti hasil penelitian yang dilakukan, dengan membuat laporan dugaan pencemaran lingkungan hidup yang terjadi pada air Danau Toba ke Polda Sumut, dan mendaftarkan gugatan yang berhubungan dengan Tata Usaha Negara ke PTUN Medan. (rel/ajvg)

News Feed